Oleh: Xin Yu

Berbicara dengan anak adalah semacam seni, diperlukan cara dan teknik khusus untuk membuat anak secara terbuka untuk bercerita atau berbicara.

Berikut 2 contoh kasus:

Anak pulang dari sekolah TK…

Ibu: “Kamu sudah pulang?”

Anak: “Saya sudah pulang.”

Ibu: “Hari ini kamu mengerjakan apa di sekolah?”

Anak: “Tidak ada.”

Ibu: “Makan camilan apa?”

Anak: “Lupa.”

Contoh kedua :

Anak pulang dari sekolah TK…

Ibu: “Ah, Sayang…! Coba ibu lihat! (dengan penuh perhatian memandang anaknya sesaat) Hari ini kamu pasti bermain dengan gembira.”

Anak: “Benar! Saya dan Indra bermain mendirikan blok kayu, kami mendirikan kebun binatang lalu mengurung banyak sekali mainan yang lain untuk dijadikan binatang, sangat asyik”

Ibu:“Wah Kedengarannya sungguh menarik, sayang sekali ibu belum bisa ikut bermain.”

Anak: “Tidak masalah! Lain kali saya akan mengajari ibu untuk bermain.”

Kedua contoh kasus ini semuanya adalah sang ibu bermaksud memahami apakah anaknya melewati hari di sekolahnya dengan baik, sedang melakukan kegiatan apa, bermain dengan gembira atau tidak, tapi hasilnya sangat jauh berbeda.

Terjadinya perbedaan ini, tentu bukan hanya disebabkan oleh teknik berbicara yang berbeda semata, di dalamnya juga termasuk metode berkomunikasi yang telah lama terakumulasi, hubungan keakraban antara anak dan kedua orangtuanya, keinginan anak itu sendiri untuk berbicara serta perasaan anak itu sendiri sewaktu di sekolah dan lain-lain, juga merupakan faktor penyebab terjadinya perbedaan itu. Namun, tidak bisa disangkal bahwa teknik bicara dalam bertanya juga merupakan peran yang cukup penting dalam hal pembicaraan.

Rahasia pertama adalah membuat diri kita juga berubah menjadi anak-anak, masuk ke dalam dunia mereka, membaur dengan mereka. Karena itu, orangtua yang memiliki kepolosan hati mutlak, adalah amat penting.

Rahasia kedua, adalah dengan akrab bersama dengan anak, memberi perhatian yang lebih kepada anak, memahami jalan pikiran dan kebutuhannya. Ingin memahami anak, maka harus sering mendekati anak, dari ucapan kata-kata serta tingkah laku mereka kita bisa memahami jalan pikiran mereka, kesukaan mereka serta kebutuhan batin mereka.

Rahasia ketiga, adalah memperhatikan reaksi dan sikap anak. Orangtua jaman sekarang karena disibukkan oleh pekerjaan, ketika berbicara dengan anak, sering kali dengan tergesa menyatakan pendapat dan instruksi dari kita sendiri, dan mengharapkan anak bisa melaksanakan apa yang kita inginkan, yang paling baik adalah jangan ada pendapat apa pun dari sang anak.

Maka acap kali tidak begitu seksama mendengarkan pembicaraan dari anak dan juga cenderung mengabaikan reaksi anak. Tapi ketika berbicara dengan anak, jika kita tidak memahami sikap dan pendapat mereka, dengan sendirinya mereka bisa menghindari kontak, segala sesuatunya tidak ingin diungkapkan pada orangtuanya lagi, dan sudah pasti akan menciptakan jurang pemisah yang semakin lama semakin dalam.

Rahasia keempat, adalah memahami perasaan anak. Ketika anak di luar merasa kesal, merasa dipersalahkan, ketika ia berpisah dengan teman baiknya atau binatang peliharaan kesukaannya, di dalam batin kecilnya yang halus ia hanyut dalam kesedihan sedemikian lamanya.

Jikalau saat ini anak mengadu pada orangtuanya sambil menangis dan orangtua hanya dapat berkata, “Tidak apa-apa, tegarlah sedikit,” atau berkata “Hal ini tidak perlu disesalkan..,” atau “Kamu sungguh tidak berguna, berhentilah menangis!” Maka akan membuat sang anak merasa bahwa orangtuanya sama sekali tidak bisa memahami perasaan dirinya.

Jika orangtua bisa dengan sikap simpati dan memahami menghadapi sang anak, menghibur anak itu pada saat yang tepat, memberi sedikit penghiburan secara kekeluargaan, percayalah, Anda bisa mendapatkan hasil yang sama sekali berbeda.

Rahasia kelima, adalah memahami perkembangan anak ada batasnya. Mengerti akan taraf perkembangan dari anak sangat penting, karena jika orangtua selalu berbicara dengan kata-kata yang tidak bisa dipahami anak, atau mengajukan tuntutan yang tidak mampu dicapai sang anak, percayalah bukan hanya si anak yang akan merasa sengsara, tekanannya besar, komunikasi antara orangtua dan anak pasti juga akan sangat sulit tercipta.

Rahasia keenam, adalah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak. Ketika anak mengajukan pertanyaan, harus lebih dulu kita pahami arti yang terkandung di dalamnya, dan memberi jawaban sesuai dengan kebutuhan anak. Misalnya anak bertanya, “Ibu, apakah ibu mau berbelanja ke pasar?” Arti sebenarnya dari pertanyaan ini sebenarnya adalah “Ibu saya ingin ikut dengan ibu ke pasar.” Jika anda memahami maksud sebenarnya dari pertanyaan sang anak, maka Anda akan mengatakan, “Mau! Apakah kamu juga mau ikut?”

Anak itu jika mendengar jawaban ini sudah pasti akan sangat senang. Selain itu, jika pertanyaan yang diajukan anak berkaitan dengan ilmu pengetahuan, orangtua juga sebaiknya tidak menjawab dengan gegabah, mengajak anak bersama-sama mencari jawabannya. Dengan begini, di kemudian hari masalah apa pun yang ditemui sang anak, dia akan selalu berinisiatif bertanya pada orangtua mereka.

Rahasia ketujuh, adalah hindari kata-kata, “Saya perintahkan..” atau “Saya peringatkan kamu..” atau “Sebaiknya kamu segera..” atau “Kamu sungguh bodoh..” atau “Kamu sangat mengecewakan saya” dan lain-lain yang mengandung instruksi, perintah, peringatan, ancaman, menyalahkan, mengolok-olok, dan menolak serta nada suara yang mengandung arti negatif.

Rahasia kedelapan, adalah sering merubah topik pembicaraan baru, menimbulkan ketertarikan anak.

Misalnya : “Coba kamu tebak, hari ini telah terjadi masalah apa pada ibu?”, atau “Tahukah kamu mengapa anak kecil begitu senang dengan dinosaurus?”, atau “Jika suatu hari nanti makhluk angkasa luar benar-benar datang ke Bumi…”, dan pertanyaan lainnya, saya percaya pasti bisa lebih menarik anak dari pada perkataan : “Hari ini kamu lewati dengan baik atau tidak?” atau “Senang atau tidak?”.

Rahasia kesembilan, adalah memadati pengalaman hidup anak. Tema percakapan antara orangtua dan anak, acapkali datang dari kehidupan ini, maka dari itu menimbulkan rasa ingin tahu yang tajam pada diri anak, sangatlah penting.

Orangtua bisa mengajak anak mengamati segala macam hal yang berada di sekitar kita, seperti sekuntum bunga, sebuah pohon, warna mobil di jalan, bentuknya, mereknya, pakaian, dan dandanan orang yang lalu lalang, segala macam hal bisa dijadikan bahan pembicaraan. Gunakanlah dengan baik dan eksploitasi pikiran cerdik anda itu! (/The Epoch Times/lin)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular