JAKARTA – Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil membongkar Tindak Pidana Pencucian Uang bisnis Narkoba dengan menangkap seorang tersangka berinisial GP dengan total aset yang disita sekitar Rp 17 Miliar. Pengungkapan hasil kerjasama BNN dengan PPATK, serta jajaran Dirjen Lapas khususnya Lapas Cipinang, Lapas Nusakambangan, dan Lapas Medaeng Sidoarjo.

BNN menyatakan kasus tindak pidana Narkotika selalu berkaitan erat dengan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) sebagai sarana dalam mengaburkan hasil keuntungan dari bisnis Narkotika yang dibongkar Kamis (14//1/2016). Tersangka GP ditangkap di rumahnya di Perumahan Tebing Indah Permai No.10-11 A, Kelurahan Bandar Utama, Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso dalam rilisnya mengatakan penangkapan GP terkait dengan peredaran gelap Narkotika di daerah Surabaya, Jakarta, Cilacap, Tebing Tinggi, dan beberapa daerah lainnya. Tersangka GP pernah dipenjara karena kasus Narkotika pada 2000 sampai dengan 2010.

Tak hanya itu, GP diketahui memiliki keterkaitan dengan jaringan peredaran gelap Narkotika dengan tersangka Pony Chandra (Napi Lapas Cipinang dengan vonis 20 tahun kasus Narkotika dan 6 tahun kasus TPPU), Sodikin (Napi Lapas Medaeng Sidoarjo dengan vonis seumur hidup kasus Narkotika dan 5 tahun kasus TPPU).

GP juga terkait dengan narapidana Amir Mukhlis als Sinyo (Napi Lapas Nusakambangan dengan vonis 20 tahun penjara), Boski als Surya Bahadur Tamang als David (Warga Negara Nepal, Napi Nusakambangan dengan vonis 20 tahun penjara kasus Narkotika dan 10 tahun kasus TPPU), dan Ananta Lianggara als Alung als Alvin Jayadi (Napi Lapas Narkotika  Cipinang dengan vonis 20 tahun penjara).

Menurut pengakuan GP, dia melakukan tindak pidana pencucian uang dari bisnis Narkotika sejak 2000 hingga 2014 dengan mengedarkan jenis Narkotika berupa sabu dan ekstasi. Kasus TPPU yang dilakukan oleh tersangka GP yakni menggunakan hasil keuntungan dari bisnis Narkotika untuk membuka usaha penggilingan padi dan jual/beli beras serta alat angkut berupa truk dan tronton.

Saat melakukan transaksi keuangan terkait dengan TPPU, GP menggunakan rekening dengan identitas palsu atas nama Yulius Djuanda, Johan Wijaya, dan beberapa rekening atas  nama orang lain (palsu). Seluruh barang bukti berupa kendaraan disita oleh petugas di gudang milik tersangka yang beralamat di Desa Seibuluh, Kecamatan Seibanban, Kabupten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, dengan barang bukti diantaranya 12 unit truk, 2 unit tronton, uang asing berupa ringgit dan uang dalam rekening dengan jumlah Rp 9,5 miliar.

Atas perbuatan yang dilakukan GP dikenakan Pasal 137 huruf a dan huruf b  UU  No.35 tahun 2009 tentang Narkotika  dan  Pasal 3 dan Pasal 4 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang karena patut diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum menyimpan, mentransfer, menerima, dan menikmati uang hasil kejahatan Narkotika. (asr)

Share

Video Popular