Madaya, kota terisolasi karena perang Suriah menyebabkan warga menderita kelaparan, bahan makanan dijual dengan harga selangit. (Dominique Faget/AFP)

Kota Madaya, Suriah yang terisolasi oleh peperangan mengalami kekurangan bahan makanan dan harganya pun sangat tinggi. Banyak masyarakat terpaksa makan dedaunan dan rumput untuk bertahan hidup. Konvoi kendaraan yang membawa bantuan makanan dari PBB telah tiba di kota itu pada Senin (11/1/2016).

Laporan CNN menyebutkan bahwa kota Madaya yang dikuasai militan pemberontak sejak bulan Juli tahun lalu sudah dikepung oleh pasukan pemerintah Suriah beserta sekutu, karena itu hubungan dengan luar terputus dan warga kota itu tidak bisa menerima bantuan internasional sejak bulan Oktober tahun lalu.

Banyak warga kota itu sudah berada dalam kondisi kelaparan. Seorang ahli medis lokal memberitahu reporter CNN bahwa tempat pengobatan sudah tidak berdaya memberikan pertolongan lain kepada pasien kecuali gula dan air garam.

Jurubicara Program Pangan Dunia (WFP) Abeer Etefa mengatakan, World Food Programme, Palang Merah Internasional dan The Syrian Arab Red Crescent (SARC) sudah mendatangkan sejumlah kendaraan yang membawa makanan untuk sekitar 40.000 orang warga bertahan hidup selama 1 bulan. Kendaraan konvoi juga membawa obat-obatan dan selimut. Hari Senin, ke 44 kendaraan truk membawa bahan makanan sudah tiba di kota Madaya.

Sumber menyebutkan bahwa rombongan kedua dari bala bantuan sudah mencapai Propinsi Idlib yang terletak di bagian utara Suriah. Bantuan makanan dan obat-obatan itu diperuntukkan kepada pasukan pro pemerintahan Assad yang bertahan di Foua dan Kefraya.

PBB pekan lalu menerima laporan tentang sudah terjadi korban tewas karena kelaparan. Meskipun Madaya hanya berjarak 31 km dari ibukota Damaskus, tetapi harga bahan makanan sudah selangit. Contohnya, harga tepung di Damaskus adalah USD. 0.79/kg, susu sapi USD. 1.06/ltr tetapi di Madaya tepung dijual seharga USD. 120/kg, susu sapi USD. 300/ltr dan beras berharga USD. 150/kg

Seorang ahli medis yang bekerja di rumah sakit lapangan Dr. Khaled Mohammed mengatakan, dalam 48 jam terakhir sudah ada 5 orang yang mati kelaparan, di antaranya termasuk seorang bocah berumur 9 tahun. Namun katanya, karena sekitar luar kota Madaya sudah ditanami banyak ranjau sehingga penyelundupan makan sangat berbahaya.

Direktur Amnesti Internasional untuk Timur Tengah Philip Luther menyebutkan, masalah kelaparkan di Madaya hanya merupakan bagian kecil dari kesengsaraan akibat perang saudara Suriah. “Warga Suriah sedang mengalami kesengsaraan dan kematian, pasukan pemerintah dan tentara pemberontak semua menganggap kelaparan sebagai senjata perang”. Ia menuduh kedua pihak itu sedang “mempermainkan nyawa dari jutaan penduduk Suriah”. Ia juga menekankan bahwa membiarkan kelaparan warga sipil sebagai taktik peperangan itu termasuk kejahatan perang.

Seorang warga Madaya bernama Louay memberitahu organisasi Amnesti Internasional bahwa ia terakhir kali merasakan makan kenyang itu sudah sekitar 1,5 bulan yang lalu. Selama ini ia hanya bisa bertahan hidup dengan makan dedaunan dan minum air. Namun, sekarang musim dingin sudah tiba dan tidak ada lagi dedaunan yang bisa digunakan untuk makan, ia hanya bisa pasrah.

Seorang wanita bernama Um Sultan mengatakan, kelaparan membuat suaminya tampak seperti tengkorak hidup, ia hanya mampu berbaring. Sebuah foto hasil jebretan repoter CNN menunjukkan, seorang wanita sedang merebus rumput untuk makanannya. (Epochtimes/Sinatra/asr)

Share

Video Popular