Tokyo Electric Power Co dan pembangkit tenaga nuklir Fukushima di Jepang, Nov. 12, 2014 (AP/Shizuo Kambayashi, Pool, File)

JAKARTA – Wacana pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali dihembuskan setelah beberapa tahun lalu menarik perhatian luas berbagai kalangan. Namun demikian kali ini lebih serius setelah Batan Tenaga Atom Nasional (BATAN) mendapat angin segar bersamaan publikasi hasil survei dari Sigma Reseach yang mengklaim 75 persen penduduk Indonesia setuju pembangunan PLTN.

Alasan yang dilontarkan oleh sejumlah ahli nuklir sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Kali ini dilontarkan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional yang kini dijabat oleh Djarot Sulistio Wisnubroto pada akhir Desember 2015 lalu. Dia beralasan masyarakat sudah lelah dengan krisis listrik yang mendera mereka. Oleh karena itu, masyarakat menginginkan pemenuhan listrik dengan pembangkit listrik yang murah dan hemat.

“Saat ini masyarakat mengharapkan pasokan listrik yang stabil, dan PLTN dapat dijadikan sebagai salah satu solusi,” katanya dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.

Wacana yang dilontarkan oleh Batan berdasarkan klaim survei yang digelar oleh Sigma reseach pada 34 provinsi. Survei yang digelar tentu saja difokuskan kepada penekanan penerimaan masyarakat terhadap pembangkit tenaga nuklir. Survei dengan 4000 responden tersebut hasilnya 75,3 persen masyarakat setuju pembangunan PLTN.

Dukungan terbesar tentunya berasal dari daerah yang sering terkena imbas pemadam listrik yakni Sumatera dan Sulawesi. Dukungan pembangunan PLTN berasal dari masyarakat perkotaan yang mencapai 78,3 persen dan pedesaan 72,3 persen. Ketua Lembaga Sigma Research, Prima Ariestonandri pada jumpa pers akhir tahun lalu mengatakan responden yang menerima pembangunan PLTN dikarenakan tidak ingin terjadi pemadaman listrik. Namun demikian masih terjadi penolakan dari masyarakat dengan alasan radiasi jika terjadi kebocoran PLTN dengan porsentase 78,7 persen, adapun pencemaran dengan hitungan 53,9 persen.

Hasil survei lainnya adalah sebanyak 45,3% masyarakat menilai penggunaan teknologi nuklir mempunyai dampak positif sama besar dengan dampak negatif. Sebanyak 32.1% menyatakan dampak positif lebih besar dibanding dengan dampak negatif dan 22,2% menyatakan dampak negatif lebih besar daripada dampak positifnya. Survei menunjukkan hanya 0,5% yang tidak tahu terhadap dampak negatif atau positif dari penggunaan teknologi nuklir.

Kontroversi PLTN

Bantahan atas wacana pembangunan PLTN yang dihembuskan oleh BATAN sudah dibantah oleh sejumlah kalangan yakni Greenpeace Asia Tenggara, WALHI, Institut for Esential Service Reform (IESR), Masyarakat Rekso Bumi dan ahli Dr. Iwan Kurniawan bersama Dr. Nengah Sudja beberapa tahun lalu.

Sejumlah LSM dan ahli menyampaikan dalam laporannya yang berjudul “Sesat Pikir dan Kebohongan Publik BATAN dan Para Promotor PLTN di Indonesia.” Laporan ini oleh para peneliti menyebut hal tersebut berbalikan dengan sejumlah negara maju yang memiliki PLTN justru meninjau kembali program mereka untuk membangun energi terbarukan. Laporan ini menjawab sebanyak 11 argumentasi yang disampaikan para promotor PLTN mulai dari BATAN, BAPETEN dan para ahli nuklir dari ITB seperti Prof.DR.Zaki Suud diantaranya mengenai krisis listrik.

Laporan yang dipublikasikan beberapa tahun lalu sudah menjawab mengenai ancaman dan keterbatasan listrik yang kini kembali dihembuskan oleh BATAN. Menurut laporan para ahli berdasarkan statistik batubara yang dikeluarkan oleh World Coal Institute. Laporan tersebut menyebutkan cadangan batubara yang dimiliki Indonesia hanya sekitar 3% dari cadangan dunia. Sementara itu, berdasarkan data terakhir dari Statistik Energi Indonesia, perkiraan cadangan batubara Indonesia adalah 104.940 miliar ton. Sedangkan cadangan terukur yang dimiliki sebesar 21.13 miliar ton.

Pada 2009 lalu total produksi batubara Indonesia mencapai 263 juta ton, 230 juta ton diantaranya diekspor ke berbagai negara, atau dengan kata lain sekitar 87% produksi batubara Indonesia diekspor ke luar negeri. Hanya sekitar 13% yang digunakan untuk kebutuhan domestik. Hal sama Indonesia juga sebagai pengekspor gas alam cair.

Tak hanya itu, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, lebih dari 40% potensi panas bumi dunia terdapat di Indonesia. Jika kemudian potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia setara dengan 28500 MW. Selain potensi panas bumi yang berlimpah, Indonesia juga memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/detik.

Oleh karena itu, para ahli dan pegiat LSM menilai, sesungguhnya yang terjadi di Indonesia adalah buruknya tata kelola kebijakan energi nasional, ancaman krisis energi di masa depan semestinya dapat diatasi dengan memanfaatkan secara maksimal potensi energi terbarukan dikombinasikan dengan efisiensi energi di segala lini.

“Dijadikannya isu ancaman krisis energi sebagai justifikasi untuk membangun PLTN oleh para promotor PLTN, adalah contoh dari sesat pikir para promotor PLTN,” tulis dalam laporan para ahli. (asr)

Share

Video Popular