Ilustrasi kemiskinan (Guang Niu/Getty Images)

JAKARTA – Uang yang dimiliki masyarakat dihabiskan untuk membeli komoditi beras dan sebagiannya digunakan untuk mengkonsumsi rokok kretek. Kedua komoditi tersebut merupakan yang terbesar mempengaruhi garis kemiskinan. Sedangkan komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Laporan demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Gedung BPS, Jakarta, Senin (4/12/2015) saat jumpa pers  Jumpa Pers Angka Inflasi Desember 2015. Materi yang disampaikan antaranya profi kemiskinan di Indonesia September 2015.

Data BPS menyebutkan, pada bulan September 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,51 juta orang (11,13 persen), berkurang sebesar 0,08 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2015 yang sebesar 28,59 juta orang (11,22 persen).

Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2015 sebesar 8,29 persen, turun menjadi 8,22 persen pada September 2015. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan turun dari 14,21 persen pada Maret 2015 menjadi 14,09 persen pada September 2015.

Menurut data BPS, selama periode Maret 2015–September 2015, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 0,03 juta orang (dari 10,65 juta orang pada Maret 2015 menjadi 10,62 juta orang pada September 2015), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 0,05 juta orang (dari 17,94 juta orang pada Maret 2015 menjadi 17,89 juta orang pada September 2015).

Penurunan jumlah penduduk miskin periode Maret 2015-September 2015 dikarenakan terjadi inflasi umum cukup rendah yakni 2,69 persen. Penurunan angka garis kemiskinan dikarenakan terjadinya penurunan harga beras 0,92 persen. Harga beras Maret 2015 mencapai Rp 13.089 perkilogram menjadi Rp12.968 perkilogram pada September 2015. Perbaikan penghasilan petani juga menjadi faktor dengan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,79 persen dari 101,53 pada Maret 2015 menjadi 102.33 pada September 2015.

Jumlah penduduk miskin terbesar terdapat di Maluku dan Papua sebesar 22,09 persen, Sulawesi 11,68 persen, Kalimantan 6,45 persen, Bali dan Nusa Tenggara 15,41 persen, Jawa 10,52 persen dan Sumatera 11,37 persen. Sedangkan dari sisi jumlah, penduduk miskin terbanyak berada di Pulau Jawa yakni 15,31 juta orang dan paling sedikit di Kalimantan 8,59 juta.

Garis kemiskinan yang dimaksud BPS adalah batas menjadikan penduduk miskin dan tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Pada periode Maret-September 2015 yaitu dari Rp 330.779 perkapita perbulan pada Maret 2015 menjadi Rp 344.809 perkapita perbulan pada September 2015.

Komponen Garis Kemiskinan terdiri Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Namun sumbangan angka kemiskinan terbesar berasal dari Garis Kemiskinan Makanan. Angka ini lebih besar dibandingkan Garis Kemiskinan Bukan Makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, tempe dan tahu. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi. (asr)

Share

Video Popular