Keterangan foto: Pada 16 Desember 2015 pukul 2 sore waktu Amerika Serikat, Bank Federal AS atau lebih dikenal The Fed mengumumkan akan menaikkan suku bunga dasar dari 0-0,25% menjadi 0,25%-0.5% atau naik sebesar 0,25%. (Gedung The Fed oleh: KAREN BLEIER/AFP/Getty Images)

Oleh: Ding Lukai

Dinaikkannya suku bunga oleh The Fed adalah suatu peristiwa besar dunia, di era globalisasi seperti sekarang ini, tindakan The Fed tersebut mutlak berdampak terhadap RRT. Akan tetapi acap kali pihak luar hanya fokus pada dampak ekonomi yang timbul pada RRT dengan dinaikkannya suku bunga oleh The Fed, seperti akan melemahnya mata uang RMB, dana aset akan mengalir keluar, saham kelas A akan berfluktuasi, bursa properti akan hancur, serta krisis hutang dan lain sebagainya.

Ekonomi dan politik saling berkaitan erat, dinaikkannya suku bunga oleh The Fed tentunya akan berdampak terhadap perekonomian RRT, juga pasti akan mempengaruhi politik di negara tirai bambu. Dari sisi lain, The Fed menaikkan suku bunga, dalam tahap tertentu mungkin akan memperburuk posisi saling berseberangannya bentuk ideologi di balik kedua negara ekonomi besar yakni RRT dan AS, mengakibatkan makin sengitnya pertikaian politik kedua negara, yang akan mengarah pada perubahan yang mendalam namun unik terhadap peta politik dunia.

Tapi kenaikan suku bunga The Fed pada dasarnya hanya faktor eksternal, untuk mempengaruhi politik di RRT harus terlebih dahulu menggabungkannya dengan faktor internal di Tiongkok. Di tengah masyarakat Tiongkok saat ini, terdapat dua tren politik. Pertama adalah konflik sengit antara kubu Jiang Zemin melawan kubu penguasa Xi Jinping yang masih akan terus berlanjut. Kedua adalah kehancuran PKT tak terelakkan lagi, RRT akan mengalami suatu perubahan teramat besar.

Contohnya adalah bencana di bursa efek Tiongkok pada Juni dan Juli lalu. Bencana tersebut sangat erat kaitannya dengan terus merosotnya perekonomian Tiongkok, merupakan fenomena goyahnya PKT, serta merupakan manifestasi PKT sedang mengarah pada kehancuran. Namun di tengah proses ini, juga membawa konflik antara kubu Jiang dengan kubu Xi. Menurut narasumber kelompok Jiang sengaja mengosongkan saham kelompok A sehingga dianggap sebagai “kudeta ekonomi” oleh kubu Xi Jinping. Oleh karena itu, anjloknya bursa waktu itu tidak murni peristiwa ekonomi semata, melainkan juga kejadian bernuansa politik.

Naiknya suku bunga The Fed kali ini juga demikian. Meskipun awalnya ini hanya merupakan peristiwa ekonomi, namun jika menyebabkan mata uang RMB melemah drastis, dana aset mengalir keluar, bursa properti rontok, serta krisis hutang tiba-tiba merebak, maka keseluruhan peristiwa tersebut akan memuat nuansa politik yang kental, bersamaan dengan pengaruhnya mengguncang politik di Tiongkok, maka pada tahap tertentu peristiwa ini juga bisa dikatakan merupakan peristiwa politik.

Dari kondisi sekarang bisa dilihat pemerintahan Xi Jinping sedang menempuh banyak cara untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi RRT, sembari terus melakukan reformasi atau perombakan struktural untuk menghindari terjadinya berbagai kemungkinan krisis. Sementara kelompok Jiang Zemin adalah kelompok berkepentingan yang tentunya tidak akan mau mendukung upaya Xi Jinping, sebaliknya justru akan melakukan berbagai cara untuk mengganggu dan merusak kebijakan pemerintahan Xi, serta berambisi memanfaatkan krisis ekonomi ini untuk memaksa Xi Jinping dilengserkan dari jabatannya.

Oleh karena itu perseteruan politik antara kubu Xi Jinping dengan Jiang Zemin akan semakin terbuka. Pada kondisi Xi Jinping menguasai militer sekarang ini, aksi pembersihannya terhadap kelompok Jiang tidak akan pernah berhenti. Fokus dari konflik Xi dengan Jiang saat ini telah terpusat pada dua permasalahan besar, yakni apakah perlu secara terbuka menangkap Jiang Zemin dan Zeng Qinghong, dan haruskah ketiga antek Jiang yang duduk pada Dewan Komisi Tetap Politbiro Pusat yaitu Zhang Dejiang, Liu Yunshan dan Zhang Gaoli ditangkap.

Disaat yang sama Xi Jinping juga menghadapi masalah besar lainnya, yakni di kalangan pejabat terdapat budaya “berpangku tangan”. Ini adalah salah satu sisi negatif yang ditimbulkan oleh system birokrasi komunis PKT, “berpangku tangan” tidak melakukan apa pun telah menjadi “strategi jitu” untuk menyelamatkan diri masing-masing pejabat. Di sisi lain, pada arus anti-korupsi yang sedang berlangsung ini, setelah aturan “diam-diam meraup rejeki” ala Jiang Zemin telah hancur berantakan, para pejabat yang lebih berpihak pada kubu Jiang diam-diam juga beramai-ramai menentang kebijakan Xi Jinping.

Bisa dikatakan, lingkungan pemerintahan yang dihadapi Xi Jinping saat ini penuh jebakan dan perangkap. Xi Jinping harus membuka jalan baru, jika tidak ia akan dikalahkan oleh krisis ekonomi yang meletus tiba-tiba, dan akan dilahap habis oleh kelompok Jiang Zemin dengan memanfaatkan sistem PKT. Inilah kunci paling krusial Xi Jinping hendak meninggalkan sistem komunis dan membubarkan PKT. Dalam sejarah perjalanan yang dialami Hu Yaobang (sekjen PKT 1980-1987) dan Zhao Ziyang (sekjen dan PM PKT 1987-1989) membuktikan, sebaik apapun bekerja bagi partai komunis pada akhirnya tidak akan berakhir baik, karena PKT menganut pemikiran menyingkirkan yang baik, para preman yang bersembunyi di tempat-tempat gelap mengintai sewaktu-waktu.

Dinaikkannya suku bunga The Fed kali ini, adalah sebuah tantangan bagi Tiongkok. Tapi di sisi lain, jika pemerintahan Xi Jinping mempercepat globalisasi RMB, sekaligus menjalankan reformasi sistem politik dan ekonomi yang sesungguhnya, maka kenaikan suku bunga The Fed ini justru akan menjadi peluang bersejarah bagi pemerintahan Xi untuk mendobrak sistem komunis. Bahkan mungkin dengan sendirinya Xi Jinping secara logis akan membuka lembaran baru era reformasi Tiongkok. (sud/ whs/rmat)

Share

Video Popular