Keterangan gambar: Dampak lintas batas dari pelammbanan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tampaknya lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. (foto internet)

Ketua Ekoonom Dana Moneter Internasional (IMF) Maury Obstfeld berpendapat bahwa pelambanan ekonomi Tiongkok pada 2016 ternyata memiliki dampak lintas batas yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Ia akan menjadi resiko utama untuk ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok di bawah target resmi lagi-lagi akan membuat guncangan bagi pasar keuangan global.

Dalam wawancara yang dimuat oleh situs resmi IMF, Maury Obstfeld mengatakan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok 2016 merupakan isu utama yang harus menjadi perhatian kita.

“Penurunan permintaan komoditas dan penurunan angka impor yang membuat tingkat pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun memberikan dampak yang lebih besar dari yang pernah kita perkirakan sebelumnya. Perusahaan BUMN Tiongkok sedang mengalami pelemahan solvabilitas, tantangan lain terjadi di pasar keuangan, fleksibilitas yang wajar dalam hal alokasi sumber daya secara keseluruhan, dan beberapa masalah restrukturisasi. Jika pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari target resmi, pasar keuangan global mungkin akan kembali terguncang. Namun, dengan melaksanakan metode lama untuk menggenjot pertumbuhan terbukti hanya akan memperpanjang ketidakseimbangan ekonomi. Bahkan mungkin menanam ranjau di jalan yang kelak akan dilalui,“ demikian penjelasannya.

Anjloknya harga saham seri A Tiongkok pada 2015 menjadi perhatian dunia. Meskipun Shanghi Composite Index menunjukkan kenaikan lebih dari 12 %, amplitude saham kumulatif tahunan mencapai 72 %. Namun dalam transaksi di hari pertama tahun 2016, indeks Shanghai dan Shenzhen anjlok 7 %, memicu jatuhnya harga saham seri A sampai transaksi harus dihentikan lebih awal. Bursa saham Asia Pasifik dan Eropa pun terkena imbasnya.

Di luar persoalan ekonomi Tiongkok, kata Obstfeld bahwa peningkatan guncangan di pasar negara berkembang juga menjadi resiko yang tidak bisa dianggap kecil.

Obstfeld berpendapat, sejauh ini devaluasi mata uang di negara berkembang telah berdampak yang melemahkan penyangga ekonomi negara yang bersangkutan. Namun, penurunan harga komoditas umum dapat memberikan dampak yang lebih besar kepada eksportir komoditas itu. Termasuk membuat nilai tukar mata uang lebih melemah dan mungkin saja menyebabkan melonjaknya angka inflasi, atau bahkan memperlihatkan borok pada kemampuan pembayan hutang yang selama ini dirahasiakan.

Obstfeld memperkirakan, pasar negara berkembang tahun 2016 akan menjadi pusat perhatian dunia. Dengan peningkatan resiko bagi negara berkembang, bagaimana the Fed mengelola proses kenaikan suku bunga pada 2016 beserta caranya untuk berkomunikasi dengan pasar akan menjadi kunci. Pasar negara berkembang dan kondisi keuangan dunia yang ketat sangat sensitif terhadap perubahan itu. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular

Ad will display in 10 seconds