Oleh: Fu Zheng

Kisah seorang jenderal yang menjunjung tinggi moralitas bisa kita temui pada sosok Han Xin (?? – 196 BC). Dia adalah seorang komandan militer pada masa awal Dinasti Han, berasal dari Huayin (sekarang Provinsi Jiangsu), Tiongkok. Meski tegas dalam berperang, dia dikenal rendah diri.

Han Xin dilahirkan dalam keluarga yang miskin. Kedua orangtuanya bahkan telah meninggal dunia sejak ia masih kecil. Keadaan ekonominya yang serba kekurangan tak membuatnya putus asa. Kalau tidak memiliki uang, Han Xin sering ke rumah teman-temannya yang berbeda untuk menumpang makan. Kadang-kadang ia pergi ke Sungai Huai menangkap ikan untuk ditukar dengan sejumlah uang. Walaupun ia sangat miskin, dia belajar dengan keras dan menjadi sangat mengerti tentang strategi dan taktik militer. Sebagai seorang yang berlatih qigong wushu, kemana-mana ia selalu membawa pedang. Ia mempunyai ambisi yang besar dan bercita-cita menjadi orang penting suatu hari nanti.

Status ekonomi dan sosialnya yang rendah, membuatnya sering direndahkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Pernah sekali, segerombolan penjahat mempermalukannya di depan publik. Seorang tukang daging berkata padanya: “Walaupun kau tinggi dan besar dan suka membawa pedang, saya tahu kau adalah seorang pengecut. Apakah kau berani membunuhku dengan pedangmu? Jika kau tidak berani, kau harus merangkak di antara kaki saya (selangkangan).”

Meski Han Xin mempunyai banyak ambisi, ia tahu bahwa bila membunuh orang itu ia harus membayar atas perbuatannya dengan nyawanya. Bagaimana ia dapat membunuh orang itu? Pikirannya tidak terpancing oleh tantangan itu, ia pun terpaksa merangkak di antara kaki tukang daging itu di depan orang banyak. Cerita sejarah ini dinamakannya: “Penghinaan merangkak di antara selakangan kaki.” Sikapnya ini menjadi tauladan dalam menghadapi musuh.

Strategi yang jitu

Pada tahun 209 SM, dua petani, Chen Sheng dan We Guang, memulai sebuah pembrontakan melawan Dinasti Qin yang korup. Dengan cepat pembrontakan meluas di seluruh Tiongkok. Han Xin bergabung dengan tentara pembrontak Xiang Liang, yang mendirikan kerajaan Chu Barat. Setelah Xiang Liang tewas dalam perang, keponakan laki-lakinya Xiang Yu memegang kekuasaan Chu Barat. Xiang Yu tidak memperhatikan kedudukan Han Xin dan hanya memberinya posisi sebagai pengawal. Banyak usulan yang diberikan Han Xin kepada Xiang Yu, tapi tidak digubris. Akhirnya ia meninggalkan kemah Chu untuk bergabung dengan tentara pembrontakan lain yang dikenalnya dibawah bangsawan Liu Bang.

Pada awalnya, Liu Bang juga tidak menaruh perhatian terhadap Han Xin dan hanya mempekerjakan dia sebagai petugas yang mengatur suplai makanan. Han Xin menyadari Liu Bang tidak akan memberinya jabatan penting dan memutuskan meninggalkannya. Tetapi Perdana Menteri Liu Bang, Xiao He, sadar akan kemampuan Han Xin. Ketika ia mendengar bahwa Han Xin telah pergi, ia menunggang kudanya mengejarnya sepanjang malam dan meyakinkannya untuk kembali. “Xiao He meyakinkan Han Xin di bawah bulan”.

Kemudian setelah direkomendasi Xiao He, Liu Bang mendiskusikan strategi militer dengan Han Xin, dan menyadari bahwa Han Xin adalah seorang yang memiliki bakat militer yang langka. Liu Bang akhirnya mengadakan upacara dan mengangkat Han Xin sebagai Jenderal besar

Bulan Mei tahun 206 SM, pasukan Han memenangkan peperangan utama melawan tentara bangsawan Zhang Han. Tentara bansawan Zhang Han bermarkas di dekat Kota Hangzhou. Jalan di sana telah dihancurkan. Han Xin secara terbuka mengirim banyak prajurit untuk memperbaiki jalan tersebut. Bangsawan Zhang Han mengetahui hal itu dan menempatkan penjaganya dengan berpikir bahwa tentara Han tidak akan mampu melancarkan serangan hingga jalan selesai. Kenyataanya, Han Xin memimpin sendiri pasukan menyusuri jalan belakang yang dekat Nanzheng dan keluar melalui Kota Chen Cang. Pasukan Zhang Han terkejut dan dihancurkan oleh pasukan Han. Karena kemenangan ini, Liu Bang bisa mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang dari tiga pemimpin pembrontak.

Bulan Februari tahun kedua Hangaozu, Han Xin memimpin pasukannya ke luar menyebrangi Hanguguan dan berjalan menuju Kota Luoyang. Ia mendapat rangkaian kemenangan. Tentara Han bahkan menaklukkan Peng, Ibukota Chu, yang diperintah oleh Xiang Yu. Pada waktu itu, Xiang Yu sedang bertanggungjawab terhadap perang melawan Negeri Qi. Ketika ia mendengar jatuhnya Kota Peng, ia memimpin 30.000 kavaleri yang terlatih dengan sangat tinggi kembali ke Kota Peng saat malam dan mengalahkan tentara Han dengan cepat.

Han Xin menyatukan kembali pasukan yang kalah dan bergabung dengan kekuatan Liu Bang di wilayah Luoyang. Ia menggunakan taktik perang memblok, memojokkan dan mengalahkan pasukan Chu diantara Kabupaten Jiang dan Suoting, dan menghentikan pasukan Xiang Yu bergerak menuju ke barat. Akhirnya, pertempuran terdepan terjadi di Yingyan (sekarang Henan). Bulan Agustus, Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai Perdana Menteri. Han Xin memimpin tentara untuk menyerang Wegeri Wei. Pasukan Han dengan tanpa susah payah mengalahkan tentara Wei dan menangkap bangsawan Bao Wei.

Disusul bulan September tahun ketiga Hangaozu, Han Xin memimpin pasukan untuk menyerang Eyu, ia menangkap penjabat Perdana Menteri Xia Chuo dan menguasai Kabupaten Dai. Pada waktu itu, Liu Bang memerintahkan Han Xin secepatnya menempatkan kekuatan utamanya di wilayah Yinyang untuk memperkuat pertahanan wilayah itu. Dengan sepuluh ribu pasukan, Han Xin menyerang Zhao di Jingxing, dan meraih kemenangan.

Bulan November tahun keempat Hangaozu (203 SM), Han Xin menggunakan taktik pasukan berat untuk cepat menyerang Ibukota Qi, Linzi. Jenderal Chu, Long Qie memimpin 200.000 pasukan untuk penyelamatan dan bertemu dengan tentara Qi yang kalah di Gaomi (sekarang Shandong). Mereka berhadapan dengan tentara Han Xin pada sisi yang berseberangan dari Sungai Huai. Secara rahasia, Han Xin telah mengirim pasukan saat malam untuk memblokade air sungai di hulu dengan lebih dari sepuluh ribu kantung pasir. Pada dini hari, ia mengirim sebagian pasukannya untuk menyeberang Sungai Huai, selanjutnya menyerang pasukan Chu dan menarik diri berpura-pura telah dikalahkan.

Jendral Long Qie keliru menganggap tentara Han Xin takut dan mengirim kekuatan utamanya menyebrang sungai untuk menyerang. Han Xin memerintahkan pasukannya membuka hulu bendung dan air memisahkan pasukan Chu menjadi dua bagian. Ia kemudian menggunakan strategi “menyerang musuh di tengah penyebrangan sungai” dan membunuh semua pasukan yang telah menyeberangi sungai. Jenderal Long Qie juga ikut terbunuh. Pasukan gabungan Qi dan Chu, yang berada di sisi lain sungai, mengalami kegagalan. Han Xin mengambil kesempatan dan mengejar pasukan yang kabur dan menangkap Bangsawan Qi, Tin Guang. Ia berhasil menaklukkan seluruh wilayah teritorial Qi.

Korban konspirasi

Setelah Han Xin menguasai wilayah Qi, Xiang Yu panik. Ia cepat mengirim orang untuk membujuk Han Xin untuk bergabung dengannya dan bertempur melawan Han, dan berjanji akan memberikan sepertiga dari negerinnya. Han Xin menolaknya. Pelapor, Quqi Tong mencoba membujuknya. Tapi Han Xin menolak. “Bangsawan Han memperlakukan saya dengan kebaikan dan kemurahan hati yang begitu besar. Beliau memberi saya kereta kudanya sendiri untuk saya gunakan. Beliau memberi saya bajunya untuk dipakai. Beliau memberi makanan untuk dimakan. Orang dulu berkata: ‘Ketika kita mengendarai kereta kuda orang lain, kau akan berbagi keresahannya; ketika kau memakai pakaiannya, kau juga harus berbagi kecemasannya; dan ketika kau mengambil makanannya, kau seharusnya melakukan yang terbaik untuknya.’ Bagaiman bisa saya melihat hanya keuntungan saya sendiri dan lupa akan kebaikannya?”

Han Xin menolak melawan Liu Bang. Tetapi wilayah Qi telah ditaklukkan dan di sana perlu menciptakan seorang bangsawan untuk memerintah negeri itu dan menenteramkan pikiran rakyat. Lalu Han Xin menulis sebuah surat kepada Liu Bang meminta untuk menjadi penjabat bangsawan untuk Qi. Pada awalnya, Liu Bang tidak menyetujui permintaan tersebut. Tetapi setelah mendengar pendapat dari Zhang Liang dan Chen Ping, Liu Bang menjadikan Han Xin bangsawan Qi dan memerintahkannya untuk menyerang Chu.

Bulan Desember tahun kelima Hangaozu (202 SM, Chu dan Han berhadapan langsung di dalam suatu pertempuran yang sengit di Gaixe (sekarang Binan, Provinsi Anhui). Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai Kepala Komandan. Xiang Yu mengomandani 100.000 pasukan Chu untuk menyerang dengan sengit di depan Han. Kembali kemenangan diraihnya. Lima tahun peperangan antara Chu dan Han berakhir ketika negeri Chu berhasil ditaklukan.

Dimulai dari menjadi penjaga untuk Xiang Yu, Han Xin menjadi Jenderal dibawah Liu Bang dan memperoleh kemenangan terkemuka berulangkali hanya dalam beberapa tahun. Beliau adalah seorang tokoh utama dalam penentuan hasil perang antara Han dan Chu. Quai Tong memujinya sebagai “Seorang dengan strategi brilian yang langka.” Prinsipnya dalam memanuver perang adalah pujian tertinggi melalui surat strategi militer. Berdasarkan Han Yiwenxhi, Han Xin menulis tiga bab Strategi Militer Hanxin. Sayang sekali buku tersebut telah hilang

Kemampuan Han Xin membuat Liu Bang tidak mudah. Setelah mengalahkan Xiang Yu, Liu Bang merampas komando militernya dan membuatnya menjadi bangsawan Chu. Selanjutnya ia diturunkan ke Marquis Huayin dan kemudian ditempatkan di rumah penahanan. Pada tahun kesebelas Hangaozu (196 SM), Kaisar Lu dan Perdana Menteri Xiao He mengumpankan Han Xin ke Istana Changle dan mengeksekusinya dengan alasan konspirasi melawan negara. Sangat menyedihkan melihat seorang jenderal besar dibunuh pada masa jayanya. (Sumber:www.zhengjian.org)

Share
Tag: Kategori: SEJARAH

Video Popular