Keterangan foto: Beberapa waktu lalu, ketika doker dinas jaga ruang transplantasi Jantung di rumah sakit pusat kota Jiangmen, propinsi Guangdong RRT, menghujad praktisi Falun Gong yang menganjurinya bertoba t lewat pembicaraan telpon. Jubir Falun Gong Zhang Erping menunjukkan, dari situ sudah jelas bahwa PKT tidak memiliki sifat kemanusiaan mendasar, ini cerminan dari kegilaan akhir zaman. (Epoch Times)

Oleh: Chen Han

“Kamu berani datang, akan saya bunuh, setelah saya bunuh, saya lihat kamu naik ke surga atau turun ke neraka”.

Itulah teriakan doker jaga ruang transplantasi jantung di rumah sakit pusat kota Jiangmen, propinsi Guangdong, Tiongkok, ketika menerima telpon anjuran dari praktisi Falun Gong di luar RRT. Dokter transplantasi tersebut tidak hanya langsung mengancam akan membunuh orang, juga mengakui jumlah perampasan organ secara hidup-hidup dari praktisi Falun Gong pada rumah sakit tersebut jumlahnya “sangatlah banyak, tidak terhitung”. Juru bicara Falun Gong Zhang Erping mengatakan, terlihat Partai Komunis Tiongkok/ PKT sudah kehilangan kemanusiaan yang mendasar, ini merupakan kegilaan hari kiamat.  

“Organisasi Internasional Untuk Penyelidikan Penindasan Terhadap Falun Gong” (WOIPFG) baru-baru ini telah menerima 2 kali rekaman telpon anjuran baik dari praktisi Falun Gong.

Telpon pertama dilakukan oleh praktisi Falun Gong pada 21 Desember 2015, jam 09:55 waktu setempat. Penerimanya adalah dokter jaga Li Lunming, pria, dari ruang transplantasi jantung rumah sakit pusat kota Jiang Men, propinsi Guang Dong, Tiongkok. Setelah mendengarkan penjelasan fakta sebenarnya dari praktisi Falun Gong, ia mengatakan, “Pernah melakukan (perampasan organ secara hidup praktisi Falun Gong) mau diapakan? Memang dari orang Falun Gong, bisa diapakan? Kami lakukan banyak sekali, mungkin kamu belum menyelidiki dengan jelas, itu luar biasa banyaknya.”

Menjelang malam hari itu juga telpon kedua kali, dokter jaga ruang transplantasi jantung rumah sakit pusat kota Jiang Men, propinsi Guangdong menerima telpon (bicara 19:08 detik). Sang praktisi Falun Gong bertanya, “Anda telah mengambil berapa banyak organ praktisi Falun Gong?”

Ia menjawab, ”Tak terhitung banyaknya.”

“Anda berani memastikan, tak terhitung banyaknya”

Ia mengulangi sekali lagi,  “Tak terhitung banyaknya.”

Dokter tersebut bahkan langsung mengancam praktisi yang menelpon, “Kamu berani datang, akan saya bunuh, saya akan bunuh kamu, saya lihat kamu naik ke surga atau turun ke neraka.”

Terhadap arogansi dokter transplantasi organ hidup, Zhang Erping menilai ada 2 penyebab. Para dokter tersebut menggunakan transplantasi organ hidup untuk memperoleh keuntungan besar, tidak hanya itu saja, sesungguhnya mereka sedang membantu rezim jahat membantai praktisi Falun Gong. Para dokter itu sedikitpun tidak memiliki kemanusiaan, sanggup membunuh orang dalam jumlah tak terhitung banyaknya. Satu penyebab lainnya adalah merefleksikan rasa ketakutan dalam hati atas perbuatan dosanya, telah mencapai pada tahap titik keruntuhan.

Menurut penyelidikan dari WOIPFG terhadap rumah sakit pusat kota Jiangmen, afiliasi dari Universitas Zhongshan, pada 1999 mulai melakukan transplantasi Ginjal. Juli 2002 mulai melakukan transplantasi liver, Desember 2005 mulai melakukan transplantasi jantung pertama. Waktu, dimulai melakukan transplantasi organ bersamaan dengan Falun Gong mulai ditindas oleh PKT.

Sejak 1999, Sekjen PKT saat itu Jiang Zemin, dan Zhou Yongkang, mantan sekjen Komisi Politik dan Hukum Pusat PKT, dan lain-lain penguasa tertinggi PKT, menggunakan aparatur negara di seluruh negara RRT melakukan pembunuhan genosida terhadap praktisi Falun Gong. Pembunuhan tersebut dilakukan dibawah organisasi rahasia dan perlindungan pemerintah PKT, dibawah pengendalian system Kantor 610 Komisi Politik dan Hukum, system peradilan dan militer, polisi bersenjata serta lembaga kesehatan daerah bekerja sama melakukan tindakan kejahatan secara sistematis.

Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Harus Menanggung Konsekuensi Serius

Pengacara HAMdi Washington Amerika Serikat Ye Ning menyatakan, setelah Perang Dunia II terdapat 2 persidangan, pertama adalah persidangan Nürnberg, satu lainnya adalah persidangan Tokyo. Berhubung saat itu perang saudara di Tiongkok mendesak di depan mata, sehingga pada dasarnya persidangan Tokyo tidak begitu banyak mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan para penjahat perang.

Namun lain halnya dengan persidangan Nürnberg, Yening mengatakan, “Ia dilaksanakan paling tuntas sehingga terhadap petugas penjara, dokter dan penjaga pintu kamp konsentrasi Nazi, semua orang yang terlibat harus disidangkan. Dengan kata lain, di tengah persidangan pada masa itu, semua yang telah melakukan kejahatan, apakah itu perwira setingkat kepala grup becil pun tidak sedikit telah dijatuhi hukuman mati. Di bawah kondisi demikian, jenis contoh seperti itu ada semua, sehingga orang-orang yang hidup di tengah kegelapan dan kebiadaban dari totaliterisme, ia tidak memiliki kesempatan menyaksikan trend besar perkembangan umat manusia.”

Yening beranggapan, hal seperti itu bukan sebuah fenomena umum, banyak orang yang hati nurani atau akal budinya masih belum lenyap, orang-orang semacam itu yang ikutan menjadi kaki tangan perbuatan jahat, tidak mempunyai keberanian sedikitpun untuk mengakui kejahatan yang ia lakukan, sedangkan orang yang berani mengakui kejahatannya sendiri adalah dikarenakan ia mempunyai backing, brandalisme dan totaliterisme PKT membuatnya merasa sangat percaya diri, di bawah perlindungan apa yang disebut “Negeri Merah yang ditempa oleh besi.”

Ia mengira dapat dengan bebas melakukan kejahatan anti kemanusiaan tanpa tersentuh oleh hukum. Karena ada brandalisme kediktaturan ploretariat, ada tentara dan polisi bersenjata, ada politikus yang dapat melindunginya, yang sesungguhnya dukungan itu semu, tidak kekal, hanya merupakan sebuah gunung es. Tak peduli gunung es itu seberapa besar, ia takut ketemu sinar matahari, karena begitu terkena sinar matahari ia akan segera leleh dan sirna, gunung es yang segera sirna di bawah sorotan sinar mentari (kebenaran yang hakiki). (whs/rmat)

 

 

Share

Video Popular