Keterangan foto: Setelah warga Jinzhao bentrok dengan ribuan polisi tanggal 29 November, keesokan harinya (30/11) warga mendatangi kantor pemkot, lagi-lagi warga dihadang gas air mata dari polisi, yang juga melepaskan tembakan pistol, belasan warga desa terluka. (foto internet)

Oleh: Gu Xiaohua

3. Puluhan Ribu Warga Guangdong Protes TPA, Hancurkan Kantor Polisi

Pada 6 April silam, ribuan warga desa Langtang, kota Luoding, provinsi Guangdong, menentang tempat pembakaran sampah yang dibangun oleh China Resources Cement (Luoding) Co. Ltd. dengan cara mengepung pabrik semen tersebut namun dihadang oleh polisi yang melakukan penganiayaan, banyak korban luka-luka, termasuk seorang bocah berusia 11 tahun yang membawa spanduk. Penganiayaan tersebut memicu kemarahan warga, bentrok kedua belah pihak pun terjadi.

Seorang wanita bermarga Liu menyatakan pada reporter Epoch Times, “Polisi itu memukul bocah 11 tahun tersebut dengan pentungan, warga desa pun menerjang polisi, melihat gelagat itu polisi mulai memukuli warga, telepon genggam yang terlihat dihancurkan, 3 buah gas air mata ditembakkan, sekitar 50-60 orang warga desa dibawa pergi, warga desa sama sekali tidak mampu melawan tindakan represif polisi.”

Keesokan hari 7 April, peristiwa itu semakin memanas. Puluhan ribu warga menyiapkan botol bensin, tongkat kayu, batu, dan lain-lain, berpawai mulai dari kantor pemkot hingga ke pabrik semen dan mengepung kedua gerbang pabrik tersebut. Warga menghadang truk milik perusahaan itu yang hendak keluar mengirim barang, sekaligus menuntut agar polisi membebaskan warga yang ditahan sehari sebelumnya. Puluhan polisi khusus yang dikerahkan mulai memukuli warga demonstran, yang kemudian mulai menghancurkan gerbang pabrik dan menghancurkan kantornya, sekaligus juga menghancurkan kantor polisi Langtang yang bersebelahan dengan pabrik semen.

Berkat perlawanan warga itu, keesokan harinya tanggal 8 April pemerintah setempat mengumumkan proyek tempat pembakaran sampah tersebut dibatalkan.

Pabrik semen “China Resource” membangun tempat pembuangan limbah padat di kota itu untuk kemudian dibakar. Proyek tersebut berlokasi hanya 2-3 kilometer dari pusat kota, belum mendapat ijin lingkungan hidup, apalagi dibangun tanpa mendapat persetujuan dari warga sekitar, sehingga ditentang warga setempat. Selain itu pabrik semen tersebut juga telah mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan. Warga desa juga kerap mengalami pusing tanpa sebab yang jelas, dan karena pabrik semen membuang air limbah ke sungai, ikan-ikan di sungai banyak yang mati.

4. Warga Sichuan Pawai, Bentrok Sengit Dengan Polisi

16-17 Mei puluhan ribu warga kota Guangan kabupaten Linshui propinsi Sichuan pawai berunjuk rasa menentang pemerintah mengubah jalur KA yang awalnya direncanakan melewati Linshui, yang akan dialihkan menjadi melewati Guangan. Warga terlibat bentrok dengan polisi Guangan, kemudian pasukan militer intervensi dalam konflik tersebut. Di petang hari itu polisi menembakkan gas air mata mengusir massa, juga menangkap warga. Menurut nara sumber warga yang ditangkap lebih dari 20 orang, termasuk seorang wanita muda.

5. Warga Shanghai Unjuk Rasa Seminggu Tolak Proyek PX

Dimulai pada 22 Juni selama seminggu berturut-turut, puluhan ribu warga wilayah Jinshan kota Shanghai berunjuk rasa menentang proyek PX. Ribuan warga mengepung pintu kantor pemerintah, ratusan polisi bersiaga memblokir jalan raya Jinshan. Selama unjuk rasa sempat terjadi konflik berskala kecil antar kedua belah pihak, sambil meneriakkan slogan “kembalikan Jinshan” massa melemparkan botol air mineral ke arah polisi yang kemudian mengeluarkan pistol menakuti warga, seorang pemuda 17 tahun yang membawa spanduk ditangkap.

Di wilayah Jinshan terdapat kawasan industri Shanghai Chemical Industrial Park dan China Sinopec Shanghai Petrochemical Co. Ltd. Sinopec berencana mengucurkan dana untuk membangun perusahaan petrokimia baru di wilayah Jinshan yang mencakup kilang minyak dengan kapasitas 20 juta ton dan produksi etilen sebesar 1 juta ton per tahun, dan setelah pabrik baru selesai dibangun, fasilitas lama Sinopec Shanghai Gaoqiao akan dipindahkan. Menurut informasi, proyek tersebut dibatalkan karena protes warga.

6. Kredit Pinjaman Rakyat Kolaps, Protes Investor Skala Besar Tuntut Hak

Tahun 2015, kredit pinjaman rakyat dan perusahaan penjaminan keuangan mengalami efek domino yang terus berjatuhan, kemudian menjadi sumbu pemicu protes warga yang menuntut haknya. Investor korban kerugian di berbagai daerah berunjuk rasa menuntut haknya, salah satu perusahaan terbesar dunia yakni Kunming Pan-Asia Non-Ferrous Exchange (disingkat Pan-Asia Exchange) telah mengalami krisis bayar yang menjadikannya sebagai kasus terbesar tahun ini, kasus ini melibatkan 27 propinsi dan terdiri dari 220.000 orang investor, total dana investasi mencapai RMB 40 milyar Yuan.

Sejak April tahun ini, Pan-Asia Exchange mengumumkan pada para investornya bahwa pihak perusahaan tidak mampu membayar dana pokok investor karena kekurangan dana, dan karena ijin perusahaan tersebut telah dicabut, investor tidak bisa mendapatkan imbal hasil investasinya. Oleh karena itu, sejak pertengahan Juli lalu, investor mulai melancarkan serangkaian aksi menuntut haknya.

Investor menyatakan, kebanyakan investor Pan-Asia adalah rakyat biasa yang tidak bekerja atau pensiunan, dana sebesar RMB 40 milyar milik 220.000 investor jika dirata-ratakan berarti setiap orang menginvestasikan lebih dari seratus ribu yuan. Sampai saat ini sebagian besar investor masih belum menyadari dirinya dalam kesulitan, seiring dengan terus berlanjutnya aksi unjuk rasa dan sorotan media massa, diyakini puluhan ribu korban investasi ini akan ikut ambil bagian dalam unjuk rasa ini, skala pesertanya akan terus meningkat.

Pan-Asia Exchange didirikan pada tahun 2011 berkantor pusat di Kunming, propinsi Yunnan. Dalam promosi disebutkan tanpa resiko, pendapatan tetap, dan bebas keluar masuk. Waktu itu pemprov Yunnan bertindak sebagai penjamin, dan stasiun CCTV-2 gembar gembor mempromosikannya sehingga banyak warga tertarik berinvestasi, dana investasi pun menggelembung cepat mencapai RMB 40 milyar (84,2 trilliun rupiah). (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

 

Share

Video Popular