Keterangan foto: Sebelum pelatihan Boot Camp setiap orang diberi kesempatan untuk menelepon keluarga di rumah. “Ada orang yang beranggapan jika menerima kupon makan dan tunjangan sosial dari pemerintah AS akan berdampak terhadap proses aplikasi Green Card dan kewarganegaraan, tidak akan! Anda terima saja, karena Anda semua ditindas di negara Anda, kondisi ekonomi pasti tidak baik.” demikian penjelasan dari perekrut. Mendengar itu hati terasa haru. (internet)

Oleh : Mu Chunxiao

Suasana Keberangkatan yang menegangkan

Hari kedua saya bangun pukul 04:30 pagi, dengan kendaraan AL saya tiba di rumah sakit di South Bay untuk pemeriksaan fisik di rumah sakit yang telah beberapa kali saya kunjungi. Sesampainya di sana seperti biasa pintu rumah sakit belum dibuka. Kami menyusun beberapa barisan dan berdiri di depan pintu. Dalam hati saya berhitung, mulai dari ujian, pemeriksaan fisik, periksa ulang mata, dua kali pemilihan pekerjaan, ditambah kali ini, berarti sudah 6 kali saya kesini; entah ada orang yang datang lebih sering daripada saya atau tidak.

Buka pintu, pemeriksaan keamanan, bubuhkan sidik jari, lalu setelah pemeriksaan fisik tiba waktunya untuk inspeksi level gaji. Perwira perekrut memutuskan level gaji (pay grade) kami sesuai dengan tingkat pendidikan, di rumah sakit pihak AL melakukan inspeksi sekali lagi. Seorang wanita paruh baya berpakaian sipil bertanya pada saya, Anda E3 bukan? Saya menjawab ya. Saya sempat bertanya, bagaimana penentuan level gaji, dia mengatakan lulusan SMA adalah E1, sarjana ke atas adalah E3. Drop-out kuliah level gaji ditentukan berdasarkan kredit yang terkumpul, bisa E1 atau E2. Setiba di tim pelatihan (boot camp), menjelang kelulusan, AL akan menginspeksi sekali lagi. Bagaimana? Pekerjaan AL cukup detil bukan?

Mencocokkan level gaji di rumah sakit juga di luar dugaan. AL Amerika Serikat memandang kesehatan personel adalah nomor satu, segala sesuatu harus dilakukan di rumah sakit.

Selesai pemeriksaan kesehatan, segala pekerjaan sebelum keberangkatan telah rampung, pihak rumah sakit memberikan satu amplop dokumen berwarna kuning kepada setiap orang. Ini adalah peraturan AL, seluruh dokumen yang harus dibawa setiap kali perjalanan dinas harus dimasukkan ke dalam amplop kuning tersebut, amplop itu harus dipegang di tangan, tidak boleh dimasukkan ke dalam tas, terlebih lagi tidak boleh masuk ke dalam koper bagasi.

Lalu rumah sakit memutarkan rekaman penjelasan akan hal-hal yang wajib kami ketahui saat perjalanan dinas, lengkap dengan simulasi tentang bagaimana harus bertindak jika terjadi sesuatu di perjalanan. Biasanya kami bepergian beberapa orang berbarengan, rekaman video itu menjelaskan agar kami tidak terpisah dari barisan, dan bagaimana harus bertindak jika sampai terpisah. Jika pemimpin barisan mendapati ada anggota terpisah, harus melapor kepada siapa, tidak bisa membiarkan perjalanan tertunda hanya karena satu orang. Mungkin hal seperti ini sudah biasa bagi orang yang hidup di Amerika, tapi bagi imigran baru seperti saya, lagi-lagi saya bisa merasakan betapa AS sangat memperhatikan setiap warga berikut keselamatannya.

Kami bertujuh tiba di bandara South Bay. Dua orang mengambil tiket pesawat langsung ke Chicago, sisa kami berlima harus transit. Diantara kami berlima ada seorang wanita Filipina, namanya Wolata. Sambil duduk saya membalikkan tiket pesawat, di baliknya terdapat selembar cek untuk biaya makan kami di perjalanan, karena di perjalanan kami harus makan siang dan makan malam. Tertulis keterangan cek milik pemerintah, hanya dapat digunakan untuk membeli makanan, dan hanya berlaku hingga bulan Oktober. Salah seorang pria tidak tahu cara menggunakan cek, ia membeli makanan dengan uang tunai. Wanita Filipina itu tidak menggunakan uang sendiri, juga tidak menggunakan cek. Tiba di kamp pelatihan, sambil memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya dia mengembalikan cek itu pada perwira pelatih, kebetulan pada saat itu saya lewat dan melihatnya. Dengan ekspresi “aneh” perwira itu berkata padanya simpan saja. Jika cek itu tidak digunakan, biarkan saja cek itu habis masa berlakunya, tidak perlu menunjukkan pada perwira pelatih betapa kita sangat menghargai aset milik pemerintah. Perilaku seperti ini sebenarnya adalah menjilat, bukan menghemat, kebanyakan orang Amerika tidak mengerti hal seperti ini. Satu hal kecil tapi cukup untuk melihat perbedaan pola pikir antara orang AS dan orang Asia.

Beberapa tahun lalu setelah status suaka politik saya diterima, ada orang mengatakan pada saya kupon makan dan tunjangan sosial dari pemerintah tidak boleh diambil. Saya sangat heran dan bertanya mengapa. Ia berkata, jika Anda menerima tunjangan itu akan berpengaruh pada Green Card dan aplikasi kewarganegaraan AS Anda. Saya sangat bingung, “Sudah dikatakan diberikan pada kita, tapi kenyataannya kita disuruh untuk tidak menerimanya, ini adalah cara negara komunis. Tapi ini kan Amerika.”

Dalam seminar kesejahteraan imigran suaka politik yang digelar dua minggu kemudian, pembicara secara khusus menegaskan kembali, “Ada orang yang beranggapan jika menerima kupon makan dan tunjangan sosial dari pemerintah AS akan berdampak terhadap proses aplikasi Green Card dan kewarganegaraan, tidak akan! Anda terima saja, karena Anda semua ditindas di negara Anda, kondisi ekonomi pasti tidak baik.”

Mendengar penjelasan itu saya sangat terharu, “Inilah Amerika!”

Setelah status suaka saya diloloskan saya pun menerima kupon makanan, sama sekali tidak berpengaruh pada proses Green Card dan aplikasi kewarganegaraan saya. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular