- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Mendidik Anak Membantu Pekerjaan Rumah

Erabaru.net. Menyuruh anak belajar mengerjakan pekerjaan rumah? Baik sih baik, tetapi mereka hanya malah bikin runyam saja! Barangkali kebanyakan para orang tua beranggapan demikian.

Daripada nantinya malah bikin repot, mendingan dikerjakan sendiri saja, biarkan mereka duduk manis sambil nonton TV.

Namun apakah Anda pernah memikirkannya, dalam mendidik anak terdapat semacam kebiasaan baik yang mutlak bukan urusan membalikkan telapak tangan, melainkan harus dipupuk secara perlahan-lahan baru berhasil.

Sulit dibayangkan, Anda pada 20 tahun lalu harus mengerjakan sendiri setiap pekerjaan, namun sesudah lewat 20 tahun, tiba-tiba Anda memberitahu sang anak, “Nak, sekarang engkau sudah dewasa, kerjakan sendiri pekerjaanmu.” Kemungkinannya mereka betul-betul tidak mampu mengerjakannya.

Oleh karena itu, semakin dini membiarkan si anak mengikuti sebagian pekerjaan rumah, maka bisa membina rasa tanggungjawab mereka dan kemampuan untuk mandiri.

Bagaimana menyuruh anak menjadi seorang asisten cilik yang rileks tapi juga riang? Mari kita coba jurus gaib di bawah ini:

Titik tolak

Pekerjaan rumah adalah titik tolak terbaik bagi anak untuk dapat mengurusi dirinya sendiri.

Sederhana mudah dilakukan, mudah dikendalikan.

Sebenarnya sesudah si anak belajar berjalan, Anda sudah boleh menyuruh mereka mengerjakan sebagian hal-hal kecil, misalkan menyodorkan sandal kepada sang ayah, membantu ibu mengambilkan barang dan lain sebagainya.

Walau pekerjaannya kecil, yang terpenting ialah memupuk kesadaran si asisten cilik tersebut.

Sesudah berusia 2-3 tahun, kemampuan meniru anak sangat kuat, segala hal ingin sekali dicobanya.

Tak ada salahnya terkadang memberikan mereka kesempatan.

Misalnya memberi mereka sapu kecil, penyedot debu mainan dan lain sebagainya, dengan begitu juga bisa melarutkan diri anak ke dalam “peranan pekerjaan rumah”.

Di taman kanak-kanak setiap hari saya membawa anak-anak secara tidy up (merapikan) kelas, dari hasil pengamatan ditemukan sebagian anak acuh tak acuh, sebagian lagi mengikuti dengan antusias.

Dengan sikap berbeda tentu saja hasilnya juga tidak sama.

Sebetulnya pada banyak kesempatan, para anak tidak hanya menerima pengaruh kelakuan orangtua, juga menerima pengaruh sikap dari orangtua.

Sebagai guru nomor satu dari anak-anak, apakah Anda merasa tertarik dengan bekerja sama dengan orang, di dalam pekerjaan rumah tangga apakah Anda dengan riang larut di dalamnya, apakah Anda menyukai lingkungan yang bersih, hal-hal tersebut bisa berdampak kepada sikap anak.

Jikalau Anda sendiri malah merasakan pekerjaan rumah tangga sangat sengsara dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, bagaimana mungkin anak bisa menjadi proaktif?

Tim kerja

Sebagai anggota masyarakat modern, kemampuan bekerja sama dengan orang lain adalah kemampuan penting yang tidak boleh kurang.

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama anak, bukankah hal itu sebuah peluang bagus bagi pembinaan dalam bekerja sama.

Contoh: Membuat rencana kerja secara bersama, membagi pekerjaan, gotong royong, penyelesaian, pesta penutupan.

Berikan peluang kepada anak untuk berpikir, memutuskan dan bertindak.

Misalnya saja, kamar tidur mana yang dibersihkan terlebih dahulu, Anda mengerjakan apa, saya mengerjakan apa, memakai peralatan apa, bagaimana merayakannya dan lain sebagainya.

Mencuci dan menjemur cucian

Ini adalah salah satu pekerjaan rumah tangga yang agak sesuai dengan para sahabat kecil.

Pengelompokan pakaian sesuai macamnya, mencari setelan pasangan yang benar, perletakannya, penjemuran, pelipatan dan lain sebagainya.

Pada kesempatan itu juga memperkokoh pengenalan anak terhadap penghitungan dan warna.

Anak saya paling suka menyodorkan kepada saya jepitan pakaian, setiap kali satu buah, saking gembiranya tidak merasa capek. Jangan lupa, yang paling penting adalah keikutsertaan!

Dapur

Dapur di dalam banyak keluarga Tionghoa merupakan daerah terlarang bagi anak.

Namun sesuai pengetahuan saya, banyak ibu-ibu di Barat tidak berpikir demikian, ada ibu yang dengan konsekuen menempatkan si bayi di dalam kursi tinggi (khusus anak) dan membawanya ke dapur, menonton sang ibu yang sedang bekerja, ada ibu yang menyiapkan bangku khusus bagi anak yang sudah agak besar, mengatur mereka duduk di atasnya dan mengerjakan sebagian pekerjaan mini.

Apabila anda tertarik, tak ada salahnya mencoba, tetapi betul-betul harus mengutamakan keselamatan!

Mendidik anak tidak selamanya di dalam kelas saja dan di depan meja belajar.

Asalkan anda perhatikan dengan seksama, sesungguhnya dalam setiap hal adalah peluang bagus dalam membantu anak tumbuh.( Epochtimes/Whs)