Keterangan foto: Organisasi Hong Kong Youth Care Association Limited (Qing Guan Hui 青關會) adalah ormas yang mendapat dukungan langsung dari kubu Jiang Zemin, ormas tersebut juga terkait erat dengan Kepala Eksekutif Hongkong yakni Leung Chun-ying (foto), juga merupakan organisasi yang berada di bawah naungan Kantor 610 bentukan PKT yang bermisi menindas Falun Gong. (Epoch Times

Oleh: Zhou Xiaohui

Akhir tahun lalu, pemegang saham sebuah toko buku terlarang Hongkong bernama Li Po ditangkap dan dibawa pergi oleh polisi Tiongkok. Peristiwa tersebut diartikan oleh berbagai pihak sebagai adanya jejak konflik antar pejabat tinggi PKT. Baru-baru ini di Hongkong kembali terdengar suara sumbang. Pada 17 Januari pihak kepolisian Hongkong mengaku mendapat laporan akan ada ledakan bom, setelah polisi bergerak ke Hotel Longbao untuk mengevakuasi massa, ternyata hanya peristiwa “bom palsu”, yang dimaksud dengan bahan peledak itu sama sekali tidak berdaya ledak. Yang patut diperhatikan adalah, di hari yang sama, praktisi Falun Gong Hongkong dan sebagian praktisi dari luar negeri sedang menggelar konferensi di hotel tersebut, dan konferensi Falun Gong itu pun terpaksa harus dihentikan.

Sejumlah pertanda menjelaskan, “bom palsu” kali ini adalah teror yang direncanakan, dan pelaku di balik kejadian ini sangat mungkin adalah kekuatan dari kubu Jiang Zemin yang tersisa. Terdapat tiga bukti yang menjelaskan demikian:

Pertama, teror ini jelas ditujukan pada Falun Gong, dan Jiang Zemin serta Zeng Qinghong sendiri adalah dalang utama yang mengobarkan penindasan terhadap Falun Gong, mereka bahkan menyebarkan penindasan tersebut hingga Hongkong dan luar negeri. Organisasi Hong Kong Youth Care Association Limited (Qing Guan Hui 青關會, selanjutnya disingkat QGH) adalah ormas yang mendapat dukungan langsung dari Zeng Qinghong dan Zhou Yongkang, ormas tersebut juga terkait erat dengan Kepala Eksekutif Hongkong yakni Leung Chun-ying, juga merupakan organisasi yang berada di bawah naungan Kantor 610 milik PKT yang bermisi menindas Falun Gong.

Di hari kejadian itu, beberapa anggota ormas QGH dikabarkan berada di hotel tersebut menggalang anggota lainnya untuk mencemooh Falun Gong, bahkan ada yang sesumbar akan “memperbesar” kejadian itu. Tidak diragukan lagi, “memperbesar masalah” adalah tujuan sebenarnya mereka berada di lokasi itu untuk mengganggu jalannya konferensi, membuktikan bahwa di balik ormas itu dan cara-cara mereka “memperbesar masalah” yang kerap dilakukan di Hongkong, baik dalam unjuk rasa Occupy Central 2014, memprotes uji coba nuklir Korea Utara, atau dalam pawai anti-Jepang, pada peristiwa pemilu Taiwan kasus Zhou Ziyu juga pernah dilakukan… dan sasaran mereka sebenarnya adalah para pejabat tinggi di Zhongnanhai, Beijing.

Mengapa dikatakan sasarannya adalah para pejabat tinggi Zhongnanhai?

Tampak dari permukaan, tidak sedikit orang menganggap konflik antar kubu Xi dan Jiang adalah konflik kekuasaan, namun sebenarnya dibaliknya terdapat kubu kekuatan Jiang Zemin, Zeng Qinghong, Zhou Yongkang, Bo Xilai, Xu Caihou yang berupaya melakukan kudeta untuk merampas kekuasaan dari tangan Xi Jinping, dan alasan sebenarnya adalah karena Xi Jinping tidak mau melanjutkan kebijakan kubu Jiang Zemin untuk menindas Falun Gong. Lewat upaya pemberantasan korupsi, Xi Jinping menciduk pelaku penindasan Falun Gong yakni kepala “Kantor 610” Li Dongsheng dan Zhou Yongkang yang menguasai Komisi Politik Hukum. Jiang Zemin dan para anteknya yang takut kehilangan kekuasaan serta diadili akibat kejahatan tersebut, pada saat merebut kekuasaan, mereka juga menciptakan berbagai rekayasa kasus untuk mengacaukan pemerintahan Xi Jinping dan menyerang Falun Gong. Niatnya adalah menjerat Xi Jinping agar ikut terseret dalam kejahatan penindasan Falun Gong, dan membuat kekuatan keadilan di seluruh dunia memukul Xi Jinping, atau setidaknya mengacaukan keadaan agar perhatian Xi Jinping terpecah, bahkan bisa jadi akan menjadi tanggung jawab Xi Jinping. Kemungkinan inilah “memperbesar masalah” yang menjadi sasaran utama ormas QGH Hongkong.

Akhir tahun lalu ketika Leung Chun-ying pergi ke Beijing untuk melaporkan hasil kerja, Xi Jinping mempertegas kembali bahwa sistem satu negara dua sistem “tetap kokoh tak tergoyahkan”, juga menegaskan kembali agar Hongkong harus bisa “menjaga stabilitas dan harmoni”, apa yang dilakukan oleh QGHui yang didukung kubu Jiang justru merupakan pengrusakan terhadap tatanan hukum “satu negara dua sistem”, yang justru membuat Hongkong tidak stabil dan tidak damai. Tindakan tersebut selain akan menciptakan antipati dari warga Hongkong, juga akan membahayakan mereka sendiri.

Kedua, dini hari itu, praktisi Falun Gong melihat anggota QGH yang tiba di lokasi membentangkan spanduk anti Falun Gong. Sekitar pukul 10:00 hingga 10:30 pagi terlihat priba berbaju hitam dan 4 orang anggota wanita QGH masuk ke toilet, tak lama setelah mereka keluar dari toilet, polisi menyatakan ada bom dan mulai melakukan evakuasi. Dan “bom” itu ternyata ditemukan di toilet pria. Apakah ini suatu kebetulan?

Ketiga, tindakan polisi sangat aneh. Ketika praktisi Falun Gong meminta bantuan polisi karena ada anggota QGH mencaci maki di depan hotel, pihak polisi sama sekali tidak menggubris, tapi hanya karena ada satu laporan telepon, konferensi pun langsung dihentikan, dan “bom” yang dilaporkan harus dijinakkan hingga berjam-jam sampai pukul 4 sore, sehingga konferensi pun tidak bisa dilanjutkan. Berpihaknya polisi seperti pada aksi unjuk rasa “Occupy Central” dan berbagai ajang lainnya juga telah diketahui, di balik tindakan polisi tersebut dicurigai adanya intervensi Leung Chun-ying.

Satu hal yang bisa dipastikan dari kejadian ini adalah, dalang di balik “bom palsu” ini cukup rumit, dalang di baliknya terkait dengan Jiang Zemin, dan kali ini selain berniat mengacaukan konferensi Falun Gong, juga bertujuan menantang Zhongnanhai, disaat yang sama juga merefleksikan bahwa kubu Jiang berada dalam ketakutan di ambang ajalnya.

Menurut pemberitaan media massa dalam maupun luar negeri, kekuatan terbesar yang “menentang dan melawan aksi pemberantasan korupsi” adalah kelompok Jiang Zemin, dan kekuatan dari kubu ini “telah atau sedang dibersihkan, setidaknya sudah tak mampu melawan lagi.” Hal ini menunjukkan kekalahan dari kubu Jiang, kabar yang beredar tentang Jiang Zemin dan Zeng Qinghong telah dikenakan tahanan rumah bukan tanpa sebab, dan sekarang anggota Komite Tetap Politbiro Pusat dari kubu Jiang yakni Zhang Dejiang, Liu Yunshan, dan Zhang Gaoli juga telah dibatasi kekuasaannya berkat berbagai maneuver yang dilakukan Xi Jinping.

Akan tetapi, “tidak bisa membalas” bukan berarti tidak bisa melakukan aksi kecil, bukan berarti berhenti mengacau. Jelang pemilu Taiwan, penyanyi Zhou Ziyu yang dilaporkan oleh penyanyi Taiwan bernama Huang An sebagai oknum “Separatis Taiwan” dipaksa untuk meminta maaf, dan kali ini kasus “bom palsu” di Hongkong, juga kasus ditangkapnya pengacara Wang Yu di Beijing awal Januari lalu, serta rumor yang mengatakan adanya “kudeta” jenis lain oleh staf umum militer adalah aksi yang dilakukan oleh kubu Jiang untuk mengacaukan situasi, meronta untuk terakhir kali sebelum ajalnya tiba. Pemerintah yang berawal dari “gebrakan total” menuju “kemenangan mutlak,” jelas harus semakin memperkuat gebrakannya. (sud/ whs/rmat)

Share

Video Popular