Keterangan foto: Suasana siang hari (kiri: cuaca normal; kanan: dilanda smog) di sekitar Stadion Sarang Burung di Beijing yang terkenal itu. (wikipedia)

Oleh: Zheng Yi

Sekitar akhir November sampai akhir Desember, lebih dari setengah dataran Tiongkok tertutup smog (asbut, kabut polutan parah), wilayah Beijing, Tianjin dan provinsi Hebei pada umumnya mengalami polusi berat, konsentrasi PM2.5 di kota Beijing bahkan telah melewati ambang batas. Seorang pengguna wechat di bawah panji surat kabar “People’s Daily” versi luar negeri menulis artikel berjudul “Walikota, Kami Tidak Inginkan Kepala Anda”, sindiran terhadap “sumpah janji” walikota Wang Anshun untuk mengatasi masalah smog.

Sumpah janji Wan Anshun diantara dua Rapat Paripurna pada 2014 adalah: jika masalah smog tidak bisa terselesaikan di pada 2017, maka “kepalanya boleh dipenggal”. Sampai awal tahun ini, Wang meralat ikrarnya dengan mengatakan: “kepalanya akan dipenggal” hanya lelucon. Beberapa hari terakhir ini Beijing terus tertutup smog pekat, bagaimana sang walikota mengatasinya?

Beijing telah diselimuti smog level 5-6, pemerintah hanya bisa mengeluarkan peringatan, sekolah tidak diliburkan, kendaraan tidak dibatasi, “warga dibiarkan bebas menghirup smog”, penderita penyakit saluran pernafasan pun membludak di berbagai rumah sakit Beijing. Prestasi politik seperti ini membuat netter yang mengkritik walikota Wang Anshun menjadi tak terhitung jumlahnya.

Satu hal lagi, dana dari walikota juga jauh dari cukup. Kota Beijing, Tianjin dan provinsi Hepei ditetapkan sebagai “zona utama pencegahan dan pengendalian polusi bersama.” Pakar lingkungan memprediksi, nilai investasi yang dibutuhkan sekitar RMB 345 milyar. Sedangkan investasi langsung untuk pencegahan polusi secara nasional adalah RMB 1,84 trilyun. Entah bagaimana para pakar itu membuat prediksi. Meskipun hanya sebatas polusi udara saja, tapi saya merasa perkiraan investasi itu terlalu sedikit, setidaknya kurang satu angka nol.

20 tahun silam, pejabat lingkungan yang diutus Amerika Serikat ke Beijing memperkirakan, jika RRT berniat mengatasi masalah pencemaran lingkungan, sejak tahun 1996 Tiongkok harus mulai menanamkan dana raksasa, sebelum tahun 2004 harus menginvestasikan setidaknya USD 3 trilyun (41.267 triliun rupiah). (Surat kabar ‘Universal Daily News’ edisi tanggal 3 September 1996) saya pernah berhitung secara kasar, jika dihitung dengan mata uang RMB, setara dengan RMB 25 trilyun, setara dengan 8 kali lipat dari total pendapatan pemerintah PKT/ Partai Komunis Tiongkok selama 40 tahun (RMB 3,3 trilyun). Jika diangsur selama 10 tahun, maka setiap tahun harus investasi hampir USD 2,5 trilyun, atau setara dengan 2,5 kali lipat dari pendapatan RRT tahun 1997 yakni RMB 860 milyar. Bisa pembaca bayangkan betapa besar skala investasi ini?

Mari kita lihat suatu fakta:

Setelah kedua Jerman bersatu akhir abad lalu, Jerman Barat merencanakan investasi sebesar DM 200-500 milyar selama 10 tahun untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan. Berapakah nilainya dalam bentuk mata uang DM Jerman Timur?

Cara perhitungannya sangat banyak dan rumit, tapi secara garis besar jauh melampaui total PDB Jerman Timur selama 1 tahun bahkan mencapai 2 tahun! Melihat rasio investasi terhadap PDB yang begitu besar ini, jika benar-benar berencana menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan RRT, maka total investasi selama 10 tahun seharusnya adalah di atas RMB 10 trilyun, atau rata-rata investasi di atas RMB 1 trilyun per tahun. Tapi, Jerman bersatu sudah kejadian 15 tahun silam, sekarang ini polusi di RRT terus memburuk drastis melebihi pertumbuhan PDB, jika tingkat polusi RRT adalah dua kali lipat dibandingkan tingkat polusi Jerman 15 tahun lalu, maka tiap tahun harus berinvestasi lebih dari RMB 2 trilyun, dan jika 3 kali lipat, maka investasi harus lebih dari RMB 3 trilyun. Perkiraan ini tidak jauh berbeda dengan estimasi oleh pejabat lingkungan dari AS tersebut di atas.

Satu hal harus diingat bahwa angka-angka makro ini masih merupakan perhitungan estimasi, segala keraguan disambut baik untuk didiskusikan. Tapi bagaimana pun juga, angka puluhan ribu trilyunan rupiah yang harus diinvestasikan itu merefleksikan sebuah kesimpulan yang sangat mendasar, yakni: pertumbuhan ekonomi yang dicapai dengan mengorbankan lingkungan alam dan sumber daya itu ditakdirkan tidak akan berhasil.

Mantan Ketua Komisi Lingkungan Hidup Qu Geping sejak tahun 90-an telah secara gamblang menjelaskan, pertumbuhan cepat yang diraih tanpa menghiraukan lingkungan yang dikorbankan sebenarnya bersumber dari konsep pembangunan yang telah usang. Konsep pembangunan ini merupakan wujud dari pengejaran PDB dan target pertumbuhan yang cepat. Konsep seperti ini beranggapan, negara dengan PDB tinggi adalah negara ekonomi kuat, negara dengan pertumbuhan PDB cepat adalah negara yang maju dalam hal ekonomi, oleh karena itu mengejar PDB yang tumbuh pesat pun menjadi target dan motivasi bagi pertumbuhan ekonomi negara. Akibat serius yang timbul akibat strategi pertumbuhan yang hanya mengejar pertumbuhan PDB ini adalah: lingkungan akan memburuk secara drastis, sumber daya alam menipis dengan cepat, kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat menurun, pada akhirnya pertumbuhan tidak bisa dipertahankan lagi dan terjerumus dalam kesulitan.

Menurut Qu, dalam indeks PDB sekarang, selain tidak terlihat tingkat kerugian yang timbul akibat menurunnya kualitas sumber daya alam dan lingkungan hidup, juga tidak mampu mengungkap harga yang harus dibayar oleh suatu negara terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup akibat mengejar pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, semakin tercemarnya lingkungan hidup, sumber daya alam akan semakin cepat tergerus, dan pertumbuhan PDB juga akan semakin cepat pula, dan akhirnya terciptalah semacam “kemakmuran yang semu”.

“Saya selalu memuji smog. Karena smog tidak bertubuh fisik, tidak memiliki kelemahan manusia, tidak takut pada tekanan penguasa mana pun, namun mampu mengungkap rahasia yang mengenaskan di balik kisah legenda “kebangkitan yang super cepat” itu,” kata Qu. (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular