Mark dahulu adalah kepala kantor polisi yang bertanggung jawab terhadap bagian kriminal, pernah pula menjabat sebagai wakil kepala polisi, pernah menjabat sebagai sekretaris jendral, tidak peduli menjabat dalam posisi yang manapun dia selalu menjalankan tugasnya dengan tekun dan tampil dalam keadaan terpuji.

Karena posisi jabatannya adalah yang selalu didambakan dan diincar orang, untuk mempertahankan jabatannya, dia telah bekerja keras, sehingga ketika ayahnya meninggal dia tidak mengantar ke pemakamannya, hanya saudaranya yang mengurus semua hal tersebut; ibu sakit parah, dia juga tidak pulang untuk menjenguknya, ketika istrinya dirawat di rumah sakit, dia jarang membesuknya; ketika berjanji untuk menghadiri wisuda anaknya, hasilnya hanya janji kosong. Selalu ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya.

Kemudian pada masa jabatannya memasuki periode ke tiga kali, beberapa bawahannya menerima suap, dituntut ke pengadilan, karena dia yang bertanggung jawab kepada bawahan dia terpaksa mengundurkan diri. Setelah mengundurkan diri, dan menjadi pengangguran tiba-tiba dia merasakan waktunya tersisa sangat banyak, tetapi ketika ia ingin membayar hutang-hutang janjinya kepada anggota keluarga atau teman-temannya, dia menemukan tidak hanya teman-teman yang menjauhinya, bahkan hubungan keluarga juga sangat buruk.

Jika di balik ketenaran dan kekayaan, diperoleh dari mengorbankan teman dan keluarga, apakah layak untuk diperoleh? Dan apa lagi aset yang tidak berwujud, seperti: orang tua, istri, anak-anak dari keluarga, atau tetangga, kolega, teman, semua ini tidak bisa dibeli dengan uang. Singkatnya, kekayaan yang berwujud tidak dapat menggantikan kekayaan dalam jiwa. Pikirkan tentang hal ini, jika kekayaan jiwa hilang, berapa banyakpun kekayaan berwujud apakah masih berguna?

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular