Keterangan foto: Sepenggal puisi dari Du Fu (712 – 770) sastrawan kuno semasa dinasti Tang: “Tangkap raja penyamun sebelum ringkus kawanan penyamun”, bermakna, dengan cepat menangkap Jiang Zemin adalah tindakan paling krusial untuk menstabilkan kondisi masyarakat Tiongkok, selanjutnya masalah ekonomi dan politik di Tiongkok pun akan ikut terselesaikan dengan sendirinya.(Epoch Times)

Oleh: Liu Xiaozhen

Xi Jinping kembali dari kunjungan ke AS, Komisi Disiplin Pusat Lontarkan Sinyal “Tangkap Raja Penyamun Sebelum Ringkus Penyamun”

Ungkapan “tangkap rajanya dulu sebelum meringkus kawanan penyamun” sudah bukan pertama kalinya dilontarkan oleh media massa ofisial. Pada 29 September 2015 lalu saat Xi Jinping kembali dari kunjungan ke AS, media massa ofisial Partai Komunis Tiongkok/ PKT menterjemahkan makna kata-kata Wang Qishan saat berkomentar soal anti-korupsi “harus menciduk sang raja penyamun lebih dulu sebelum meringkus kawanan penyamun.”

Pada 24-26 September 2015, Sekretaris Komisi Disiplin Pusat Wang Qishan sedang melakukan survey di Fujian. Selama disana, Wang Qishan menyebutkan “4 Pola” yang disupervisi dan diterapkan dengan disiplin ketat, menegaskan “yang akan diperiksa secara hukum karena melakukan pelanggaran kedisiplinan berat dan terlibat kasus pelanggaran hukum hanya segelintir saja.” Begitu pernyataan ini keluar, sontak memicu dugaan berbagai pihak luar, “Apakah aksi pemberantasan korupsi akan mulai melambat?”

Pada 29 September 2015, media ofisial PKT “People’s Network” mengutip artikel yang dimuat oleh tabloid internal Komisi Disiplin Pusat yang menjelaskan ungkapan “4 Pola” yang disebutkan oleh Wang Qishan. Paragraf pertama artikel itu langsung menjelaskan bahwa “4 Pola” tersebut mengendor dalam hal kuantitas bukan berarti irama pemberantasan korupsi diperlambat, melainkan mengandung makna lain.

Paragraf kedua berisi puisi “Sebelum keluar dari lintasan strategis” sastrawan kuno dari zaman dinasti Tang bernama Du Fu (712 – 770), “Menarik busur sekuat mungkin, gunakan panah sepanjang mungkin. Panah kuda untuk jatuhkan lawan, tangkap raja penyamun sebelum ringkus kawanan penyamun. Tidak bisa sembarangan membunuh orang, setiap negara ada teritorialnya masing-masing. …….”

Paragraf ketiga dijelaskan, “Saat dua pasukan berhadapan, yang diutamakan adalah taktik dan strategi perang yang jitu untuk mengalahkan musuh dan meraih kemenangan.”

Artikel itu kembali menegaskan bahwa “pemberantasan korupsi adalah ajang perang yang tidak boleh kalah.”

Pengamat politik Zhou Xiaohui menjelaskan, puisi di atas memiliki makna inti yakni “tangkap raja penyamun sebelum ringkus kawanan penyamun”. Dan dilatar belakangi sinyal yang dilontarkan oleh pemerintahan Xi Jinping yakni De-Jiang-isasi, membidik Jiang Zemin, dan lain-lain, serta petinggi PKT menghujat Jiang pada Rapat Beidaihe, lebih 180.000 orang mengajukan petisi “tuntut Jiang” di pengadilan dan kejaksaan, semua ini adalah bukti bahwa Jiang Zemin yang telah mendukung Xu Caihou, Zhou Yongkang, Guo Boxiong, dan Bo Xilai melakukan banyak kejahatan, telah berada dalam posisi sangat labil.

Jelang Kunjungan Xi ke AS, Dajiyuan Himbau Tangkap Jiang Zemin

Suatu kebetulan, 9 hari sebelum Komisi Disiplin Pusat mempublikasikan artikel di atas, tepatnya sehari sebelum kunjungan Xi Jinping ke AS, surat kabar Dajiyuan (Epoch Times) telah menerbitkan artikel berjudul “Tangkap Raja Penyamun Sebelum Ringkus Para Penyamun, Ciduk Jiang Zemin”. Dalam artikel disebutkan, Xi Jinping mulai memerintah setelah “Rapat Pleno ke-18” PKT. Saat itu (akhir 2012) dimulailah pemberantasan korupsi “pukul macan”, dengan sasaran utama kelompok Jiang Zemin.

Para pejabat dari kubu Jiang tidak berdiam diri menanti ajal, oknum yang bandel terus berupaya mengerahkan segala sumber daya bahkan menempuh cara “perang tak terbatas” untuk melawan Xi Jinping, tanpa mempedulikan dampaknya terhadap perekonomian bahkan terhadap keselamatan rakyat Tiongkok. Masyarakat Tiongkok pun terjebak dalam pergolakan, rakyat hidup di dalam ketakutan, kondisi stabilitas masyarakat RRT menjadi sulit dijaga.

Artikel menyebut nama-nama dari kubu Jiang yang akan terus menimbulkan masalah bagi pemerintahan Xi Jinping, karena orang kuat dan dalang utamanya Jiang Zemin belum dijatuhkan, sehingga masih terus menjadi motivasi utama bagi sisa-sisa kekuatan kubunya untuk terus melawan. Pada saat yang sama juga membuat banyak orang di dalam tubuh partai masih terus mengamati, dan tidak bisa menentukan pilihan yang benar.

Artikel mengutip kata-kata dalam puisi sastrawan Du Fu “tangkap raja penyamun sebelum ringkus kawanan penyamun” untuk menjelaskan, secara terbuka menangkap dalang korup Jiang Zemin dapat membantu kubu Xi untuk segera memenangkan perang melawan korupsi yang sarat akan marabahaya ini. Artikel menghimbau, “tangkap raja penyamun sebelum ringkus kawanan penyamun”, dengan cepat menangkap Jiang Zemin adalah tindakan paling krusial untuk menstabilkan kondisi masyarakat Tiongkok. Selanjutnya masalah ekonomi dan politik di Tiongkok pun akan ikut terselesaikan dengan sendirinya. Xi Jinping tidak hanya akan menang mutlak atas pasukan korup Jiang Zemin, sekaligus juga akan membawa perubahan besar terhadap masyarakat Tiongkok untuk menuju masa depan yang lebih cerah. (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular