Keterangan foto: Menengok kembali sepanjang tahun 2015, setiap peristiwa di masyarakat daratan Tiongkok adalah perlawanan rakyat demi memperjuangkan hak hidup yang paling mendasar. (foto Dajiyuan)

Oleh: Gu Xiaohua

Pada 2015 bagi RRT bukanlah tahun yang tenang. Bencana dan musibah menerpa silih berganti, situasi politik yang misterius, para pejabat tinggi satu persatu dilengserkan, aksi memperjuangkan hak warga pun bermunculan di sana sini. Skala aksi massa dan sengitnya konflik yang terjadi pada tahun ini jauh melampaui tahun-tahun sebelumnya.

Menilik peristiwa aksi massa di sepanjang 2015, mulai dari frekuensi aksi massa, jumlah demonstran, serta konflik antara massa dengan polisi yang terjadi, bentrok yang paling sengit dan paling sering terjadi adalah berkenaan dengan lokasi pembuangan sampah, proyek PX, dan peristiwa terkait masalah lingkungan hidup. Pada urutan kedua adalah masalah investor yang dirugikan, tuntutan kenaikan upah buruh, warga desa yang menuntut ganti rugi tanahnya yang dicaplok paksa, dan berbagai peristiwa memperjuangkan hak warga lainnya. Setiap konflik yang terjadi adalah aksi perlawanan warga Tiongkok menuntut hak kehidupan mereka yang paling mendasar. Menurut laporan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam “Buku Biru Masyarakat: Analisa dan Prakiraan Tren Masyarakat Tiongkok 2014” diungkapkan, bahwa peristiwa perlawanan masyarakat di Tiongkok melonjak secara mengejutkan sebesar 30% setiap tahunnya.

Pengamat situasi dan politik bernama Zhong Sheng pernah menulis dalam artikelnya: masyarakat Tiongkok sudah mulai sadar, dan sedang mengalami gerakan kesadaran mental yang belum pernah terjadi sebelumnya. Masyarakat mulai memikirkan secara serius makna eksistensi dirinya, mulai sadar akan hak dan kewajibannya. Di Tiongkok sedang terjadi revolusi atas inisiatif warga tanpa pemimpin, warga Tiongkok sedang menggunakan cara apa saja untuk menyampaikan kebencian dan cemoohnya terhadap pemerintahan PKT. Seiring dengan meletusnya efek busa perekonomian PKT telah menebar benih-benih perlawanan berskala besar di seantero negeri Tiongkok yang sewaktu-waktu dapat meletus begitu ada sedikit percikan saja. Semua itu dipastikan akan mengguncang pemerintahan PKT.

1. Pabrik Farmasi Henan Buang Air dan Gas Limbah, Warga Rusak Pabrik

16 Januari lalu, gas buangan dari pabrik farmasi Pu Kang di kota Nanyang kabupaten Zhenping propinsi Henan berikut liimbah air dari pabrik tersebut diungkap oleh media massa, berita tersebut memicu sorotan warga kota. Namun pabrik itu dua kali tidak mengindahkan pemberitahuan agar menghentikan produksi untuk mengatasi kasus tersebut. Pada 21 Januari puluhan ribu warga mendatangi pabrik untuk meminta penjelasan, dan membawa spanduk bertuliskan “Tolak polusi, hentikan produksi” untuk berunjuk rasa.

Pu Kang Pharmaceutical Co. Ltd. adalah produsen Linkomisin Hidroklorida terbesar di dunia. Sejak berinvestasi pada 2004, air limbah dan gas beracun dari pabrik telah mencemari hilir sungai dan lingkungan sekitar tempat tinggal warga, penderita kanker, kardiovaskular atau jantung, penyakit kulit, dan kelainan janin telah meningkat drastis.

2. Ribuan Warga Guangdong Protes Pencaplokan Tanah, Kepung Stasiun KA

Sepanjang 2015 aksi protes warga desa di berbagai propinsi terhadap pencaplokan tanah dan ganti rugi pembebasan tanah yang sarat KKN terus bermunculan, karena tidak ada penyelesaian dari pihak pemerintah, akhirnya aksi protes pun mengarah pada konflik berskala besar. Ribuan hektar tanah di desa Mashan kota Puning propinsi Guangdong dicaplok oleh pengusaha yang berkolusi dengan pemerintah setempat, uang ganti rugi atas pembebasan tanah tersebut digelapkan oleh pejabat korup. Sejak September 2014 ribuan warga desa berkali-kali berusaha meraih kembali haknya. Hingga Maret 2015 luapan emosi warga akhirnya dilampiaskan pada direktur Xinyu Textile Company yang mencaplok tanah mereka, perusahaan itu dirusak oleh warga desa, pemerintah setempat mengirim pasukan anti huru-hara untuk meredam konflik.

Pada 6 April, pejabat kota Jieyang menyatakan seorang warga desa bernama Luo Jinrong yang ditangkap dalam kasus pembebasan lahan KA-cepat meninggal karena tak berhasil diselamatkan dari serangan jantung. Warga desa mengungkapkan, kasus seperti Luo Jinrong yang dinyatakan meninggal tak lama setelah dijebloskan ke dalam penjara sudah sering terjadi, ada juga warga desa yang memperjuangkan haknya dianiaya hingga tewas setelah ditangkap, oleh karena itu warga desa pun meragukan penyebab kematian Luo Jinrong tersebut. Pihak pemerintah setempat memblokir berita itu dan mensensor internet. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

 

Share

Video Popular