Keterangan foto: Korean Central News Agency menyiarkan berita tentang uji coba bom hidrogen pertama. (AFP)

Oleh Qin Yufei

Korea Utara (Korut) mengumumkan uji coba peledakan bom hidrogen pada Rabu (6/1 2016) kemarin, memicu kecaman internasional. Beijing juga melakukan protes keras terhadap tindakan Pyongyang itu. Para ahli berpendapat bahwa Tiongkok mungkin saja akan menyetujui PBB memberlakukan sanksi bagi Korut dan hubungan kedua negara itu bisa berkembang semakin buruk.

Korea Utara pada 2009 mengumumkan pembatalan perundingan tentang nuklir dan berjanji akan melanjutkan program nuklir mereka, alasannya untuk menghadapi Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Associated Press mengutip komentar dari analis mengatakan bahwa meskipun telah ditentang oleh Tiongkok namun Korut tetap melanjutkan program nuklirnya, hal ini jelas akan memperburuk hubungan kedua negara itu. Selain itu, menjadi alasan Beijing untuk menyetujui PBB memberikan sanksi yang lebih keras kepada rezim Kim Jong-un.

Lokasi uji coba, Rabu (6/1/2016) itu begitu dekat dengan perbatasan Tiongkok, sehingga beberapa tempat di propinsi timur laut Tiongkok bisa merasakan getaran yang kuat seperti gempa.

Direktur Pusat Penelitian Ilmu Sosial Akademi Liaoning, Lu Chao mengatakan, hubungan kedua negara bisa menjadi semakin buruk. Diperkirakan pihak Beijing akan menegakkan sanksi yang baru dari PBB, selain itu mengambil sikap lebih keras dalam kerjasama ekonomi. Ia sendiri juga menduga bahwa di kemudian hari, perusahaan Tiongkok akan menghindari untuk melakukan bisnis dengan Korut, ini akan memiliki dampak besar terhadap ekonomi Korea Utara.

Xi Jinping mengasingkan Korut setelah ia berkuasa

Hubungan bilateral kedua negara mulai dingin sejak Kim Jong-un memegang kekuasaan pada 2011. Kim Jong-un sampai saat ini juga belum pernah berkunjung ke Beijing untuk ‘halal bihalal’ dengan penyandang dana utama dan sekutu paling dekat mereka. Dunia luar percaya bahwa Xi Jinping tidak berharap untuk menempatkan terlalu banyak modal politik di Korut.

Setelah Pyongyang mengumumkan percobaan senjata nuklir pada 2013, rezim Beijing mulai berbalik muka dan mendukung PBB memberikan sanksi baru bagi Korut. Xi Jinping dalam Forum Boao April tahun itu mengatakan bahwa tidak seorang pun yang harus dibiarkan demi kepentingan pribadi membuat situasi wilayah dan dunia jadi amburadul. Meskipun Xi tidak langsung menuding Korut, tetapi media percaya bahwa ini sudah merupakan suatu kecaman Beijing terhadap Korut.

Pada Juli 2014, Xi Jinping sebagai Kepala Negara Tiongkok untuk pertama kalinya mengadakan kunjungan resmi ke Semenanjung Korea, tetapi ia ke Seoul bukan Pyongyang. Menumbangkan perkiraan orang sebelumnya tentang praktik tradisional Partai Komunis Tiongkok/ PKT di masa lalu. Menurut David Kang, Guru Besar University of Southern California bahwa hal itu jelas adalah sikap tidak menomorsatukan Kim Jong-un.

Komentar media asing menyebutkan bahwa Xi Jinping melakukan hal yang di luar kebiasaan PKT itu mungkin untuk menunjukkan sikap sudah tidak sabar lagi dengan Korut karena persooalan program nuklirnya. Memang selama hampir 2 tahun terakhir pemimpin puncak dari kedua negara itu belum pernah saling berkunjung. Xi Jinping belum pernah berkunjung ke Pyongyang dan Kim pun belum pernah diundang ke Beijing. Sebaliknya Presiden Korea Selatan Park Geun-hye malahan sudang sering. Saat parade militer Beijing September tahun lalu, Kim Jong-un absen, sementara Park Geun-hye ditempatkan di V.I.P.

Kelompok Jiang zemin memiliki hubungan dekat dengan keluarga Kim

Media Inggris ‘Times’ memberitakan, Zhou Yongkang adalah jembatan penghubung antara kelompok Jiang Zemiin dengan keluarga Kim. Zhou sampai diundang ke Pyongyang pada 2010 untuk menghadiri parade militer setelah Kim Jong-il secara resmi menunjuk Kim Jong-un sebagai penggantinya. Zhou menjadi satu-satunya tamu asing yang berdiri sepanggung dengan Kim Jong-il.

Menurut ‘Times’, sejumlah diplomat menduga bahwa pengeksekusian paman Kim, Jang Seong-taek sangat mungkin memiliki kaitan dengan penangkapan Zhou Yongkang. Dilaporkan bahwa Jang Seong-taek dieksekusi (antara 8-12 Desember 2013) hanya beberapa hari setelah Zhou ditangkap pada 5 Desember 2016.

Kelompok Jiang lainnya, Zeng Qinghong juga memiliki hubungan erat dengan Kim Jong-il. Saat Zeng tiba di Pyongyang untuk membuka jalan bagi kunjungan Jiang Zemin ke Korea Utara pada Maret 2001. Ia mendapat sambutan yang luar biasa dari Kim. Pemerintah Korut sampai menerbitkan prangko foto Zeng bersama Kim Jong-il untuk mengenang pertemuan itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular