Erabaru.net. Beberapa waktu yang lalu kami berpartisipasi dalam suatu kegiatan di panti asuhan, setelah selesai kegiatan kakak Luo mengatakan kepada saya: “Pada hari tersebut ketika makan siang, baru menyadari nasi kotak yang kami pesan tidak cukup, dalam hati sangat gelisah, berpikir untuk membagikan makan siangnya kepada orang lain, tetapi pada saat itu makan siang tersebut telah dimakan sedikit.” Barbara setelah mendengar perkataan kakak Luo berkata: “Ya saya juga makan dengan tidak tenang, seharusnya terlebih dahulu memberikannya kepada yang belum mendapatkannya.”

Perasaan hati yang demikian saya dapat memahaminya.”mendahulukan kepentingan orang lain,” jika Anda benar-benar dapat melakukannya Dalam hati Anda akan merasakan kenyaman tersebut.

Minggu lalu saya membuat janji dengan beberapa teman naik bus untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersama-sama. Ling tiba-tiba menelepon dan bertanya apakah masih ada tempat? Pada saat itu tanpa berpikir saya menjawab sudah penuh.

Setelah dia menutup telepon, hati saya merasa kecemasan dan rasa bersalah: Mengapa saya tidak memberikan tempat duduk saya kepadanya? Sebuah suara yang dipancarkan dari hati mengatakan: “Aku juga ingin berpartisipasi dalam acara ini”

Kedengarannya seperti memberikan diri sendiri alasan untuk merasa nyaman.Tapi bagaimanapun didalam hati tidak merasa nyaman, karena saya melihat keegoisan saya sendiri.

Dengan niat pikiran sejenak ini, saya menelepon kembali ke Ling, mengatakan masih ada tempat, dia sangat senang dan dengan sopan mengucapkan terima kasih kepada saya, dan mengatakan dia akan hadir tepat waktu.

Meskipun saya tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan itu, tetapi pikiran saya terasa santai dan tenang. Malam tersebut saya bermimpi.

Dalam mimpi, di musim dingin keadaan suhu sangat dingin, saya berbaris mengantri untuk membeli bubur panas, akhirnya tiba giliran saya, ada seorang tamu berkata kepada saya: “Sisa bubur yang ada dapatkah diberikan kepada saya?” dalam mimpi itu, saya tanpa ragu-ragu, tersenyum menjawab: “Tidak masalah jika Anda menginginkannya ” setelah terbangun saya tersenyum, berharap alam pikiran saya telah benar-benar mencapai arah “mendahulukan kepenting orang lain “.

Mimpi ini mengingatkan saya pada sebuah dongeng: “Raja dan dewa pohon”, dimana dewa pohon yang penyayang sangat menyentuh hati saya.. Cerita ini adalah sebagai berikut:

Dahulu kala, raja berniat membangun sebuah istana untuk dirinya sendiri, memerintahkan para menteri mencari sebuah pohon tertinggi di hutan untuk membangun istana.

Di tengah hutan, para menteri menemukan sebuah pohon yang sangat besar dan subur.

Mereka sangat senang melaporkan kepada raja setelah raja mendengar hal tersebut sangat gembira, dan pergi tidur.

Pada malam itu, dia bermimpi yang aneh.

Dia bermimpi di pohon tersebut tinggal seorang dewa, dan dewa pohon meminta raja jangan merusak rumahnya.

Tapi raja bersikeras, menekankan bahwa pohon tersebut harus ditebang. Akhirnya dewa pohon berkata kepadanya, “Baiklah, Anda dapat menebangnya. Tetapi Anda harus memerintahkan orangmu naik ke puncak pohon, dari puncak pohon memotong dahan-dahan sepotong demi sepotong sampai ke bawah .” Raja mendengar metode menebang tersebut, merasa bingung dan bertanya: “Menebang dengan cara ini bukankah lebih menyakitkan daripada sekali tebang ?”

Dewa pohon menjawab: “Memang, namun jika sekali menebas menumbangkan sebuah pohon, maka tumbuhan-tumbuhan kecil disekelilingnya akan hancur dan membunuh banyak hewan kecil, banyak burung kecil dan serangga akan kehilangan rumah, banyak pohon kecil akan hancur tertimpa.

Jika Anda menebang sepotong demi sepotong, kerusakan mereka dapat dikurangi, burung juga dapat bertahap memindahkan sarangnya ke tempat yang lebih aman.”

Pada saat ini raja terbangun dari mimpi. Dan berpikir: “Dewa pohon lebih suka menahan rasa sakit ratusan kali, tetapi tidak ingin hewan kecil menderita.

Dewa pohon ini sangat pemberani dan penuh belas kasih! Saya untuk kesenangan saya sendiri menebang pohon, saya sangat egois!” Ia membatalkan rencana dan sejak hari itu, raja menjadi seorang penguasa yang baik hati.

Saya ingat suatu ketika saya pergi ketempat yang sangat jauh untuk mendengarkan seminar, pada saat itu hanya ingin menemukan tempat duduk yang baik agar dapat menyimak jelas, maka saya pindah ke kursi depan yang terlihat kosong.

Tetapi ketika saya pergi ke kursi yang saya incar ternyata ada peserta lain menghampirinya juga dan ia lebih dulu sampai disana.

Dan ketika saya berpikir kembali ke kursi semula, tetapi kursi tersebut juga telah diduduki orang lain. Dalam kehidupan ini situasi seperti ini sering terjadi, di dalam hati sering mempertahankan kepentingan diri sendiri, ketika Anda ingin mendapatkan sering terjadi sebaliknya.

Terlebih dahulu memikirkan kepentingan orang lain, diri sendiri tidak selalu benar-benar kehilangan sesuatu, bisa kehilangan apa yang dianggap penting, yang tidak boleh kehilangan, dan mungkin proses awal akan melalui perjuangan tetapi secara bertahap dapat mencapainya, bersedia untuk berpikir untuk kepentingan orang lain, Anda akan menemukan hati yang egois secara bertahap tidak begitu kuat lagi.

Perasaan hati akan merasa tenang dan damai!

Melepaskan keegoisan, maka alam pikiran akan semakin toleran.

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular