Keterangan foto: Ranjang di kamp terbuat dari besi, terdiri dari 2 lapis dek, atas dan bawah, dek atas dalam posisi mendatar adalah ranjang, bila ditegakkan berwujud tutup kotak; dek bawah mirip kotak pipih, tempat untuk menyimpan pakaian dan barang kami.

Oleh: Mu Chunxiao

Akhirnya Sampailah di Kamp Pelatihan

Setelah masuk ke dalam kamar kamp, terlihat sebuah kamar yang amat luas, ketika kami 78 orang menempatinya, masih terdapat banyak ranjang kosong. Siang hari itu kami masih dilarang tidur.

Ketika itu, saya diam-diam menyesal telah memotong rambut. Panjang rambut prajurit wanita Angkatan Laut AS tidak diperbolehkan lebih rendah dari kerah baju, menurut pengertian ala Tiongkok, maka rambut harus dipotong pendek, siapa tahu model rambut Amerika tidak boleh melewati kerah baju merupakan sebuah konsep lain yakni rambut panjang bila diikat erat dengan karet hitam, juga tidak melebihi kerah baju. Hitung-hitung sebuah benturan kebudayaan kecil.

Sejumlah konsepsi bahasa Ingris AS secara permukaan maksudnya memang sama dengan bahasa Tionghoa, namun sering kali berbeda makna. Misalnya dalam masa persiapan di pusat pelatihan kami akan mendapatkan nota pembelian, hampir sama dengan nota belanja di supermarket, tertera semua harga barang dan pakaian yang Anda “terima”. Menurut pemahaman versi Tiongkok saya, “menerima” adalah diberikan cuma-cuma, tapi di Angkatan Laut AS ternyata masih harus membayar. Ada lagi dalam masa pusat pelatihan, identitas kami adalah prajurit baru, bukan prajurit angkatan laut, karena bukan setiap Prajurit Baru bisa lulus, akan ada kurang dari 10% prajurit baru tidak dapat lulus dengan berbagai alasan, hingga sampai dapat melewati pelajaran terakhir basis pertempuran, telah lulus dari pusat pelatihan barulah menjadi seorang pelaut yang berkualifikasi, identitasnya akan berubah dari prajurit baru menjadi prajurit Angkatan Laut.

Kami dibagi beberapa kelompok tiba di kamp pusat pelatihan, saya termasuk kelompok pertama. Di tengah prajurit baru dari kelompok ke-3, terdapat seorang perempuan belia yang nampaknya baru saja lulus SMA, begitu memasuki ruang kamp langsung menangis, katanya mau meninggalkan AL. Pelatih II prajurit baru kami adalah wanita, bertanya mengapa ingin meninggalkan AL, dia menjawab tidak ada apa-apa, hanya tidak ingin lebih lama disana. Dalam regu pusat pelatihan, jika terdapat suatu masalah, pada umumnya prajurit baru wanita akan diajak bicara oleh si pelatih. Upaya bujuk rayu si pelatih gagal, si anak perempuan itu barsikeras keluar. Selanjutnya kami tidak menjumpai dia lagi. Saya pikir, penyebab dia tidak ingin tinggal lagi mungkin tidak dapat menerima sikap bicara pelatih yang berteriak-teriak, dan merasa tidak dihargai atau merasa terlalu menderita, malam pertama saja sudah tidak diizinkan tidur, mungkin di kemudian hari akan lebih menderita lagi !

Beberapa prajurit wanita baru ketika di dalam ruang tidur kamp membicarakan anak kecil itu, dengan emosi mengatakan, anak-anak yang tidak mempunyai hati nurani itu, pemerintah AS justru telah memanjakan mereka. Anak-anak semacam itu semua dikumpulkan di sebuah kapal. AL tidak menyebut tingkat lantai, semua lantai disebut kapal. Disana mereka menunggu pengurusan administrasi berhenti bekerja, mungkin ketika para Prajurit Baru telah lulus dalam pusat latihan, pengurusan administrasi mereka masih belum selesai. Namun AL, atau pemerintah AS dalam pelayanan kepada masyarakat, apapun alasannya melepas pekerjaan, selama masa menunggu penyelesaian administrasi, gaji dan jaminan sosial semua tidak akan dihentikan.

Apakah kegiatan pusat pelatihan telah dimulai ? Masih belum. Dari sekarang hingga resmi dimulainya pelatihan, masih ada 2 minggu lamanya. Dua minggu ini disebut masa persiapan pusat pelatihan (Processing-Day,P-Day), terutama untuk menunggu hingga seluruh prajurit baru telah tiba.

Setiap hari pelatih yang memandang kami dengan sorotan mata marah dibandingkan dengan petugas penerima prajurit baru yang ramah-tamah, sikap mereka bagaikan udara dingin musim salju dan hawa panas hutan kebakaran. Para pelatih memelototkan mata berusaha menemukan setiap kesalahan kami, sedangkan petugas penerima prajurit dengan ramah dan sopan menjawab setiap pertanyaan kami. Suatu kali dalam pertemuan rutin Penantian Memasuki Masa Tugas, saya duduk tercenung di sofa, si petugas penerima prajurit baru mungkin mengetahui alam pikiran saya, lalu berkata bahwa beberapa hari yang lalu seorang murid wanita baru saja lulus dari pelatihan, usianya sama dengan saya, dengan sangat mudah telah lulus, Anda tidak perlu khawatir. Pelatih kedua kita juga pernah bertugas sebagai penerima prajurit baru, dari sikap yang ramah beralih ke sikap pemarah yang berteriak-teriak, entah bagaimana mereka menyeimbangkan kedua macam peran yang bertolak-belakang itu.

Masa persiapan di pusat pelatihan bagi setiap orang tidak sama, itu tergantung kapan mendapatkan tiket pesawat yang murah, sehingga kedatangan mereka terbagi dalam beberapa kelompok. Tujuan utama masa persiapan pusat pelatihan adalah untuk menanti kedatangan orang, bersamaan itu juga memberi kami masa transisi. Ada yang menunggu hingga 2 minggu, ada yang hanya menunggu 2 hari saja, begitu sudah hadir semua masa persiapan juga selesai.

Waktu istirahat dalam masa persiapan di kamp pelatihan tidak sama dengan pusat pelatihan resmi, setiap hari jam 8 malam tidur, subuh jam 4 bangun. Pada dasarnya malam sulit tidur, bangun pagi masih setengah sadar. Para anak perempuan berusia 18-19 tahun sangat enerjik, setiap malam lampu kamar setelah dipadamkan masih saja tiada henti berbicara. Benda keperluan MCK menurut ketentuan harus diletakkan di dalam laci yang dilengkapi dengan kunci di kotak pipih, karena ranjang itu terbuat dari besi, sehingga pada malam hari suara buka tutup laci dan suara bicara sangat berisik, selang beberapa menit akan ada orang berteriak “tutup mulutmu”, sebelum tengah malam sulit untuk tidur.

Tentu menurut tata tertib tidak boleh berbicara. Namun tentara AS termasyur tak berdisiplin! Setiap orang pada masa persiapan di kamp pelatihan harus bergilir tugas jaga selama 2 jam di malam hari.

Tugas jaga di AL harus hadir setengah jam sebelumnya, maka 45 menit lebih awal saya sudah dibangunkan. Seorang perempuan kecil berkulit putih, wajahnya berbintik-bintik, setelah lampu dipadamkan masih saja dengan lincah kesana kemari untuk berbicara. Suatu malam dia berdiri di samping ranjang saya tiada habisnya berbicara, saya merasa sangat terganggu, maka saya beritahu dia apakah bisa bembali keranjangnya sendiri, dia tidak marah, setelah mengiyakan langsung lari kembali ketempatnya. Saya merasakan orang Barat dalam bertata-krama cukup bagus. Ketika giliran saya menjaga, sambil berbaring dia mengangkat kepalanya dan bertanya, Anda sudah berjaga berapa jam?

Pergi bangunkan orang yang menggantikan Anda. Dia khawatir saya diperlakukan sewenang-wenang lantaran bahasa Inggris saya kurang baik, saya memahami maksud baiknya, tapi merasakan kebaikan hati itu terasa bagaikan atasan menghadapi bawahannya. Pemandangan-pemandangan itu, bagaikan pemutaran ulang adegan di dalam bioskop. (tys/whs/rmat)

BERSAMBUNG

 

Share

Video Popular