Keterangan gambar: Terhadap perangkat apapun, data yang dikirim dari otak itu terlalu besar, karena itu tidak bisa memberikan informasi yang berguna, dan tetap tidak bisa dianalisis meski di laboratorium terbaik sekalipun. (Fotolia)

Oleh: Huang Xiao Yu

Perkembangan teknologi membuat virtual reality pada perangkat ‘wearable’ menjadi kenyataan. Beberapa perangkat yang saking cerdasnya dapat memberitahu atau mengingatkan anda berapa porsi makanan yang sebaiknya anda konsumsi, mengingatkan anda waktu olahraga, bahkan pengusaha yang berpikiran cepat meluncurkan perangkat wearable khusus untuk hewan peliharaan. Sebuah laporan terbaru menyebutkan, bahwa perangkat wearable telah memasuki tahap perkembangan ke otak untuk memonitor aktivitas otak, dan berencana untuk lebih lanjut mempengaruhi otak pemakainya.

Laman Canadian Broadcasting Corporation (NBC), Jumat 25 Desember 2015 lalu menyebutkan, bahwa perangkat wearable terbaru mencoba memonitor aktivitas otak manusia, bahkan berencana untuk lebih lanjut mempengaruhi otak. Beberapa ahli saraf mengatakan bahwa ini merupakan prospek yang menjanjikan, namun, ada juga yang berpendapat bahwa ini merupakan masa gelap ilmu pengetahuan.

“Kita benar-benar tidak tahu apa sebenarnya yang kita lakukan,” kata Ferdinando Mussa-Ivaldi, professor dari Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat.

Mencoba menganalisis aktivitas otak.

Ada beberapa produk di pasar berupa perangkat sensor yang dipasang di pelipis untuk mendeteksi aktivitas otak manusia, suatu perangkat seperti yang dipakai Geordi La Forge, chief engineer dalam film action fiksi ilmiah “Star Trek”. Produk-produk ini terdiri dari Muse yang digunakan untuk membantu meditasi. Sementara Cefaly digunakan untuk meredakan rasa sakit migrain dan emotif digunakan untuk mengukur atau mendeteksi berbagai aktivitas otak.

Bagi perangkat apapun, data yang dipancarkan dari otak itu terlalu besar, karena itu tidak bisa memberikan informasi yang berguna, dan tidak juga bisa dianalisis meski di laboratorium terbaik sekalipun.

“Anda bisa merekam aktivitas otak, tapi hasilnya akan sangat terbatas, jadi percuma saja. Ini sama sulitnya seperti kita membedakan isi percakapan di antara jutaan orang yang berdesakan di dalam satu rungan yang berbicara secara bersamaan,” ujar profesor Ferdinando Mussa-Ivaldi di Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat.

Mengubah otak pemakainya dengan gangguan arus (listrik) rendah.

Sementara perangkat wearabel lain berfungsi memberi gangguan dengan arus listrik rendah untuk mengubah otak pemakainya. Perangkat wearable Foc.us diklaim dapat meningkatkan daya tahan fisik pemakainya. Thync bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi dan memperbaiki emosional pemakainya.

Keterangan foto: Thync berfungsi meningkatkan konsentrasi dan memperbaiki emosional pemakainya.

Tom Emrich, salah satu pemakai perangkat wearable terkait menyebutkan, bahwa meskipun ada rasa tidak nyaman pada perangkat wearable Thync, namun, Thync membuatnya merasa lebih terjaga, dan bisa fokus sepanjang hari. Dia juga mengakui, bahwa sebagai pecinta perangkat wearable, kesimpulan seperti ini memang agak bias.

Sementara itu, dokter dan pakar saraf Pablo Celnik dari Johns Hopkins University bersikap positif terkait mengubah otak si pemakai dengan gangguan arus listrik rendah.

“Perangkat wearable ini telah membuat kemajuan besar, ujarnya menambahkan.

Sel-sel saraf di otak dapat berkomunikasi melalui sinyal elektronik, jadi, penggunaan arus listrik untuk merangsang sel-sel otak itu memungkinkan. Namun, menurut Mussa-Ivaldi, itu adalah cara yang kejam jika diterapkan.

“Ketika itu dilakukan, kita tidak dapat merangsang satu neuron dalam waktu yang sama, tetapi justru akan merangsang ratusan atau bahkan ribuan neuron secara bersamaan. Jadi, kita tidak akan tahu persis apa yang sedang kita lakukan,” jelas Mussa-Ivaldi.

Perangkat wearable brain-zapping ini dapat digunakan sebagai pola dasar untuk merangsang otak, tetapi sulit untuk diukur. Namun, dapat memberikan suatu percobaan yang baru di bidang medis.

Perangkat Wearable dapat membantu pasien lumpuh

Mussa-Ivaldi secara khusus mengembangkan teknologi wearable untuk penderita lumpuh yang parah. Tim risetnya kini sedang mencari hubungan antara sensor di dalam otak manusia dan sensor otot bahu (beberapa pasien lumpuh otak masih bisa mengendalikannya sendiri), agar penderita lumpuh dapat kembali menggunakan anggota badan mereka sendiri.

Beberapa rumor ilmiah menyebutkan, bahwa ketika otak manusia dirangsang dengan arus listrik rendah, maka vitalitas seseorang akan menjadi lebih fokus. Meskipun teknologi ini masih dalam tahap awal, namun, menurut Mussa Ivaldi dan Pablo Celnik, risikonya tidak terlalu besar bagi si pemakai jika kekuatan arusnya rendah.

Namun, perangkat-perangkat wearable ini memang perlu lebih banyak uji klinis dan standar ilmiah yang ketat. (epochtimes/joni/rmat)

 

Share

Video Popular