Keterangan foto: Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter mengenakan celana jean dan sabuk perkakas. Ia adalah pekerja sukarela organisasi pembangunan rumah tinggal Habitat for Humanity. (Getty Images)Oleh: Tao Yihui

Meninjau kembali apa yang terjadi selama setengah tahun terakhir pada diri mantan Presiden Amerika Serikat James Earl Carter, Jr. (Panggilan akrab yang disukai olehnya adalah Jimmy Carter), keyakinannya terhadap sang Pencipta bercampur dengan keteguhan perilakunya, dikisahkan kembali pada awal Januari tahun baru ini diharapkan memiliki makna yang istimewa.

Jimmy Cater dilahirkan dalam keluarga petani di Georgia AS, pada usia 5 tahun ia sudah dapat menjual kacang ke pasar. Pada 1977~1980 ia menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke 39. Carter yang telah pensiun, lebih berkonsentrasi pada kepentingan umum dengan topic bahasan mengenai perdamaian dunia, hak asasi manusia, demokrasi, perkembangan ekonomi dan lain-lain, selalu mendapatkan julukan “mantan presiden teladan”. Pada tahun 2002 ia mendapatkan hadiah nobel perdamaian. Belakangan ini, Jimmy Carter yang telah berusia 91 tahun dengan iman yang penuh ketaatan dan perilaku penuh tanggung jawab dan tenang sekali lagi menjadi bahan pemberitaan.

Pada 20 Desember, Carter datang terlambat ke gereja, ini merupakan kali pertama ia datang terlambat ke gereja dalam hidupnya. Penyebab yang tidak biasa ini adalah sebuah kemalangan yang tak terduga, yaitu beberapa jam sebelumnya cucu tercintanya yang berusia 28 tahun telah meninggal dunia. Menurut CNN, pada hari minggu 20 Desember itu Carter di Plains, Georgia dalam gereja tempat biasanya mengikuti kebaktian, ia telah mengumumkan kepada teman-teman seimannya bahwa Jeremy Carter, sang cucu telah meniggal dunia. Kemudian ia seperti biasa pergi ke Sekolah Minggu untuk menunaikan pekerjaan mengajarnya.

Menurut pemberitaan “The Atlanta Journal-Constitution“, Jeremy Shoulta, pendeta sekolah minggu menyatakan bahwa Carter telah menunaikan tugas mengajar di sana selama bertahun-tahun.

Jeremy Carter cucu Carter yang berusia 28 tahun merasa tidak enak badan, kemudian tidur sejenak, lalu jantungnya berhenti berdetak. Meskipun telah diusahakan pertolongan oleh pihak keluarga dan rumah sakit, pada penggal waktu malam sampai keesokan harinya (hari minggu), tetap saja tidak tertolong. Sebab-sebab kematiannya tetap tidak jelas.

Menghadapi kematian sang cucu tercinta, Carter yang berusia 91 tahun tidaklah runtuh, ia masih tetap seperti biasa pergi ke sekolah minggu, tetap seperti biasa melakukan pelayanan kepada orang lain. Jan Williams, teman seimannya yang satu gereja menyatakan, Carter adalah seperti itu, segala hal dalam hidupnya, tak perduli baik atau buruk, semuanya ia anggap sebagai pengalaman belajar, sikap hidupnya patut dihargai dan dihormati.

Secara optimis menghadapi segala hal dalam hidup, tak perduli baik ataupun buruk, ia secara optimis menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Sebelum peristiwa ini, menurut pemberitaan “New York Daily”, pada awal Agustus 2015, Carter didiagnose ada benjolan kecil pada organ livernya. Pada 3 Agustus, Carter menjalani pembedahan organ liver, namun ketika diambil benjolannya ditemukan bahwa sel-sel kanker telah menjalar diotaknya dan telah tumbuh 4 buah tumor melanoma ganas yang besarnya 2 mm.

Pada waktu meninggalkan rumah sakit, Carter mengira dirinya hanya dapat hidup beberapa minggu lagi. Ayah, adik laki-laki dan dua orang saudara perempuan Carter semua meninggal karena kanker pankreas. Carter menyatakan, “Tak perduli apapun yang terjadi, saya dapat sangat relax. Saya siap menerima segala macam kemungkinan (pasrah), bahkan bersedia memulai suatu petualangan baru.” Carter mulai menerima pengaturan dokter untuk menjalani terapi radioaktif.

Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 6 Desember, Carter dalam perkumpulan gereja mengumumkan bahwa sel-sel kankernya telah menghilang.

Perilaku Carter, mencerminkan bahwa ia memiliki iman penuh ketaatan, bahkan dalam kegiatan sehari-hari diikuti dengan perilaku yang teguh. Melihat ia dengan optimis menjalani kehidupan, dengan optimis memberikan persembahan. Menghadapi baik dan buruk dalam hidup yang semuanya dihadapi dengan optimis, sekalipun tanpa sebab yang jelas telah kehilangan sang cucu, ia masih tetap melepaskan rasa sentimentalnya dan melaksanakan komitmennya. Maka Tuhan pun memberinya mujijat dalam kehidupannya. (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular