Keterangan gambar: Di galaksi M83 yang jauhnya 15 juta tahun cahaya dari Bumi ada juga ledakan sistem bintang yang sangat mirip dengan Eta Carinae.(NASA/ESA/Hubble Heritage Team (STScI/AURA)以及R. Khan(GSFC and ORAU)

Oleh : Lin Yan

Untuk pertama kalinya, ilmuwan di NASA menemukan ledakan pada sistem bintang yang sangat mirip dengan Eta Carinae di ekstragalaksi menggunakan teleskop antariksa.

“Ledakan benda langit dengan sistem bintang supermasif ini merupakan hal yang jarang terjadi di alam semesta,” ujar Dr. Rubab Khan di di Goddard Space Flight Center NASA seperti dilansir laman NASA Rabu (6/1/2016).

Meskipun ingin menemukan ledakan seperti bintang ini di alam semesta jauh lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami, tapi pada 2015 lalu, para ilmuwan menemukan lima objek lain yang memiliki kemiripan ledakan bintang seperti Eta.

Hasil pengamatan dari tahun 2012 – 2014 pada tujuh galaksi tidak memperlihatkan kehadiran saudara kembar Eta Carinae. Tapi dalam survei 2015, ilmuwan menemukan 2 kandidat kembaran Eta Carinae di galaksi M83 yang berada 15 juta tahun cahaya. Tiga kandidat lainnya juga ditemukan masing-masing di galaksi NGC 6946, M101 dan M51 yang berada dalam rentang jarak 18 juta – 26 juta tahun cahaya.

NASA memaparkan, kelima objek ini memiliki karakteristik yang mirip dengan spektrum infrared dan sifat optic dari bintang Eta. Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap galaksi ini besar kemungkinan mengandung bintang supermasif dengan massa 5 – 10 kali dari massa matahari, tapi perlu lebih lanjut memastikan sifat dari bintang-bintang tersebut, dan sehubungan dengan ini, mungkin ilmuwan akan menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) generasi terbaru yang akan diluncurkan pada 2018 mendatang untuk mempelajarinya.

Bumi beruntung tidak terkena dampak dari ledakan bintang

Eta Carinae atau Eta Car jauhnya sekitar 7500 tahun cahaya dari Bumi, adalah sebuah sistem bintang ganda terbesar dan paling cerah di galaksi, terdiri dari dua bintang supermasif, dengan kecerahan 50,000 kali dari matahari. Salah satu bintang diantaranya itu memiliki massa sekitar 90 kali massa matahari, sementara massa dari bintang satunya lagi lebih kecil yakni sekitar 30 kali massa matahari.

Pada 20 tahun silam antara kurun 1838 – 1858, astronom berhasil mengamati ledakan Eta Carinae, menyemburkan materi dengan massa lebih dari 10 kali massa matahari, sehingga menjadi bintang yang paling terang di langit. Sementara Nebula di sekitarnya masih terus menyebar ke ruang angkasa hingga kini.

Namun, Eta Carinae lolos dari kematiannya karena alasan misterius. Pada 1940, Eta yang tadinya redup kembali menjadi terang. Oleh karena itu, menurut para ilmuwan bahwa Eta Carinae akan meletus lagi dalam dua puluh ribu tahun kemudian dan menjadi supernova.

Melansir laman “Daily Mail” Inggris Desember 2015 lalu, meskipun menurut ilmuwan bahwa ancaman dari ledakan supernova terhadap kehidupan di Bumi itu kecil, tapi jarak Eta sangat dekat dengan Bumi. Diperkirakan letusannya mungkin hanya sekitar 30 tahun cahaya jaraknya atau bahkan lebih dekat dari Bumi, sehingga orang-orang khawatir jika ada ledakan yang lebih kuat, hal ini akan menghancurkan semua kehidupan di Bumi, termasuk manusia.

Meskipun terjadi ledakan sinar gamma juga tidak menjadi masalah, karena jarak “kita darinya tidak terlalu dekat, lagipula ia tidak mengarahkan ke kita, ungkap astrofisikawan Dr. Alan Duffy. (Epochtimes/joni/rmat)

 

 

Share

Video Popular