Keterangan foto: Di bawah kecemerlangan sinar musim gugur, ketika mobil rombongan Xi Jinping lewat, direntangkanlah spanduk “Adili Jiang Zemin”. (Foto: Cheng Qing)

Oleh: Cheng Qing

Di dalam pesawat yang terbang ke Seattle, penumpang tetangga bertanya pada saya tinggal di mana, saya katakan di California, kali ini pergi berwisata ke Seattle. Dia mengatakan bahwa dia tinggal di Seattle, baru pulang dari California.

Dia menerangkan bahwa dia tahu ketua Xi Jinping akan datang ke Seattle, dia bekerja di pusat bisnis, sudah menerima pemberitahuan lewat email, beberapa hari tersebut lalulintas akan sangat padat. Saya katakan karena Xi Jinping datang ke Amerika Serikat maka saya pergi mengajukan protes aksi damai. Saya mengulas Partai Komunis Tiongkok/ PKT telah merampas organ tubuh para praktisi Falun Gong secara hidup-hidup. Dia mengatakan terlalu kejam.

Saya menjelaskan toh ada sementara orang yang merasa saking kejamnya sampai-sampai tidak mempercayainya. Dia bilang dia percaya. Dia bertanya apakah kegiatan semacam ini banyak, saya katakan tidak, saya jumpai dua kali, pertama kalinya adalah dua tahun yang lalu, Xi Jinping datang berkunjung ke AS, kami pergi ke Los Angeles mengajukan protes, kali ini protes ke Seattle. Dia menjawab, oh, saya menghormati keberanian dan semangat kalian, untuk menunjukkan dukungan saya terhadap kalian, biarlah saya mengantar Anda ke rumah teman Anda.

Dalam perjalanan ke rumah teman, dia mengeluarkan sebungkus rokok, dengan sangat sopan bertanya apakah saya berkeberatan bila dia merokok, saya katakan tidak, di rumah saya juga ada yang merokok. Dia dengan wajah penuh penderitaan berkata, merokok tidak baik bagi tubuh, namun seluruh keluarganya merokok, dia inginberhenti pun tidak bisa. Saya berkata, di dalam perutku terdapa toozing tumor bawaan, namun tidak diketahui, seiring bertambahnya usia, tumor itu ikut membesar, akhirnya dokter bilang agar saya pulang menuggu maut menjemput. Namun Falun Dafa mengubah seluruh hidupku, tumor itu hilang dalam semalam. Saya bertanya, apakah Anda ingin berkultivasi Falun Gong? Ada orang yang setelah membaca “Zhuan Falun” lalu dapat berhenti merokok. Dia berkata sungguh sangat ajaib, saya juga ingin mencoba. Lalu memberikan kartu namanya kepadaku.

Pagi-pagi sekali pada hari Selasa (22/09/2015), kami datang di depan Hotel Westin untuk aksi damai. Ada orang-orang yang membawa bendera merah datang untuk menutupi bendera biru dan kuning kami. Seorang jurnalis media berbahasa Inggris bertanya kepada orang itu, “Mengapa Anda menutupi bendera mereka?”

Orang tersebut berdiri di depan bendera kami dan berkata, “Oh tidak, saya tidak menutupi.”

Jurnalis bahasa Inggris itu terdiam, adegan itu bagaikan telah terekam oleh kamera di benak penulis.

Pagi-pagi di hari Rabu, seorang polisi mengatakan belum sarapan, seorang praktisi Falun Gong peserta aksi menimpali, saya juga belum, polisi itu berkata, saya bawakan satu bungkus untuk Anda ya, lalu diberikan satu bungkus sarapan fastfood untuk praktisi Falun Gong tersebut.

Siang harinya, kami mendapatkan izin protes untuk Street 7, artinya, pada jalanan tersebut hanya membolehkan kami praktisi Falun Gong melakukan protes. Ada tiga orang membawa bendera merah darah (PKT) berdiri di depan kami, polisi berjalan mendatangi dan berkata kepada mereka, “Kalian pergi sendiri atau kami yang membuat kalian pergi.”

Saya dan beberapa orang praktisi Falun Gong mengusung spanduk bertuliskan “Merampas organ tubuh praktisi Falun Gong hidup-hidup,tidak dapat ditolerir oleh Langit maupunBumi (Tuhan)”.

Ada beberapa orang yang memaksa untuk berdiri diantara kami. Di sana mengatakan sesuatu yang tidak logis namun dianggapnya benar. Seseorang berkata ditujukan kepada kami, kalian juga orang Tionghoa….. Saya katakan, maaf, saya adalah warganegara AS. Ia mengubah kata-katanya, semua adalah orang berkulit kuning, namun begitu tidak tahu malu. Saya katakan, apakah Anda mengetahui arti tidak tahu malu itu apa? Tidak tahu malu itu adalah seorang berkulit kuning namun sampai-sampai tidak mengakui nenek moyangnya sendiri, malah menyebut dirinya sebagai anak cucu Karl Marx dan Lenin.

Ada seseorang berkata, kalian di sini memancang spanduk tiada berguna, orang-orang di daratan Tiongkok tidak ada yang melihatnya. Saya katakan, dapat melihatnya, ada blokade jaringan internet namun ada juga perangkat lunak pembobolnya. Ia berkata, setidaknya saya di Tiongkok tidak melihatnya, saya katakan, itu hanya mewakili diri Anda sendiri, atau Tiga Orang Wakil (ajaran Jiang Zemin. Red.), tidak dapat mewakili orang lain, benarkan?

Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi lalu memalingkan kepala.

Seorang polisi mengobrol dengan saya, bertanya kami datang dari mana, saya katakan kami beberapa orang berasal dari San Diego, ada yang dari Los Angeles, Seattle dan Vancouver. Ia menggumam dengan agak tercengang dan menunjuk orang-orang yang menyambut dan berkata, mereka itu setiap hari menerima 200-300 USD. Saya berkata dengan bergurau, lebih banyak daripada yang Anda terima bukan?

Pagi-pagi sekali pada hari Kamis, Xi Jinping akan bertolak. Polisi sudah tidak mengizinkan mereka menutupi spanduk kami lagi, karenanya beberapa orang memegang bendera merah berdiri di belakang kami, bersiap menunggu mobil-mobil rombongan Xi Jinping lewat dan akan menutupi spanduk kami lagi. Ketika polisi menghalangi mereka, mereka bersitegang dengan polisi selama beberapa menit, ketika rombongan mobil Xi sudah pergi tugas mereka juga sudah selesai.

Baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tidak dapat mengubah cara-cara berandal. Ada seorang menerima telpon, saya dapat mendengar itu merupakan pemberitahuan kepada mereka bahwa rombongan mobil sudah akan tiba, maka mereka menerjang maju melintangkan bendera merah, seorang wanita Bule yang sudah menonton lama di samping berkata pada orang yang melintangkan bendera merah darah untuk menutupi spanduk kami, tegakkan bendera Anda. Ia dengan kurang ajar berkata, “Benderanya terlalu berat.”

Wanita itu mendekat dan menegakkan benderanya, menonjolkan spanduk kami “Tindak Jiang Zemin secara hukum”, sampai rombongan mobil Xi Jinping pergi. Ketika semua orang satu per satu meninggalkan tempat, saya mengucapkan terima kasih kepada wanita tersebut, tak terduga dia malah membalasnya dengan ber-anjali (merangkapkan sepasang telapak sesuai tata cara aliran Buddha), sungguh mencengangkan.

Dalam perjalanan pulang, seorang teman di Seattle berkata, jalan yang dilewati rombongan mobil presiden RRT itu begitu panjang, mereka semua sibuk untuk menghalangi kalian, sesungguhnya kami masih ada beberapa regu orang di persimpangan jalan lain, jalan yang begitu panjang, hanya saya seorang diri, ketika rombongan mobil Xi Jinping hampir lewat, saya berseru dengan lantang “Falun Dafa Hao (Falun Dafa itu Baik)”, “Tindak Jiang Zemin secara hokum.”

Saya percaya Xi Jinping pasti telah mendengarnya juga telah melihat spanduk “Tindak Jiang Zemin secara hokum.” Benar, kehendak Tuhan, siapa yang dapat menghalangi? (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular