Presiden saat menerima Kusrin dengan TV rakitannya (Foto: Agus Suparto/Setpres)

JAKARTA – Namanya Muhammad Kusrin, dia hanya seorang pria lulusan SD Warga Desa Jatikuwun, Karang Anyar, Jawa Tengah. Dia sempat mendapat perhatian luas pengguna media sosial di Indonesia, setelah hasil tv rakitannya dibakar dan dia pun divonis penjara karena tak membuka usaha tak berizin. Namun kini Presiden Jokowi menerima Kusrin di Istana Negara, Senin (25/1/2016).

Jatuh bangun Kusrin bermula pada Maret 2015, usahanya digerebek oleh Polda Jawa Tengah dengan alasan membuka usaha ilegal dan tidak memiliki izin. Kasusnya pun berlanjut hingga akhirnya Kejaksaan Karanganya pada 11 Januari 2016 membakar TV rakitannya. Publik pun terbangun mengecam keputusan aparat negara.

Kusrin awalnya diputus bersalah oleh pengadilan karena terbukti melanggar pasal 120 ayat 1 UU Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian serta Perubahan Permendagri tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dia pun akhirnya dijatuhi hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun serta denda Rp 2,5 juta.

Melansir dari situs Setkab, Presiden Joko Widodo menerima Kusrin di Istana Negara didampingi oleh Menteri Perindustrian, Saleh Husen. Presiden Jokowi menilai sisi profesional TV yang dirakit oleh Kusrin sudah memiliki standar untuk dipasarkan. Kepala Negara menuturkan TV yang dirakit Kusrin bahkan memberikan keluasan memperoleh informasi bagi masyarakat serta fungsi UKM. Presiden juga menambahkan modal usaha kepada Kusrin untuk mengembangkan usahanya.

“Jadi selain fungsi UKM ada fungsi yang lebih penting lagi,” kata Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi di Jakarta.

Kusrin saat bertemu dengan Presiden Jokowi meminta merek tv yang dirakit agar dibantuk untuk dipatenkan yakni Maxreen. Kusrin juga menuturkan dia saat ini sedang mengembangkan pemasaran TV yang dirakitnya di Pulau Jawa. Walaupun ada rencana untuk memproduksi TV LED, namun permintaan saat ini lebih banyak TV tabung.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan bahwa tugas Kementerian yang dipimpinnya memiliki peranan untuk membina pelaku industri termasuk apa yang dilakukan Kusrin. TV yang dirakit oleh Kusrin sudah memperoleh SNI bahkan izin yang diperoleh oleh Kusrin ditunggu Kusrin setelah mengajukan izin secara pribadi.

Menurut Saleh, untuk kasus menimpa Kusrin yang ramai diberitakan, diharapkan tak berhenti pada Kusrin di Karanganyar semata. Namun perlu diperhatikan kepada Kusrin-Kusrin lainnya. Diharapkan Kusrin dapat turut menginformasikan kepada rekan-rekan sesama IKM tentang pengalaman memperoleh SNI.

Saleh Husein mengatakan, inovasi yang dilakukan oleh IKM UD Haris Elektronika dengan produk TV buatannya, hingga dinyatakan lolos uji di B4T dan berhak mendapatkan Sertifikat SNI, patut dijadikan role model bagi para pelaku usaha IKM lainnya. “Bahwa kreativitas dan inovasi ditambah koordinasi dengan para aparat pembina dapat meningkatkan kualitas produk industri IKM dan menghindari pelanggaran hukum,” ujarnya.

Berdasarkan kronologisnya, pada 18 Mei 2015, Kusrin telah mengajukan Aplikasi Permohonan SPPT SNI ke LSPro Baristand Surabaya untuk Ruang lingkup sertifikasi TV CRT (SNI 04-6253-2003). Namun didahului oleh langkah Polda Jawa Tengah dengan menindak usahanya hingga berujung kepada pengadilan. (asr)

 

Share

Video Popular