JAKARTA – Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia dituntut untuk memiliki industri dalam negeri yang berdaya saing tinggi agar tidak sekedar menjadi pasar negara-negara tetangga. Salah satu sektor yang dapat menjadi andalan masa depan dan masih mempunyai prospek untuk dikembangkan adalah industri makanan dan minuman (mamin).

“Hal ini karena didukung dengan sumber daya alam yang cukup potensial dari sektor pertanian, perikanan/kelautan, peternakan, perkebunan dan kehutanan,” kata Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Abdul Rochim di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (8/1/2016).

Selama ini Kementerian Perindustrian telah menjalankan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri mamin nasional. Menurut dia, kesiapan daya saing industri makanan dan minuman memasuki pasar bebas ASEAN atau MEA merupakan kunci utama untuk memenangkan persaingan.

Untuk itu, menurut Rochim, diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh stakeholder dalam mendukung langkah strategis tersebut, seperti peningkatan standar produk melalui penerapan SNI, peningkatan kualitas SDM melalui penerapan SKKNI, percepatan pembangunan infrastruktur, serta pengembangan Litbang. Dia menambahkan selain itu juga diperlukan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, penyelarasan kebijakan pusat dan daerah, serta penyederhanaan birokrasi perijinan dan investasi.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman, agar mampu bersaing di era MEA, pengusaha dan pemerintah perlu kerja sama lebih erat lagi dalam meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Menurutnya, untuk meningkatkan daya saing industri mamin dapat dibentuk dari produk yang berkualitas serta iklim usaha yang berpihak pada pertumbuhan. “Sekarang setiap kebijakan yang dikeluarkan harus dikaji apa dampaknya secara luas bagi MEA sehingga tidak merugikan industri dalam negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Rochim mengatakan, pembangunan industri mamin sangat berarti bagi masyarakat, karena tidak hanya bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman olahan di dalam negeri saja tapi juga berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah produk primer hasil pertanian. Bahkan, industri mamin mampu menjadi penggerak utama ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia dan mendorong tumbuhnya industri-industri terkait.

Menurut Rochim, industri makanan dan minuman mempunyai peranan penting dalam pembangunan sektor industri terutama kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri non migas. Ia menyebutkan, kontribusi industri mamin (termasuk tembakau) terhadap PDB industri non-migas pada triwulan III tahun 2015 sebesar 31 persen. Sedangkan laju pertumbuhan industri mamin pada triwulan III tahun 2015 mencapai 6,95 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri non migas sebesar 5,21 persen dan pertumbuhan PDB sebesar 4,73 persen.

“Industri makanan dan minuman pada 2016 diproyeksikan mengalami pertumbuhan sebesar antara 7,4 – 7,8%,” ungkap Rochim. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus menjalankan program pengembangan industri mamin ke depan. (asr)

Share

Video Popular