Ilustrasi keuangan (Shutterstock)

JAKARTA –  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas dan ketahanan sektor jasa keuangan (SJK) sepanjang 2015 ini masih terjaga dan memadai. Namun demikian pasar keuangan domestik sempat diwarnai gejolak yang dipicu oleh faktor. Sementara profil risiko  lembaga jasa keuangan berada pada level yang manageable.

“Stabilitas sektor jasa keuangan domestik sepanjang 2015 masih terjaga, meskipun pasar keuangan domestik sempat diwarnai gejolak yang dipicu oleh faktor eksternal,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Haddad dalam rilis di Jakarta, Rabu (30/12/2015).

Menurut dia, beberapa faktor utama yang mempengaruhi dinamika pasar sepanjang tahun 2015 adalah ketidakpastian seputar kenaikan Fed Funds Rate, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan pelemahan harga komoditas dunia. Ketahanan industri perbankan cukup baik. Risiko likuiditas, kredit dan pasar LJK masih terjaga karena ditopang oleh permodalan yang cukup tinggi. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per Oktober 2015, sebesar 21,35% jauh di atas ketentuan minimum 8%.

Sedangkan, pada Industri Keuangan Non Bank, Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi juga terjaga pada level yang tinggi yakni 528,7% untuk asuransi jiwa dan 270,1% untuk asuransi umum. Pada perusahaan pembiayaan, gearing ratio per November 2015 sebesar 3,19 kali, jauh dari ketentuan maksimum 10 kali dan menyediakan ruang untuk pertumbuhan.

Pada sektor Pasar Modal, pengaruh kondisi ekonomi global dan domestik cukup mempengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian,  perkembangan Reksa Dana masih positif dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat sebesar 12,17% menjadi Rp.270,84 triliun.

OJK mencatat sampai dengan tahun ini Pasar Modal telah berhasil memobilisasi dana melalui IPO Saham sebesar Rp 11,3 triliun, right issue saham sebesar Rp 42,3 triliun, obligasi pemerintah sebesar Rp 345,6 triliun dan USD 500 juta, dan obligasi korporasi sebesar Rp 62,4 triliun. Pada 2015 terdapat penambahan 15 emiten saham baru dan 3 emiten obligasi baru. Selain itu, jumlah investor meningkat cukup tinggi yaitu sebanyak 69.359 investor atau meningkat sebesar 19%.

Sebagai bagian dari upaya nasional memacu pertumbuhan serta meredam gejolak yang terjadi di pasar keuangan dan membalikkan kepercayaan pelaku pasar, sepanjang 2015 OJK telah merilis serangkaian kebijakan di SJK, yang dituangkan dalam paket kebijakan di sektor keuangan serta beberapa kebijakan SJK juga menjadi bagian dari paket kebijakan ekonomi Pemerintah.

Sepanjang 2015, OJK melakukan beberapa inisiatif untuk mendukung program Pemerintah, antara lain: program Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif) yang telah didukung oleh 24.865 agen yang berhasil menjaring 1.094.362 nasabah serta dana pihak ketiga sebesar Rp 41,3 miliar; Program Jaring  (Jangkau, Sinergi dan Guidelines) di mana bank berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 4,41 triliun, sedangkan perusahaan pembiayaan (lembaga keuanagn non bank) telah memberikan pembiayaan pada program Jaring sebesar Rp 252 miliar; Tabungan SIMPEL (Simpanan Pelajar) yang melibatkan 29 bank dan 1.544 sekolah dan jumlah rekening dari program ini telah mencapai 382.421 dengan total dana Rp 32,8 miliar.

Selanjutnya, OJK juga melakukan pengembangan infrastruktur dalam rangka pendalaman pasar modal; pengembangan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (Fundnet); penyederhanaan proses dan prosedur penawaran umum; pengembangan papan perdagangan untuk UKM; penyempurnaan ketentuan penerbitan obligasi daerah; pengembangan Electronic Trading Platform Surat Utang dan standarisasi perjanjian transaksi REPO/ GMRA.

Sedangkan untuk industri keuangan nonbank, OJK juga melakukan optimalisasi kapasitas asuransi dan reasuransi dalam negeri; revitalisasi modal ventura dan pengembangan asuransi mikro; serta penyesuaian uang muka pembiayaan kendaraan bermotor bagi Perusahaan Pembiayaan.

Dalam rangka mewujudkan industri jasa keuangan yang sehat, sustainable, dan stabil,  selama 2015 OJK melakukan 8 penandatanganan Nota Kesepahaman dengan kementerian dan lembaga pemerintahan, serta 5 otoritas pengawas regulator industri jasa keuangan maupun lembaga internasional. Berkaitan dengan persiapan menghadapi MEA, OJK juga berpartisipasi secara aktif pada berbagai forum ASEAN. (asr)

Share

Video Popular