JAKARTA – Tiga orang Warga Negara Indonesia (WNI) disebut memiliki peranan penting dalam kelompok bersenjata yang kemudian menggelari diri dengan Islamic State (IS) atau Daesh. Tiga WNI tersebut melaksanakan tugas sesuai dengan keahlian di bawah komandan pimpinan utama IS, Abu Bakar Al-Baghdadi berpusat di al-Raqqa, Suriah.

“Di Suriah itu ada 3 orang Indonesia yang punya peranan penting,” kata Kepala Kepolisian RI, Jenderal Badrodin Haiti, Jumat (15/1/2016).

Dia mengatakan tiga orang WNI tersebut pertama Bahrumsyah, kini menjadi leader di Suriah artinya sayap militer IS. Tak hanya itu, sosok Bahrumsyah inilah kemudian diketahui sebagai sosok mengirimkan dana kepada kelompok enam tersangka teroris di Thamrin dan kelompok di Bekasi.

Orang kedua yang memiliki peranan penting adalah Bahrun Naim yakni sosok yang belakangan diduga berada di balik kelompok teror di kawasan Thamrin, Jakarta. Menurut Kapolri, sosok Bahrun Naim memiliki keahlian dalam Informasi Teknologi (IT). Bahkan Bahrun Naim memiliki peranan dalam bidang ahli propoganda.

Sosok ketiga adalah Salim Mubarak At Tamimi alias Abu Jandal dan pernah tinggal di kota Malang, Jawa Timur. Sosok Abu Jandal ini pernah menantang Panglima TNI untuk berperang di Suriah. Jika tidak dia mengancam akan menyerang TNI.

Berbagai sumber menyebutkan, sosok Bahrumsyah pernah mengenyam pendidikan di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, namun demikian dia tak menyelesaikan kuliahnya karena lebih tertarik bergabung dengan kelompok garis keras. Dia selama di bangku kuliahnya menekuni ilmu beladiri kungfu. Bahrumsyah ikut mendeklarasikan diri IS di Bundaran HI, Jakarta 2014 lalu.

Bahrumsyah juga disebut pernah berguru dengan Aman Abdurrahman terlibat Bom Cimanggis 2003 silam. Sosok Aman bahkan sempat membuat polemik di kalangan berpaham radikal dengan mengeluarkan fatwa bahwa siapapun yang menyatakan baiat kepada pimpinan IS yakni Abu Bakar Al-Baghdadi adalah sosok mu’min. Sedangkan yang menolak sebagai orang kafir (keluar dari Islam) dan yang berdiam diri dituding munafiq.

Sementara, Bahrun Naim kenal dengan Imam Samudera pelaku teror bom di Bali beberapa waktu lalu. Bahrun adalah lelaki kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 6 September 1983, memang memiliki keahlian teknik informatika setelah menduduki bangku kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret.

Pria dengan nama lengkap Bahrun Naim Anggih Tamtomo sudah pernah diciduk oleh tim Densus 88 Mabes Polri, Selasa (9/11/2010). Dia ditangkap karena memiliki ratusan amunisi dan soft gun ilegal. Penangkapan dilakukan di rumah kontrakannya di Kampung Mertodranan RT 2 RW 3, Kelurahan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Dia akhirnya oleh Majelis hakim di Pengadilan Negeri Surakarta menjatuhkan vonis kurungan 2 tahun 6 bulan penjara. (asr)

Share

Video Popular