Victor Marie Hugo. (WIKIPEDIA)

Sastrawan besar Perancis abad ke-19, sang empu dunia kesusasteraan, pemimpin kesusasteraan aliran Romantisme aktif pada awal abad XIX, tokoh yang mewakili penulis Romantisme dan sebagainya, ada banyak gelar yang menjadi milik satu orang, yaitu: Victor, Marie Hugo.

Pada 1802, Victor Hugo dilahirkan dalam sebuah keluarga perwira militer di Besancon ,Perancis Timur. Ia selain seorang penyair, juga novelis, dramawan, kritikus sastra dan pelukis. Dalam kehidupan karier sastra Hugo yang lebih dari 60 tahun, ia telah menuliskan 79 karya sastra, termasuk 26 buku puisi, 20 buku novel, 12 buku naskah drama dan 21 buku teori filsafat. Di antaranya: Notre Dame de Paris, Hernani, Ruy Blas, Les Châtiments, Les Contemplations, La Légende des siècles, Les Misérables, Toilers of the Sea.

Notre Dame de Paris, L’homme qui rit, Les Travailleurs de la mer, Les Misérables dan Quatrevingttreize didaftar sebagai wakil dari karya sastranya.

Dalam karyanya Hugo menggunakan kalimat-kalimat cerdik dan elegan, alur ceritanya sangat hidup, menunjukkan emosi yang kuat. Mengingat pandangan Hugo tentang estetika, dalam karya acap kali bisa terlihat praktek dari konsep ini. Seperti dalam novel “Notre Dame de Paris” perbandingan antara Quasimodo orang aneh amat jelek yang membunyikan lonceng dan gadis Gipsi Esmeralda yang amat cantik; perbandingan Quasimodo sendiri yang berwajah jelek namun berhati baik.

Dalam novel Hugo memadukan realita dan romantisme, karakter tokoh yang ia ciptakan semuanya mencolok bahkan sangat berlebihan. Melalui berbagai karakter khas tokoh-tokoh, Hugo telah mencerminkan beraneka ragam sikap manusia dalam kehidupan masyarakat saat itu, lalu menggunakan pula daya imajinasinya yang berlimpah, membuat alur gubahan tokoh-tokoh dalam karya sastranya yang berlika-liku dan fantastis bahkan pengalaman hidup yang luar biasa, sehingga menciptakan “gulungan lukisan” besar nan agung serta penuh dengan kegairahan.

Victor Hugo bukan hanya seorang sastrawan yang dikenal oleh semua orang, dari 21 buku karya teori filsafatnya, diketahui bahwa Hugo juga seorang pemikir. Di dalam karya novelnya juga acap kali ditambahkan dengan pandangan unik dari sang penulis bahkan terkadang ditambahkan lukisan yang keluar dari alur cerita. Beberapa komentar dikemudian hari berpendapat bahwa cara bercerita seperti ini menampakkan karya tulisnya terlalu panjang dan bertele-tele. Sebenarnya justru hal itulah merupakan perbedaan Hugo dengan penulis-penulis umum yang lain.

Pemikiran yang mendalam, menciptakan karya tulis yang mendalam pula. Sebuah novel berjudul Les Misérables membuat Hugo memikirkan alur gubahan selama 40 tahun, karya tersebut rampung dimasa tua Hugo, dari sini terbukti sikap berkarya yang sangat cermat.

Dimata generasi penerus, ketiga bukunya yang berjudul Notre Dame de Paris, Les Travailleurs de la mer dan Les Misérables disebut sebagai novel yang melukiskan agama, sosial dan alam. Tiga buah buku karya klasik ini telah mencer¬minkan konsep pemikiran sang penulis dalam berbagai tingkat so¬sial masyarakat.

“Agama akan sirna, tapi keberadaan Tuhan akan abadi”

Oleh karena di dalam dua buah karya tulis Hugo, menciptakan dua citra pastur yang sama sekali berbeda, yang satu adalah pastur Frollo dalam novel Notre Dame de Paris yang berlagak sebagai orang yang bermoral tinggi namun hatinya sangat jahat; yang satu lagi adalah Saints Episcopal Myriel dalam novel Les Miserables yang telah menebus jiwa Jean Valjean, membuat para pembaca generasi penerus tidak jelas apa sesungguhnya agama atau kepercayaan dari penulis.

Menanggapi hal itu Victor Hugo menjawab dengan gamblang yakni, “Agama akan sirna, tapi keberadaan Tuhan akan abadi.”

Diantara banyak ucapan terkenal Hugo, kalimat deklarasi tersebut sangat mengesankan banyak orang.

Dua tahun sebelum Victor Hugo wafat, ia merevisi surat wasiatnya dengan menambahkan kalimat berikut: “Saya memberikan 50.000 franc kepada orang miskin, saya berharap dapat menggunakan mobil jenasah mereka untuk mengantarkan saya ke tempat pemakaman. Saya menolak gereja apa pun mendoakan bagi saya, namun saya memohon seluruh jiwa berdoa untuk saya. Saya percaya pada Tuhan.”

Agama dan Keyakinan adalah pengertian yang sama sekali berbeda. Orang-orang sudah terbiasa mencampur adukkan dua pengertian ini.

Hugo dengan jernih mengenali perbedaan dari dua pengertian tersebut. Ia berkeyakinan pada Sang Pencipta dan yakin pada Tuhan tetapi ia tidak mengakui agama. Karena itulah ia sangat muak dan membenci perilaku oknum gereja, katedral, pastor atau pendeta yang membawa bendera agama namun melakukan hal-hal kotor yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dalam karya tulisnya, banyak mengandung isi yang mengkritik perilaku dari kalangan agamawan yang jahat dan munafik.

Seumur hidup Victor Hugo menghasilkan karya amat banyak, meninggalkan warisan spirit kebudayaan yang sangat berharga bagi dunia. Pada 22 Mei 1885, Hugo meninggal dunia lantaran terserang radang paru-paru, menerima perlakuan dimakamkan secara kenegaraan. Lebih dari dua juta orang mengikuti prosesi pemakamannya. Hugo disemayamkan di Pantheon, Paris, makam orang-orang terkenal Peran-cis. (Lin)

Share

Video Popular