Di sebuah pegunungan ada sebuah kuil, hiduplah seorang bhiksu kecil bernama Shan Shan yang sangat yakin akan kepintaran, pengetahuan, kebijaksanaannya sendiri, sehingga cenderung angkuh dan memandang rendah orang lain. Ketika bertemu junior lain yang tidak sepintar dirinya dan sering kebingungan, berbicara tidak jelas, dia sering emosi, dan memarahi mereka: “Aduh, kenapa begitu saja tidak mengerti?”

Gurunya telah sering menasehatinya, dan Shan Shan ini dari mulutnya mengakui kesalahannya, tetapi ketika berhadapan dengan kejadian yang sama, dia tetap tidak bisa menahan emosinya.

Akhirnya pada suatu hari, ketika melalui pengalamannya mencari kayu bakar di atas gunung, pikirannya mulai berubah. Pengalaman yang bagaimanakah yang bisa merubah sifatnya?

Pada hari tersebut kayu yang di peroleh sangat banyak, hatinya riang. Dalam perjalanan kembali, ia merasa sedikit lelah, dia berhenti beristirahat, meletakkan kayu di tepi sungai untuk minum air, cuci muka. Tepat ketika dia sedang minum, monyet kecil datang. Monyet kecil ini hidup di pegunungan, sering bermain di tepi sungai, dan sering bertemu dengan Shan Shan yang mencari kayu bakar di hutan. Seiring waktu, mereka menjadi teman baik, dan Shan Shan memberi nama monyet kecil itu “Xiaoqiang”.

Shan Shan setelah mencuci wajahnya Ingin mengambil handuk melap wajahnya, tetapi menemukan handuk masih tergantung di tumpukan ranting kayu yang diletakkan ditepi sungai, karena dia benar-benar lelah, jadi dia menunjuk ke tumpukan ranting kayu, isyarat untuk Xioqiang untuk mengambil handuknya. Xiaoqiang berlari ketumpukan kayu, mengambil sebuah ranting kayu memberikannya kepada Shan Shan. Ia menggeleng, dan dengan isyarat tangan menunjuk, dan mulutnya berkata: “Ambilkan handuk, handuk, itu handuk, bukan kayu.”

Xiaoqiang dan berlari untuk mengambil kembali kayu bakar. Shan Shan sambil menggeleng tertawa kepada monyet kecil itu, lalu mengambil sebuah batu kecil dan melempar ke arah handuk sampai kena, kemudian berkata pada Xiaoqiang, “Lihat itu? Ambil handuk tersebut.”

Xiaoqiang mengangguk terlihat seolah mengerti, tapi kembali lagi dengan sebuah ranting kayu, dengan ekspresi kemenangan sambil meloncat-loncat dan berteriak kegirangan, seolah-olah mengatakan, “Lihat, saya sangat pintar!”. Menyerah dengan si monyet kecil, Shan Shan mengambil sendiri handuknya lalu mengangkat kayu bakarnya dan pergi sambil tertawa geli mengingat tingkah Xiaoqiang.

Setelah kembali ke kuil, Xiaoqiang menceritakan hal menarik ini kepada kepala biara. Lalu  kepala biara bertanya kepadanya: “Ketika berbicara dengan  adik seperguruan, bila mereka tidak mengerti maksud Anda, Anda akan langsung marah. Tetapi terhadap Xiaoqiang yang tidak mengerti maksudmu mengapa Anda malahan beranggapan sangat lucu?”

Saat ini Shan Shan merasa bingung, dan menjawab: “Xiaoqiang tidak mengerti maksud saya adalah hal yang normal, karena dia adalah monyet, Sedangkan adik perguruan mereka adalah manusia, mereka harusnya paham maksud saya..”

Kepala biara mengatakan: “Harus? Apa yang harus? pertama-tama setiap orang dilahirkan mempunyai daya tangkap yang berbeda, orang yang mempunyai daya tangkap yang baik, bukan kehendak mereka, orang yang mempunyai daya tangkap yang kurang, juga bukan salah mereka. Bahkan jika seandianya ia terlahir cerdas, lingkungan tempat kelahiran mereka juga tidak sama, orang yang dilahirkan menjadi keturunan ilmuwan, bukan kemauan mereka; mereka yang lahir dari tukang jagal hewan, juga bukan salah mereka, mereka mempunyai orangtua, lingkungan dan guru yang berbeda, bagaimana Anda bisa dapat mengatakan siapa ‘harus’ bagaimana? “

Shan Shan setelah mendengar sampai disini,  dia hanya menundukkan kepala tidak bisa berbicara. Kepala biara  melanjutkan mengatakan: “Selain itu, tidak ada ketidakkekalan dalam hidup ini, hari ini Anda lebih pintar dari dia, apakah Anda boleh menghinanya, besok mungkin dia lebih pintar dari Anda, atau punya takdir menjadi atasan Anda? dia juga akan menghina Anda, bagaimana perasaan hatimu pada saat itu?”

Shan Shan dengan malu mengatakan: “Guru, saya tahu saya salah.”

Kepala biara mengatakan: “Kesalahan Anda adalah Anda tidak belajar menggunakan mata Tuhan untuk melihat, menggunakan hati Tuhan untuk berpikir . tiba-tiba Shan Shan merasa bahwa mulai mengerti beberapa hal, lalu cepat-cepat membungkuk, mengatakan: “Guru, tolong ajari saya! “

Kepala biara dengan tersenyum berkata: “Coba kamu  berpikir  dengan teliti, mengapa kamu bisa marah kepada adik seperguruan, sedangkan terhadap Xiaoqiang kamu bisa tertawa dengan terbahak-bahak?

Anda tidak marah kepada Xiaoqiang, karena Anda adalah manusia, dia adalah monyet, kebijaksanaan Anda jauh lebih tinggi daripadanya, sehingga Anda dapat menerima kesalahannya. Dan terhadap adik seperguruan mereka adalah manusia, dan Anda juga manusia, Anda menggangap mereka sama denganmu, dan karena itu tidak dapat menerima kesalahan mereka. Jika itu adalah Tuhan? Tuhan melihat kesalahan adik seperguruan Anda, apakah dia akan marah? Dia pasti tidak akan marah, karena kebijaksanaan Tuhan dapat menerima semua ini. “

“Kesalahan terbesar Anda adalah bahwa Anda tidak menggunakan pandangan Tuhan untuk mencoba untuk mengamati dunia, dengan kasih sayang Tuhan mengasihi dunia, dengan kebijaksanaan Tuhan untuk merangkul dunia.”

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular