- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dokter Siegel Saksi Kekuatan Jiwa

Gambar potret diri Dokter Siegel: Ia bercita-cita menolong manusia mengobati penyakit dengan berprofesi sebagai dokter bedah, pernah mengalami depresi karena tidak berdaya menyelamatkan pasiennya. (BERNIE SIEGEL)

Oleh: Ling Fei

Cara terapi dengan seni foto atau menggambar telah memiliki sejarah cukup tua, selain berfungsi mengobati, juga telah menjadi cara bagi para psikolog AS untuk menelaah jiwa seseorang sejak era 40-an abad lalu.

Terapi seni, ingatan kehidupan silam

Dokter Siegel mulai mengenal metode pengobatan seni, saat menjadi seorang pasien. Seorang Dokter Siegel yang bercita-cita menolong sesama mengobati penyakit dengan berprofesi sebagai dokter bedah, namun setiap hari yang dihadapinya adalah amarah, putus asa, dan pukulan, melihat satu persatu jiwa melayang tanpa berdaya apa-apa. Kegetiran hati yang tak terlampiaskan itu menggerogoti jiwanya, membawanya ke tepi jurang kehancuran mental. Suatu hari, ia melukis wajahnya sendiri dengan berkaca pada cermin. Ia sangat terkejut mendapati perubahan wajahnya yang menjadi begitu dingin, sehingga ia memutuskan untuk mencari pertolongan.

Siegel ingat, saat berusia 4 tahun ia pernah mengalami kejadian mati suri karena menelan sebuah mainan, “Waktu itu perasaan saya sangat indah, saya ingin selamanya berada dalam kondisi seperti itu, tapi pada saat merasakan menjelang keluarnya roh dari jasad, seseorang menepuk punggung saya, kemudian mainan itu terlontar ke luar, saya pun kembali ke tubuh fisik saya itu. Saya sungguh tidak rela.”

Kemudian ia ikut ambil bagian dalam serangkaian pelajaran terapi yang diadakan oleh seorang dokter peneliti kejadian mati suri yakni dokter Elisabeth Kubler-Ross. “Terlebih dulu dia meminta saya menggambar sesuatu, saya menggambar sebuah gunung salju. Dokter Ross berkata, “Apa yang sedang Anda tutupi?”

“Saya sangat terkejut dan balik bertanya bagaimana dia bisa mengetahuinya.” Dokter Elisabeth berkata, “Ini adalah selembar kertas putih, mengapa Anda masih harus menggambar salju di puncak gunung ini dengan spidol warna putih?”

“Saya menyadari bahwa fakultas kedokteran bukan hanya tidak mengajarkan pada saya tentang jiwa dan psikologi sebagai bagian dari pengobatan suatu penyakit, bahkan tidak mengajarkan pada saya bagaimana menghadapi pergolakan jiwa sepanjang karier saya ini. Dan dokter Elisabeth telah mengajarkan saya akan hal ini.”

Anda boleh menelepon saya

“Yang harus dipelajari oleh manusia adalah kebajikan, harapan, kepercayaan dan cinta kasih, memberi tanpa mengharap balas jasa”. Ini adalah ajaran Dewa yang didengar oleh seorang pasien dokter Brian Weiss yang bernama Catherine. Dokter Weiss dalam buku larisnya berjudul Many Lives, Many Masters mencatat belasan kali kehidupan Catherine sebelumnya.

Brian Weiss lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Yale,AS, waktu itu dokter Siegel adalah dosen yang paling disukainya, keduanya pun kemudian berteman seumur hidup. Waktu itu, Siegel telah berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang dirinya sendiri, dan memandang bahwa menyebarkan harapan, kepercayaan, dan cinta kasih sebagai misi yang harus diembannya, ia memberikan dampak sangat mendalam bagi karier dokter Brian.

Siegel membentuk tim khusus terapi penderita kanker, untuk membantu para pasien agar bisa memanfaatkan segala sumber daya yang mereka miliki untuk melawan penyakit, dokter dan pasien sama-sama terlibat secara aktif dalam memulihkan kesehatan, hasilnya sangat memuaskan. Belajar mencintai diri sendiri, mencintai orang lain, menghadapi dengan tabah akan fenomena hidup, lahir, tua, sakit, dan mati, justru dapat meningkatkan kualitas kehidupan.

Suatu kali seorang pasien berkata pada Siegel, “Setiap kali datang berobat ke tempat Anda ini saya merasa sangat baik, tapi bagaimana saya melalui hari-hari di antara kunjungan saya ke sini?”

Pertanyaan ini memicu Siegel untuk menulis buku berikutnya yang berjudul Live Between Doctor’s Clinic, “Saya memeluk pasien saya dan memberikan nomor telepon dan surel saya pada mereka, dan berkata saya mencintai mereka, dan mereka bisa menghubungi saya sewaktu-waktu. Coba Anda tebak, saya sangat jarang mendapat telepon dari mereka, para pasien cukup mengetahui ada orang yang mencintai mereka, memperhatikan mereka, itu saja sudah cukup.”

Buku-buku laris karya Bernie Siegel antara lain Love, Medicine & Miracles, lalu Faith, Hope and Healing dan lain sebagainya, telah diterjemahkan dan dijual di berbagai negara di seluruh dunia. Kasus pengobatan dalam bukunya menelaah efek psikologis yang berfungsi sangat besar untuk melawan penyakit, juga telah memotivasi para pembaca untuk merenungkan kembali kemampuan jiwa dalam dirinya. Dalam 20 tahun terakhir, banyak pakar pengobatan telah menerapkan teorinya ini pada pasien dan meraih hasil memuaskan. (sud/yant)