Keterangan foto: Buku “Tombstone: An Account of Chinese Famine in the 1960s”, karya Yang Jisheng warga Beijing Tiongkok, yang mengungkap bencana kelaparan besar pada 1960-an memperoleh penghargaan Stieg Larsson Prize dari Swedia. (internet)

Oleh: Yang Yifan

Pada Oktober 2015, Yang Jisheng penulis buku “Batu Nisan (Mùbēi / 墓碑. Judul dalam bahasa Inggris: “Tombstone: An Account of Chinese Famine in the 1960s”)” yang mengisahkan “Kelaparan Besar” mengerikan di daratan Tiongkok pada awal abad lalu di tahun 1960-an sebagai latar belakang, mendapatkan penghargaan Stieg. Larsson Prize 2015 Swedia.

Dalam kata sambutan pada upacara penghargaan, Yang Jisheng mengecam Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang hingga sekarang masih tetap menutupi kebenaran “Bencana Kelaparan”, dan ia mengilas balik tragedi “Bencana Kelaparan” itu serta menyebutkan bahwa mati kelaparan adalah cara kematian yang paling sengsara, ketika itu terdapat lebih dari 36 juta orang yang “tersiksa mati bagaikan dicincang” dari dalam tubuh mereka sendiri.

Daniel Poohl selaku ketua juri Stieg.Larsson Prize mengatakan, “Bencana Kelaparan Besar adalah salah satu trauma kolektif terbesar bangsa Tiongkok, Yang Jisheng mendapatkan penghargaan Stieg.Larsson Prize lantaran ia sebagai wartawan dengan keteguhan dan keberanian besar telah menggali sejarah dan mengungkap kebenaran.”

Dalam kata sambutan untuk berterima kasih, Yang Jisheng menyatakan bahwa ia dengan perasaan gundah menerima penghargaan kali ini. Ia berduka demi 36 juta jiwa orang Tiongkok yang mati kelaparan, berduka demi tragedi umat manusia yang selama lebih dari 50 tahun pasca kejadian masih saja ditutup-tutupi, bersedih karena orang-orang yang ingin mengungkap tragedi ini menerima tekanan, serangan dan fitnahan.

Yang Jisheng mengatakan, ia mencatat sepenggal sejarah pahit Bencana Kelaparan Tiongkok bukan hanya tergerak oleh hati nurani pribadi, lebih dari itu adalah demi menyimpan memori bangsa, agar orang-orang tetap mengingat petaka manusia yang gelap dan berdosa, selanjutnya menghindari jauh-jauh petaka manusia yang gelap dan berdosa itu.

Dalam kata sambutan Yang Jisheng sekali lagi mengilas balik kengerian Kelaparan Besar itu, sejak 1958 hingga 1962 di Tiongkok itu tidak ada peperangan, wabah dan tahun-tahun tersebut bercuaca normal. Oleh karena pada saat itu kekuasaan politik yang amat sangat terpusat dan kesalahan dari sistim ekonomi, maka telah menyebabkan puluhan juta rakyat Tiongkok meninggal secara mengenaskan karena kelaparan. Kelaparan sebelum mati lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Sayuran yang tumbuh liar, kulit pohon pun telah dilahap habis, tahi unggas, tikus, kapas dan tanah tak luput dari incaran untuk sekedar digunakan mengganjal perut. Mayat dan warga pendatang yang kelaparan, bahkan kerabat sendiri semuanya telah dijadikan santapan untuk mengisi perut.

Yang Jisheng mengatakan, mati kelaparan adalah cara mati yang paling sengsara, adalah “pencincangan” terhadap organ dalam manusia. Penggerusan diri sendiri, penguraian diri sendiri hingga ajal menjemput berlangsung sekitar satu bulan, proses ini teramat kejam dan teramat menyengsarakan, setara dengan “dihukum mati dengan dicincang” dari bagian dalam tubuh.

Stieg.Larsson Prize didirikan demi memperingati almarhum penulis merangkap wartawan Swedia Stieg.Larsson, oleh kantor penerbit Norstedts Swedia bersama ayah dan adik Larsson yakni Erland and Joakim Larsson, penghargaan diberikan kepada individu atau organisasi yang telah melakukan kontribusi dalam HAM. Penghargaan ini dimulai sejak 2009, dibagikan setiap tahun satu kali, dengan hadiah uang sebesar 200 ribu krona Swedia (setara dengan 315 juta rupiah). Tahun ini adalah ke tujuh kalinya, Yang Jisheng merupakan orang Tionghoa pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Menurut kabar, pada awal November 2015 Yang Jisheng sudah menyumbangkan seluruh hadiah uang senilai 200 ribu krona Swedia itu kepada “Medecins Sans Frontieres” Organisasi bantuan medis kemanusiaan indipenden yang berkantor pusat di Paris.

Yang Jisheng (76) pernah bertahun-tahun bekerja sebagai wartawan Xinhua News, setelah ia pensiun pada 2001 menjabat anggota dewan redaksi majalah “Reformasi Tiongkok” dan sejumlah majalah lainnya, mulai tahun 2003 dia diangkat sebagai wakil presiden majalah “Yanhuang Chunqiu (China Through the Ages)” yang kritis, pada 2015 ia dipaksa untuk melepas jabatannya.

Sejak 1990-an, Yang Jisheng menantang risiko politik yang amat besar, ia mulai menyelidiki penyebab sebenarnya dari “Bencana Kelaparan Besar” itu. Melalui penyelidikan mendalam selama bertahun-tahun di daratan Tiongkok maka terlahirlah karyanya yang memperoleh penghargaan tersebut. Pada Mei 2008, buku itu untuk kali pertama diterbitkan oleh Hong Kong Cosmos Books Limited, sekarang buku itu telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan lainnya.

Dalam buku Yang Jisheng berdasarkan fakta dan angka yang akurat itu mengungkapkan bahwa antara 1958 – 1962, karena bencana akibat kebijakan ekonomi PKT di bawah kepemimpinan Mao Zedong yang sangat ambisius telah merenggut nyawa setidaknya 36.000.000 rakyat pedesaan Tiongkok mati kelaparan. (hampir setara dengan penduduk Jatim yang 38,5 juta jiwa per 2015. Mengenai bencana kelaparan itu juga dimuat di halaman internasional salah satu harian terkemuka Indonesia pada 06/01 lalu. Red.) (lin/whs/rmat)

 

Share

Video Popular