Handoko Wibowo (@Yapthiam_ID)

JAKARTA – Handoko Wibowo yang dikenal sekitar lingkungannya adalah aktivis dan pendamping petani dari Batang, Jawa Tengah dalam melakukan pendampingan tak berharap akan dipublikasi aktivitisnya maupun mendapat penghargaan. Apa yang dia perbuat hanya berangkat dari panggilan hati dan bukan sebuah pengorbanan.

“Ini bukan sebuah pengorbanan. Kebetulan ini panggilan hati,” ujarnya saat menceritakan aktivitasnya mendampingi para petani sejak 1998 silam saat menyampaikan pidatonya di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2016) malam.

Handoko menuturkan dirinya banyak belajar dari sosok Yap Thiam soal keberanian dan memperjuangkan keadilan di Indonesia. Bagi Handoko, Yap Thiam adalah salah satu orang yang menginspirasi hidupnya dalam mendedikasikan diri untuk para petani.

Lebih jauh Handoko berucap bahwa arena kegiatannya untuk mendampingi pertani lebih banyak di kampung, dia melakukan kerja dalam kesunyian dan tak berandai-andai akan dipublikasi. Dia menegaskan dirinya bekerja dengan tulus tanpa keinginan mendapatkan penghargaan.

Namun demikian, penghargaan yang dia terima saat ini sudah menjadi beban bagi dirinya untuk berjuang terus seperti yang dicita-citakan Sosok Yap Thiam bahwa menjadi manusia harus berpikir tentang orang lain. Menurut Handoko, penghargaan yang dia raih pada saat ini menunjukkan bahwa pekerjaan membela HAM dan demokrasi, meskipun tidak populer dan profesional, tetapi tentunya mendapat perhatian orang lain. “Jadi, bagi penggiat HAM, jangan takut, Anda tidak sendirian,” imbuhnya.

Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis mengatakan dedikasi diri yang ditunjukkan oleh Handoko berbeda pada advokat umumnya. Handoko lebih memilih mendampingi para petani dengan meninggalkan kemewahan yang dimiliki oleh advoka hanya untuk mendampingi petani.

Handoko, lanjut Todung, menjadi advokat probono yang berjuang bersama korban. Handoko, ujar Todung, secara pasti mengalami tekanan dan ancaman, meski demikian Handoko rela memilih dengan sadar kerja yang tidak mudah dan jauh dari kemewahan. “Namun, saya yakin dia menemukan kebahagiaan tersendiri ketika berhasil membantu mereka yang tertindas,” katanya.

Handoko lahir 9 November 1962, dia berangkat dari keluarga yang berada pada 1960-an. Kekayaan yang dimiliki keluarganya itu hilang tak berbekas karena diperas para pejabat pada saat itu. Handoko kemudian melanjutkan kuliah hukum di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Pada tahun 1987, dia sudah berprofesi sebagai pengacara dengan kasus pertama kali yang dia tangani yakni kasus ibunya berkaitan gugatan atas bisnis ibunya yang terancam bangkrut.

Jalan hidup Handoko menuju titik panggilan hatinya, awal tahun 1999, dia mengetahui keluhan para tetangganay selaku petani di Batang. Apa yang terjadi? para petani tak terima hingga merusak rumah salah seorang mandor PT Tratak. Bukan tanpa alasan, para mandor ini justru memeras para petani. Handoko pun hadir di tengah para petani, dia lebih mengedepankan berdialog. Handoko sadar para petani di kampungnya butuh pendampingan.

Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2014 lalu diberikan kepada Anis Hidayah yang dikenal mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan nasib buruh migran Indonesia. Pejuang buruh migran tersebut menjabat sebagai Direktur Eksekutif Migrant Care sejak Mei 2004.

Yap Thiam Hien Award merupakan penghargaan yang dinobatkan kepada pegiat HAM pada setiap tahunnya. Penghargaan ini dinisbatkan kepada pejuang HAM dan pengacara kondang pada zamannya, Yap Thiam Hien keturunan Tionghoa yang dikenal tak sejalan dengan ideologi komunis. Advokat kelahiran 25 Mei 1913 dikenal sebagai advokat berhati baja serta berjuang menegakkan prinsip-prinsip hukum berkeadilan dan HAM. (asr)

Share

Video Popular