Membengkaknya hutang perusahaan BUMN Tiongkok dan menghindari reformasi sedang menancam kebangkitan ekonomi Tiongkok. (AFP)

 

Oleh Qing Yufei

Jumlah hutang perusahaan BUMN yang terus membengkak dan menghindari reformasi membuat negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia ini berada dalam kondisi yang kian sulit. Wall Street Journal melaporkan bahwa pasar global lagi-lagi dikejutkan oleh guncangan besar di pasar saham Tiongkok akhir-akhir ini.

Para ekonom dunia khawatir otoritas Tiongkok akan kembali melepas kesempatan untuk mereformasi masalah krusial yang terletak internal Tiongkok. Dengan tidak berusaha untuk mengubah cara lama, maka Tiongkok akan menghadapi pertumbuhan ekonomi lamban, produktivitas tenaga kerja terancam rendah, dan terjadi stagnasi pada kekayaan rumah tangga Tiongkok. Kondisi ini disebut ‘Perangkap Kelas Menengah’.

Guru Besar University of California, San Diego, Victor Shih mengatakan bahwa era pertumbuhan mudah yang pernah dialami Tiongkok itu sudah berakhir. Otoritas Beijing kini sedang menghadapi pilihan yang kian sulit. Beberapa ekonom tidak mengesampingkan kemungkinan ekonomi Tiongkok bisa menjadi merosot secara tajam, yang akan mengakibatkan hutang melonjak, kepercayaan konsumen menurun tajam, mata uang Tiongkok merosot, angka pengangguran meningkat dan pertumbuhan makin menurun.

Skanario yang lebih dimungkinkan adalah bahwa otoritas Beijing akan terus mendukung pertumbuhan dengan mengucurkan lebih banyak untuk perusahaan BUMN yang memiliki skop internasional dan melakukan pembangunan infrastruktur yang kurang prioritas, atau dengan menambal lubang hutang. Tetapi bakal kehilangan investasi produktif yang justru menyeret ekonomi Tiongkok ke dalam situasi kelesuan jangka panjang.

Kepala Ekonom Bank Natixis Prancis Alicia Garcia Herrero mengatakan, pemerintah Tiongkok tidak ingin merasakan sakit, tetapi makin lama masalah ditunda pemecahannya kondisi akan semakin memburuk.

Para pemimpin Tiongkok juga menyadari resiko yang harus mereka hadapi. Selasa pada 5 Januari lalu, Perdana Menteri Li Keqiang menekankan perlunya untuk berfokus pada inovasi, merangsang titik pertumbuhan ekonomi yang baru, menggalakan industri tradisional.

Memilih menerima atau menolak di antara pertumbuhan ekonomi dengan polusi udara

Wall Street Journal melaporkan, di Kongres III Tahun 2013, otoritas Beijing telah mengembangkan sebuah cetak biru pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius, dan berjanji untuk membiarkan pasar memainkan peran yang menentukan, berkeinginan untuk merestrukturisasi ekonomi agar lebih menguntungkan para pengusaha kecil dan konsumen.

Namun, ekonom memberikan komentarnya bahwa sejauh ini progesivitasnya hanya mengecewakan orang. Tujuan politik yang menjadi batu sandungannya. Otoritas Beijing saat itu berjanji untuk membuat pendapatan per kapita naik sekian-sekian antara tahun 2010 – 2020. Guna mencapai target itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok harus dipertahankan mencapai rata-rata 6.5% setiap tahun.

Para analis berpendapat bahwa dengan menurunnya permintaan dunia, serta berkurangnya tenaga kerja, maka Beijing perlu memikirkan suatu cara untuk merangsang pengeluaran guna menunjang pertumbuhan. Tetapi justru membuat mereka tidak sempat memikirkan restrukturisasi ekonomi.

Victot Shih mengatakan, target pertumbuhan itu sangat mahal dan tidak efisien. Pemimpin Beijing berharap menggapai semua hasil yang baik, termasuk pertumbuhan yang cepat, bisa melakukan reformasi dengan tingkat stabilitas yang tinggi, tetapi tidak menyadari kebutuhan akan memilih di antara menerima atau menolak.

Di antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat polusi udara. Tahun lalu, industri berat di Propinsi Hebei diijinkan berproduksi untuk mencapai target produksi tahunan mereka, yang menyebabkan ibukota kemudian diselimuti kabut tebal beracun. Bila Beijing mengijinkan penutupan pabrik maka pertumbuhan ekonomi pasti akan menurun dan pengangguran pasti meningkat. Sama saja dengan menanamkan bibit gejolak masyarakat.

Memilih antara reformasi perusahaan BUMN atau naiknya jumlah pengangguran

Masalah yang paling sulit yaitu bagaimana menangani perusahaan BUMN yang memiliki status pemimpin dalam strategi ekonomi Tiongkok. Meskipun sejumlah perusahaan BUMN sudah dililit hutang dan terus merugi, tetapi masih terus beroperasi. Perusahaan-perusahaan itu dijuluki ‘mayat berjalan’.

Li Keqiang dalam kunjungannya di kota Taiyuan pada awal bulan ini mengeluh bahwa perusahaan ‘mayat berjalan’ ini salah satu yang mengakibatkan kerusakan ekonomi, mereka ini seharusnya tidak lagi menerima pinjaman dana untuk mengurangi kelebihan pada pasokan besi dan baja, juga batubara nasional.

Sekitar 80 % dari total pemberian pinjaman nasional disedot oleh perusahaan BUMN, namun tingkat pengembalian yang mereka berikan masih kurang dari 1/3 yang diberikan oleh perusahaan swasta, juga tidak sampai setengah dari yang diberikan oleh perusahaan asing.

Tetapi untuk merampingkan organisasi raksasa itu (tidak termasuk rencana likuidasi) sudah dapat menimbulkan tantangan besar. Menurut kalkulasi Bank Societe Generale Prancis bahwa, sekitar 1.7 juta warga Tiongkok akan kehilangan pekerjaan atau terkena PHK dan kredit macet sebesar USD. 157.1 miliar hanya karena penurunan 20 % kapasitas produksi nasional dari industri besi dan baja, juga batubara. Dengan lambannya pertumbuhan, protes buruh terus bertambah, jumlah unjuk rasa bulan Desember yang baru lalu mencapai rekor tertinggi selama ini.

Ekonom asing menyarankan otoritas Beijing agar secepatnya melakukan reformasi. Guru Besar Ilmu Ekonomi Cornell University, mantan Kepala Divisi Tiongkok di IMF, Eswar Prasad percaya bahwa target pertumbuhan yang lebih tinggi akan lebih mudah dicapai Tiongkok setelah reformasi dan usaha untuk menyeimbangkan kembali situasi yang ada, tanpa itu tetapi mengandalkan pertumbuhan cepat melalui ekspansi kredit, itu justru bisa mendatangkan bahaya. (Sinatra/asr)

Share

Video Popular