Suasana konfrensi pers refleksi akhir tahun 2015 PPTAK di Jakarta (Foto : M.Asari/Erabaru.net)

JAKARTA – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) membekukan total dana Rp 2.083.684.874 yang berkaitan dengan kegiatan terorisme. Pengungkapan dana terorisme yang diantaranya berasal dari Australia ini merupakan kerjasama Australian Transaction Report and Analysis Center (AUSTRAC) dengan PPATK.

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Muhammad Yusuf mengatakan dana tersebut berasal dari 26 rekening berbeda bahkan ada aliran dana berasal dari Australia. Pengungkapan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen tinggi untuk pencegahan tindak pidana terorisme.

“PPATK meminta OJK untuk membekukan Rp 2 milyar sekian, ditambah dolar. Ini bukti komitmen tinggi pencegahan terorisme,” kata Yusuf saat jumpa pers ‘Refleksi Akhir Tahun 2015’ di Gedung PPATK, Jakarta Pusat, Senin (28/12/2015).

Pembekuan dana kegiatan terorisme itu dilakukan setelah Indonesia menerbitkan peraturan bersama mengenai Pencantuman Identitas Orang dan Korporasi Dalam Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris, dan Pemblokiran Secara Serta Merta Atas Dana Milik Orang atau Korporasi yang Terancum Dalam Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris.

Upaya kerjasama PPATK ini dilakukan bersama Mahkamah Agung, Kementerian Luar Negeri, Kepolisian dan BNPT. Kerjasama sama ini untuk memenuhi rekomenasi yang disampaikan oleh Lembaga antipencucian uang internasional, Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF). Hingga kemudian pada saat ini terdapat 364 individu teerdaftar sebagai teroris melalui penetapan oleh PN Jakarta Pusat, dan 17 entitas yang terlibat di dalamnya termasuk pembekuan Rp 2 miliar lebih ditambah dolar.

Langkah selanjutnya ditingkatkan dengan kerjasama PPATK Australia yakni Australian Transaction Reports and Analysis Centre (AUSTRAC). Bentuk kerjasama yang dilakukan yakni penempatan sejumlah pegawai PPATK hingga membuahkan hasil cukup bagus. Kerjasama ini berhasil mengendus seorang warga Australia yang mengalirkan dananya ke Indonesia. Namun sang penyalur dana, akhirnya tewas di Suriah.

Yusuf menuturkan aliran dana masuk ke Indonesia melalui Yayasan yang berafiliasi kepada berbagai wadah yakni sosial dan keagamaan. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PPATK jumlah yayasan tersebut mencapai 130.000 yayasan. Dia membeberkan misalnya dari seorang warga Australia berinisial L dengan modus sumbangan ke Yayasan di Indonesia.

Oleh karena itu, PPATK akan membuat regulasi untuk pengawasan lebih ketat terkait aliran dana-dana yang masuk pada sejumlah Yayasan. Jika Yayasan tersebut bersifat sosial maka harus memberikan laporan kepada Kementerian Sosial, jika kemudian berafliasi kepada agama maka harus melaporkan kepada Kementerian Agama. Sehingga ke depan semua dana yang mengalir bisa diaudit agar tak menyalahi sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Sementara Wakil Kepala PPATK, Agus Santoso mengatakan, aliran dana tak hanya mengalir kepada satu orang semata namun sambung menyambung hingga lima atau dua orang berjaringan. Dana yang dialirkan tersebut terindikasi digunakan untuk pelatihan, pengumpulan calon kader dan kepada keluarga termasuk janda.

Dia membandingkan saat berada di PPATK sejak tiga tahun lalu, dana yang digunakan oleh teroris masih dalam jumlah kecil. Uang yang dikirimkan lewat ATM pada saat itu masih berjumlah Rp 50.000 dan Rp 500.000. Angka tersebut berbeda hingga saat ini yang sudah meningkat hingga miliaran rupiah.

Menurut dia, kisaran dana yang besar tersebut bahkan diwujdkan dalam bentuk usaha. Mereka sudah melakukan sejumlah kegiatan unit usaha seperti jual buku, obat herbal, bahan garmen dan usaha toko kimia. Perkembangan usaha hingga pada penjualan bahan kimia perlu diwaspadai karena akses untuk bahan peledak. Oleh karena itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu mengawasi lebih luas.

“Tiga tahun lalu teroris masih kecil-kecilan (dana) kini sudah punya usaha garmen dan bahan kimia,” ujarnya.

Beberapa waktu disampaikan berdasarkan kerja sama PPATK dengan lembaga PPATK Australia, AUSTRAC bahwa berhasil ditemukan pengiriman uang terkait tindakan dan kegiatan terorisme dari Australia ke Indonesia hingga mencapai Rp7 miliar. Dana ini dikirim dari seorang warga Australia dan dinyatakan sebagai sosok yang berbahaya di negeri kangguru itu. (asr)

Share

Video Popular