Keterangan gambar: Biaya eksploitasi minyak dari kebanyakan negara produsen berada di atas USD.27/barel. (foto internet)

Harga minyak internasional akhir-akhir ini berada pada kisaran USD. 27 per barel. Jangan dikira ini dapat menekan biaya industri untuk merangsang pemulihan ekonomi. Harga minyak yang rendah bukanlah hal yang menguntungkan.

Jangan berharap harga minyak rendah dapat membantu mengurangi biaya industri, meskipun secara jangka pendek hal itu memang benar. Mengapa demikian ?

Karena hanya beberapa negara di dunia ini yang mampu mengeksploitasi minyak dengan biaya yang kurang dari USD.27, termasuk Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait dan lainnya. Bila harga minyak secara jangka panjang terus di bawah USD. 27, maka hanya beberapa dari negara tersebut yang masih bisa bertahan untuk memproduksi minyak. Dengan berkurangnya pemasok minyak ke pasar, harga otomatis akan naik.

Hal yang perlu dijelaskan di sini adalah bahwa angka-angka biaya produksi minyak pada gambar di atas itu disusun hanya berdasarkan biaya penambangan teknis. Banyak perusahaan produsen minyak independen terutama yang berasal dari negara non OPEC masih perlu menambahkan ongkos ekstra lainnya ke dalam biaya produksi mereka, seperti pajak, biaya yang timbul atas dana pinjaman. Dengan demikian berarti begitu harga minyak di pasaran jatuh ke level di bawah biaya penambangan teknis, secara teoritis sudah melebihi garis biaya keseluruhan sehingga merugikan produsen. Harga minyak rendah dalam jangka panjang mungkin memaksa beberapa perusahaan menghentikan produksi atau bahkan berada di ambang runtuh. Kemudian juga akan menghambat penerimaan pajak, menambah jumlah pengangguran dan seterusnya.

Namun, untuk menghentikan produksi juga bukan masalah yang mudah. Produksi tidak akan dihentikan hanya karena harga pasar yang lebih rendah dari biaya produksi, karena faktor pada sistem eksplotasi membutuhkan waktu cukup panjang bahkan mungkin tahunan untuk memulai kembali produksi. Dan salah satu alasan produksi harus tetap berjalan karena ada kaitan dengan pembayaran bunga atau angsuran hutang yang jumlahnya tidak kecil.

Harga minyak yang rendah juga akan membawa risiko terhadap sistem keuangan, meskipun pengaruhnya itu dalam jangka pendek tidak akan terlampau cepat. Karena negara penghasil minyak bisa memanfaatkan sovereign wealth fund (SWF) untuk meng-offset kerugian yang timbul akibat harga minyak yang rendah, sehingga dapat terus menerima pendanaan dari kreditur selama 2 tahun atau lebih.

Perusahaan minyak gagal membayar hutang juga merupakan salah satu sumber resiko keuangan negara. Jika perbankan tidak terus menyalurkan dana menjamin pelayaran internasional untuk terus memberikan pelayanan, masalah ini bisa mempengaruhi semua perusahaan minyak. Dengan demikian, masalah sudah tidak hanya terletak pada keuangan belaka.

Kemungkinan lain adalah pihak pengawas keuangan di beberapa negara masih terus memberikan kelonggaran kebijakan dalam menangani hutang perusahaan minyak, sampai suatu saat mungkin masalahnya menjadi terlampau besar dan sulit untuk disembunyikan.

Negara pengimpor minyak justru mengalami resesi ekonomi di saat harga minyak dalam tren berbalik naik dari penurunannya. Hal itu terjadi karena upah buruh tidak naik mengikuti kenaikan harga minyak. Akibatnya, para pekerja menemukan bahwa mereka sudah tidak bebas lagi untuk membeli barang kebutuhan, harus beririt-irit. Kemampuan membeli akan menyebabkan masalah pada kegiatan perdagangan. Dan perusahaan terpaksa mengambil beberapa tindakan untuk mengurangi beban modal, termasuk mengurangi investasi dan pengeluaran, memotong upah karyawan, melakukan PHK, outsourcing dan jenis lainnya.

Joseph Tainter dalam bukunya ‘Keruntuhan Masyarakat yang Kompleks’ (The Collape of Complex Societies) menyebutkan bahwa begitu pendapatan menurun, solusi yang sesuai untuk menangani masalahnya juga berubah lebih kompleks. Program pemerintah akan menjadi semakin penting. Biasanya pemerintah akan menaikan pajak. Tenaga kerja elit menjadi lebih penting, Efek Matius akan semakin kentara pada beberapa perusahaan. Hal ini dapat lebih meningkatkan kompleksitas sosial yang akan membuat output perekonomian semakin terkontaminasi, tetapi bukan menaikkan upah tenaga kerja yang non elit. Karena tenaga kerja non elit jumlahnya lebih besar, dan kehilangan pekerjaan cenderung akan melemahkan daya beli mereka. ini jelas dapat berpengaruh langsung pada usaha-usaha di bidang real estate, kendaraan bermotor dan lainnya.

Hal yang membuat semakin kompleksnya masalah adalah soal perangsangan ekonomi yang terus menerus dalam rangka untuk menjaga agar harga minyak mentah dan komoditas lainnya bertahan pada tingkat yang cukup tinggi untuk merangsang produsi. Rangsangan seolah diberikan kepada produsen yang sudah berada dalam kondisi hutang yang menggunung tetapi menikmati suku bunga yang rendah. Kombinasi demikian ini jelas tidak boleh berkelanjutan, karena ia dapat menyebabkan timbulnya investasi yang buruk, di sisi lain juga dapat menimbulkan pecahnya gelembung Hutang.

Namun sampai sekarang pun belum ada solusi yang lebih baik guna menangani masalah tersebut. Ini yang menjadi kekhawatiran banyak orang. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular