Ilustrasi kehidupan (Nicola Sapiens De Mitri/Flickr, CC BY-SA 2.0)

Sesungguhnya, di hati setiap orang memiliki sebidang Gurun Gobi, dan usaha sepanjang hidup kita adalah supaya di sana dipenuhi dengan bunga-bunga segar. Perjalanan hidup yang bahagia, juga ada pahit getirnya, ada yang bisa secara langsung menghadapi kegagalan, mengubah kepahitan, namun, ada yang malah kerap membesar-besarkan kegagalan, memperbesar penderitaan.

Pilihan yang tidak sama, perjalanan hidup yang berbeda, dan jika ingin padang belantara Gobi di dalam hati kita dipenuhi dengan bunga-bunga segar yang bersemi, maka hanya dengan menghadapi langsung kegagalan, bukan sebaliknya malah memperbesar penderitaan.

Sekeping kulit kerang memerlukan waktu seumur hidup baru bisa mengubah butiran pasir yang tak terhingga banyaknya itu menjadi sebutir mutiara yang tidak beraturan. Pelangi yang tampak sesudah hujan dan keindahan yang sesaat itu perlu menghimpun uap air yang tak terhingga banyaknya. Jika melihat semua hal ini sebagai kegagalan yang berulang-ulang, maka kegagalan itu telah menghasilkan mutiara yang cemerlang dan pelangi yang indah.

Ketika Shuwu diasingkan ke Laut Utara, gerombolan domba di sana terus mengembik, seolah-olah sedang mengucapkan selamat datang pada pejabat yang setia dan pantang menyerah ini. Seandainya penderitaan selama puluhan tahun itu bisa dianggap sebagai suatu kegagalan, maka itu jelas menderita sekali, namun, gembala tua ini tidak pernah membesar-besarkan kegetirannya, lalu puluhan tahun kemudian, di atas lukisan dahan tercatat keteguhan watak bangsa yang setia dan pantang menyerah.

Zhaojun melarikan diri ke padang belantara, di jalan sutera diiringi dengan suara ting-tang seuntai gasing. Dikuitip kisahnya oleh Erabaru.net dari portal bahasa mandarin Dajiyuan, tindakan Shuwu dan Zhaojun sekadar menghadapi langsung kegagalan, memperkecil penderitaan jiwa yang tersiksa. Keindahan dalam perjalanan hidup hanya dapat dicapai dengan usaha, tidak ada keberhasilan yang datang dalam penantian, karena itu, menghadapi langsung kegagalan, mengubah penderitaan barulah pilihan terbaik kita.

Tidak perlu sedih dan murung karena rontoknya dedaunan, juga tidak perlu melepaskan usaha karena kegagalan. Karena gugurnya bunga tidak akan mengeringkan segenap musim semi, sekali dalam kegagalan juga tidak akan menelantarkan segenap kehidupan.

Orang-orang sering mengatakan, bahwa setelah angin dan hujan berlalu, cuaca akan cerah kembali di hadapan kita, setelah semak berduri tiada, di hadapan kita akan tampak jalan lapang dan rata yang dipenuhi dengan bunga-bunga segar. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita “Memperbesar siksaan hidup”.

Hidup adalah sekuntum bunga yang selalu bersemi, kegagalan itu pasti sumber makanan yang membasahi bunga, perjalanan hidup yang tidak pernah mengalami kegagalan merupakan hidup yang tidak sempurna: “cepat atau lambat bunga yang tidak dibasahi gizinya juga akan layu”.

Penderitaan dan kegagalan merupakan dua hal yang mesti dialami dalam kehidupan, jika ingin agar padang belantara Gobi di hati kita dipenuhi dengan bunga-bunga segar, maka hanya dengan upaya menyelesaikan derita saat mengalami kegagalan, berjuang menghimpun kekuatan hidup sebagai tujuan yang baru, maka bunga kehidupan barulah akan bersemi abadi, dan eksistensi dalam kehidupan baru bisa memiliki makna baru yang lebih dalam. (Epochtimes/asr)

Share

Video Popular