Keterangan foto: Seragam yang berlengan pendek adalah kaos berwarna kuning dan semuanya tertera tulisan U.S.NAVY. Seragam berlengan pendek ini juga merangkap sebagai baju tidur kami. Warna lambang AL adalah biru dan emas, dalam hati saya kegirangan, karena kedua warna itu adalah warna kesukaan saya!

Oleh: Mu Chunxiao

Malam Pertama Kamp Pelatihan

Kamp pelatihan prajurit baru AL Amerika bertempat di tepi Danau Michigan, kota Great Lakes, Illinois. Tidak ada yang berbicara, setiap orang membawa map dokumen kuning di tangan, dan berbaris masuk begitu turun dari bus. Pintu itu adalah jurang pemisah antara prajurit dengan warga biasa.

Memasuki pintu, pemandangan seperti video di Youtube kembali terlihat, kami meletakkan map dokumen ke dalam sebuah keranjang. Sejumlah prajurit baru yang telah tiba di tempat ini beberapa hari lebih awal sedang menyapu. Mereka semua mengenakan T-shirt kuning AL dan celana panjang sport. Di pinggang setiap orang tersemat sebuah kaos kaki putih. Di tengah kondisi tegang seperti itu saya tidak bisa tertawa, hanya merasa heran mengapa kaos kaki itu disematkan di pinggang.

Suasana di kamp pelatihan sangat berbeda dengan di kantor perekrutan, seluruh instruktur hampir selalu bicara dengan teriakan keras. Sebelum berangkat, perwira perekrut etnik Meksiko itu sempat mengatakan pada saya, begitu tiba di kamp pelatihan, sikap mereka terhadap kalian akan berbeda, pekerjaan mereka adalah berteriak keras, mereka dilatih untuk menakut-nakuti kalian dengan sikap seperti itu. Jadi saya sudah tak kaget lagi.

Tapi bagi para remaja AS yang telah terbiasa dimanja (prajurit baru berdarah Amerika yang mengatakan demikian) mungkin ada yang tidak tahan. Prajurit baru harus bangun pagi sekali untuk cek kesehatan, kemudian harus menempuh perjalanan panjang hingga tiba di kamp pelatihan, segera menyelesaikan urusan administratif untuk mulai bekerja, peserta sudah sangat kelelahan. Instruktur tahu apa yang ada dalam pikiran peserta, dan mereka berteriak pada kami, “Anda semua tidak tidur, kami pun sama dengan kalian, kami juga tidak tidur.” Pada video terlihat di pundak kiri setiap instruktur terdapat pita merah, menandakan mereka adalah perwira barak yang bertanggung jawab untuk area tinggal.

Kami berbaris dua baris di lorong, tidak boleh membawa makanan, makanan di dalam saku semuanya harus dibuang ke tempat sampah. Bagi yang membawa telepon genggam, maju selangkah, diberi kesempatan menelepon memberi kabar singkat bagi keluarga di rumah. Saya jadi menyesal meninggalkan telepon genggam di rumah, setidaknya masih ada satu kesempatan berbicara dengan ibu di rumah.

Hal pertama yang dilakukan lagi-lagi uji narkoba. Setelah uji narkoba kami disuruh mengambil seragam. Kami lebih dulu mengukur ukuran kaki dengan satu alat, begitu berdiri di atasnya bisa langsung menunjukkan ukuran sepatu. Kami menerima sepatu olahraga sesuai ukuran tersebut.

Yang kami terima kali ini adalah seragam olahraga, satu stel seragam olahraga baju lengan panjang dan celana panjang berikut dua stel seragam olahraga baju lengan pendek dan celana pendek. Baju lengan panjang adalah tipe kaos bertopi (Hoody), di bagian dada terdapat tulisan besar U.S.NAVY berwarna emas, di bagian dalam ada lapisan wol, khusus untuk cuaca dingin. Seragam yang berlengan pendek adalah kaos berwarna kuning, dan celana pendek berwarna biru, semuanya tertera tulisan U.S.NAVY. Pada masa persiapan dan pada masa pelatihan kami tidak boleh mengenakan pakaian biasa, seragam berlengan pendek ini juga merangkap sebagai baju tidur kami. Warna lambang AL adalah biru dan emas, dalam hati saya kegirangan, karena kedua warna itu adalah warna kesukaan saya!

Usai mengukur ukuran sepatu, seorang instrutur wanita membariskan peserta wanita, memperkirakan ukuran baju. Kami membalikkan badan, instruktur memberitahu kami mengambil T-shirt dengan ukuran yang sesuai dengan tinggi badan kami. Saya jelas-jelas merasa salah satu ukuran tidak cocok, dia mengatakan pada saya agar dicoba dipakai, dan mengatakan, ukuran ini cocok, saya katakan tidak cocok, dia menyebut kata per kata, “Percaya pada saya”. Melihat matanya yang melotot sebesar bel, saya pikir, sudahlah. Terlebih lagi karena sudah letih, dan ingin sekali segera mengakhiri hal ini. Kemudian saat kami diajarkan cara melipat seragam, akhirnya kaos saya itu digantikan dengan ukuran yang lebih cocok.

Setelah menerima seragam olahraga AL, kami berganti pakaian dan menanggalkan pakaian dan sepatu biasa kami. Di depan setiap orang ada sebuah kardus kecil, semua pakaian dan barang pribadi kami yang masih diinginkan dimasukkan untuk dikemas dan dikirim kembali ke rumah. Yang tersisa semuanya dimasukkan ke dalam dua keranjang besar: baju yang sudah tidak diinginkan dimasukkan ke keranjang sebelah kiri, sedangkan keranjang sebelah kanan berisikan pakaian dan sepatu yang akan disumbangkan pada Goodwill. Saat itu, yang melekat pada tubuh kami hanya barang milik AL.

Setelah menerima pakaian, kami diberikan sandal jepit, busa, empat kantong untuk laundry, satu kantong untuk mengemas pakaian. Sebuah seabag besar, adalah tas ransel berbentuk silinder panjang berwarna hijau, saat tidak digunakan untuk mengemas barang bisa dilipat agar tidak makan tempat.

Di dinding terdapat beberapa baris tas ransel berwarna hitam, masing-masing mengambil satu sesuai urutan. Setiap orang diberi sebuah kunci, yang juga tertera tulisan Navy di atasnya. Tas ransel dan kunci adalah buatan Tiongkok, tapi label bertulisan “Made in China” tidak boleh tertera. Seperti pelajaran wajib kami, dalam pelatihan resmi instruktur menyuruh kami merobek label tersebut dan membuangnya di tong sampah di tengah barak, sedangkan yang buatan AS dibiarkan. Mengapa demikian? Saya pun tidak tahu.

Instruktur mencocokkan barang yang kami terima satu persatu, kartu belanja di dalam pangkalan yang telah disiapkan AL, kartu ATM dan buku cek kami sendiri, uang receh, kartu identitas dan lain-lain, semua harus dimasukkan ke dalam kaos kaki putih yang disebut valuable sock, sekarang saya baru mengerti kegunaan kaos kaki putih itu. Menyimpan barang di dalam kaos kaki seperti ini, apakah diilhami dari sinterklas? Selain kartu identitas, ATM, dan kaos kaki putih ini, benda yang diperbolehkan dibawa adalah sebuah kamus saku dan buku agama kepercayaan kami masing-masing.

Saya mencoba memasukkan dompet saya ke dalam kaos kaki, meskipun bisa masuk, instruktur mengatakan terlalu besar, saya diharuskan mengirimnya pulang ke rumah. Uang tunai dan identitas tidak begitu nyaman digunakan jika dimasukkan ke dalam kantong ziplock. Jika Anda juga akan mengikuti pelatihan AL, sebaiknya Anda membawa sebuah dompet kartu kecil.

Sebaiknya juga bawa serta sebotol kecil lotion pelembab kulit. Jika tidak, berbelanja secara kolektif baru dapat dilakukan dua minggu setelah pelatihan resmi dimulai. Kulit yang tidak diberi pelembab selama 3-4 minggu, bukankah cukup menyiksa?

Setelah selesai menerima seragam, kami duduk disana untuk belajar, tidak boleh tidur semalaman. Mengantuk pun tidak boleh. Inilah alasan mengapa saya menggunakan istilah “malam pertama prajurit baru” dan tidak menggunakan istilah “hari pertama”. Karena kami masuk kerja hari pertama pada malam hari, bukan pagi hari.

Di samping kami ada orang yang akan lalu lalang mengawasi kami, siapa yang kedapatan tidur akan dipanggil ke belakang ruang kelas dan berdiri. Lebih nyaman duduk daripada berdiri, saya menahan diri supaya tidak tertidur, sambil berdiam saya biarkan peserta sebelah menulis istilah seragam AL, dan duduk disana sambil menghafalkan istilah. Peserta wanita di sebelah mengeluh, sudah seletih ini, mana bisa belajar apa-apa lagi. Memang benar, tapi saya berpikir lagi, mungkin yang diperhatikan AL bukan pada berapa banyak yang bisa dipelajari dalam beberapa jam ini, melainkan seberapa kuat mental dan tekad para peserta.

Pada saat matahari terbit, saya mengenakan seragam olahraga AL dan memanggul seabag, akhirnya tiba di barak kami. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular