Keterangan gambar: Salah satu hotel di Lapland, (foto internnet)

Oleh CNA Stockholm

Pihak berwenang Swedia pada 2 bulan lalu menempatkan untuk sementara sedikitnya 600 orang pengungsi asal Suriah, Afghanistan dan Eritrea di penginapan yang berada dalam wilayah kutub utara. Mereka mulai merasa frustasi, mengeluh bahwa mereka ingin melihat matahari, “Paling tidak sekali-kali.”

“Kami terakhir kali melihat matahari sudah 1,5 bulan yang lalu,” keluh Hakim Akhbari, seorang pengungsi asal Afghanistan (31) seperti dilaporkan Daily Telegraph. Hakim adalah seorang penterjemah yang membantu organisasi penyelamatan internasional sebelum melarikan diri dari Kabul.

170.000 orang pengungsi yang mencari suaka masuk Swedia, angka yang kurang lebih sama dengan jumlah penduduk kota terbesar keempat Swedia, Uppsala County. Jadi rata-rata per seribu penduduk memiliki 17 orang pengungsi yang hitung punya hitung jauh lebih banyak dari negara Eropa lainnya.

Swedia perlu mencarikan tempat yang lebih ‘nyaman’ bagi para pengungsi yang mereka tampung. Pada Oktober lalu, Kantor Imigrasi Swedia memutuskan untuk menempatkan para pengungsi yang jumlahnya lebih dari 600 orang itu di resort hotel di Lapland yang berada dalam wilayah kutub utara. Ini merupakan tempat paling utara yang disediakan bagi pecinta olahraga ski untuk berlatih sambil berlibur. Hampir sepanjang tahun bercuaca dingin dan gelap karena lemah cahaya matahari. Hotel tidak jarang ditutup untuk sementara waktu bila sedang minim pengungjung.

Pada Oktober saat para pengungsi baru tiba, pengurus hotel menyediakan untuk anak-anak pengungsi kereta luncur untuk bermain salju. Menyusun acara hiking bagi yang dewasa, mengunjungi danau beku yang terpencil, mendatangkan pelatih tinju untuk mengajarkan cara bertinju di dalam ruang kebugaran yang tersedia. Pejabat pemerintah Kiruna, kota terdekat menugaskan beberapa pendidik yang sudah pensiun untuk memberikan pelajaran bahasa Swedia secara cuma-cuma kepada anak-anak pengungsi itu.

Meskipun iklim bumi tahun ini lebih panas, suhu udara hanya berada di kisaran minus 10 derajat Celcius. Namun setelah 2 bulan berada di sana, Marwan Arkawi, pengungsi asal Suriah mengeluhkan bahwa rasa terisolir dan tanpa harapan mulai menyelimuti pikiran para pengungsi.

“Lebih tepat dikatakan bahwa saya dikurung di sini, karena tidak bisa pergi ke mana-mana. Layaknya Hotel California tetapi tanpa cahaya matahari dan makanannya pun buruk. Jiwa dan raga kita semua terasa tertekan olehnya,” kata Marwan.

Hanya anak-anak asal Afghanistan yang masuk pengecualian. Mereka masih bisa bermain dengan senang di udara bebas.

“Saya pikir tubuh mereka itu sepertinya dibuat dari baja. Memang orang-orang Afghanistan lebih mudah menyesuaikan diri, jadi gampang beradaptasi dalam cuaca seperti ini. Kami memang terisolir dan seolah-olah berada di luar dunia. Tetapi lebih baik daripada menghadapi pemboman,” kata Marwan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular