Keterangan foto: Rabu (27/01/2016) situs dan media pemerintahan RRT selama 6 hari berturut-turut menghembuskan 6 sinyal penting yakni: meragukan sistem partai komunis. Kalangan luar memperhatikan bahwa belum lama ini pemerintahan Xi Jinping melalui berbagai saluran, memang telah mengeluarkan sinyal perubahan konstelasi politik. (Getty Images)

Oleh: Jin Yan

Seiring dengan meletusnya efek busa ekonomi RRT, ekspektasi terus naiknya suku bunga mata uang USD dan melemahnya nilai tukar RMB (Ren Min Bi, mata uang RRT), telah menjadi ancaman dan tantangan bagi bursa saham maupun properti dan surat hutang, termasuk seluruh aset yang dinilai dengan RMB, modal dalam negeri sedang mengalir deras ke luar negeri dengan cepat. Hal ini memaksa pemerintahan Xi dan Li turun tangan untuk menyelamatkan 5 krisis besar yang datang menerjang yakni krisis bursa saham, krisis mata uang, krisis hutang, krisis properti, dan krisis komoditas. Dan saat ini sedang terjebak dalam perang alot di bursa saham sekaligus mata uang.

Data Bank Sentral menunjukkan, sejak diterapkannya pelemahan mata uang oleh Beijing pada 11 Agustus 2015 lalu, mata uang RMB terus merosot tajam. Sepanjang tahun RMB telah melemah 5,87% terhadap nilai tukar tengah USD. Mengawali 2016, RMB ibarat mengalami diare, terus merosot jatuh. Pada Kamis (7/1/2016) nilai tukar RMB terhadap USD di luar negeri telah menyentuh angka 6,7663. Hingga Selasa (12/1/2016), nilai tukar RMB terhadap nilai tengah USD merosot hingga 6,56, atau turun sekitar 6,7% dibandingkan setahun lalu di level 6,12. Jika dihitung quota penukaran mata uang asing setiap orang USD 50.000, maka tiap orang harus mengeluarkan uang lebih banyak RMB 21.975.

Melemahnya nilai tukar RMB juga memicu efek panik yang menular untuk menukarkan mata uang asing, seperti aksi memborong emas oleh ibu-ibu di RRT beberapa waktu lalu. Saat ini gelombang “merebut USD” pun telah dimulai. Karena aksi borong USD terus memanas, permintaan mata uang asing pada perbankan online semakin melonjak, sejumlah bank bahkan mengalami kerusakan sistem online perbankan, waktu pemrosesan melambat, dan berbagai masalah lain. Ditambah lagi persediaan USD pada perbankan tidak mencukupi, perbankan kerap mengalami kurangnya pasokan USD, antrean pun menumpuk, bahkan terjadi fenomena harus memesan satu minggu sebelumnya. Tidak sedikit nasabah di bank swasta yang telah menghabiskan quota mata uang asing hanya di minggu pertama 2016, “Sekarang semua orang mencari USD kemana-mana, bahkan quota bibi di rumah pun telah terpakai.”

Selain itu, selama beberapa waktu nilai tukar RMB di luar negeri mengalami selisih harga hingga 1.500 basis poin, ini sama saja dengan memberikan peluang meraup untung bagi para spekulan mata uang asing.

Seiring dengan semakin besarnya pelemahan nilai tukar RMB, produk investasi dalam mata uang USD pun menjadi laris manis, ekspektasi imbal hasilnya pun terus menanjak. Selain membeli secara langsung investasi mata uang asing di dalam negeri, tidak sedikit investor dalam negeri mengalami demam penempatan dana di luar negeri. Industri pelayanan investasi dengan penempatan dana di luar negeri baik di RRT sendiri maupun di Hongkong mengalami lonjakan permintaan, volume bisnis pada perusahaan investasi NOAH di RRT dan Hongkong pada tahun 2015 ini mengalami peningkatan 5 kali lipat dibandingkan pada 2014.

Walaupun hanya dengan pelemahan RMB sebesar 6% hingga 8%, maka cadangan devisa setidaknya akan berkurang sebesar USD 500 milyar setiap tahunnya. Seandainya hanya 2% warga menggunakan quota USD 50.000 penukaran mata uang asingnya, maka akan menyebabkan dana sebesar USD 1,3 trilyun mengalir ke luar negeri. Sementara itu, devisa asing yang digunakan RRT untuk mengimpor minyak mentah dan chip telah menghabiskan hampir USD 500 milyar, belum lagi impor bahan makanan dan emas juga membutuhkan devisa asing dalam jumlah besar. Sehingga bahkan media partai surat kabar “People’s Daily” pun mempertanyakan terus merosotnya cadangan devisa: Akankah cadangan devisa “habis tak tersisa”?

Oleh karena itu, tindakan pertama Bank Sentral melindungi RMB adalah harus mempertahankan nilai tukar di ambang batas 6,8 dan cadangan devisa harus tetap berada di level USD 3 trilyun. Karena melemahnya RMB tidak hanya berpengaruh terhadap stabilitas moneter dan ekonomi RRT, tapi secara tidak langsung juga akan mempengaruhi stabilitas politik Partai Komunis Tiongkok/ PKT. Sama sekali tidak berlebihan, jika tidak bisa mempertahankan stabilitas RMB, maka RMB pun akan membawa bencana bagi negara, People’s Bank pun akan berubah dari “Bank Sentral” menjadi “Bank Sial!”

Membahas soal mengambil keuntungan dengan memanfaatkan selisih nilai tukar RMB di dalam negeri dengan di luar negeri, pada akhir tahun lalu Bank Sentral Tiongkok telah menghentikan operasional lintas wilayah oleh perbankan asing seperti Standard Chartered, Deutsche Bank, dan DBS Singapore, serta bisnis penukaran mata uang asing di dalam negeri setidaknya hingga Maret 2016.

Di satu sisi, nilai tukar tengah RMB terus diderek selama 3 hari berturut-turut. Sisi lain, tiba-tiba menjual USD ke pasaran, membeli RMB di luar negeri dengan tujuan menyedot habis aliran RMB di pasar luar negeri. Selisih nilai tukar RMB di dalam negeri dengan di luar negeri yang sempat menembus 1.600 basis poin dipersempit hingga kurang dari 100 basis poin. Nilai tukar RMB di luar negeri sementara berhasil dikendalikan di level di bawah 6,60. Menurut informasi, tindakan Bank Sentral terhadap Short Position ini, mirip dengan adu kekuatan antara pemerintah Hongkong dengan Soros pada krisis moneter di Asia pada 1998 lalu.

Tapi disaat media massa RRT masih bersorak mengelukan RMB yang menghajar Short Position di pasar luar negeri, baik mata uang HKD maupun RMB keduanya “disergap” di luar negeri. Lagi-lagi arus penurunan kembali terjadi. Terutama HKD mengalami anjlok drastis! Pada perdagangan pada Kamis (14/1/2016) memecahkan rekor anjlok harian terbesar selama 13 tahun terakhir, penurunan nilai tukar terhadap USD merosot hingga 0,33%. Keesokan harinya, Jumat (15/1/2016), penurunan terus terjadi sebesar 0,17% hingga menyentuh level 7,7990, memecahkan rekor anjlok terbesar dalam 2 hari selama 30 tahun terakhir.

Menghadapi lonjakan dahsyat masyarakat dan perusahaan yang memborong USD, PKT mulai memberlakukan pengetatan modal. Menurut nara sumber, baru-baru ini Biro Administrasi Valuta Asing PKT (SAFE) memberikan instruksi lisan pada bank di Shenzhen, agar membatasi jumlah pembelian USD baik bagi perorangan maupun perusahaan. Akhir tahun lalu SAFE juga merilis surat edaran tentang “masalah terkait penanganan devisa asing bagi perorangan.” Seluruh instansi keamanan publik juga melancarkan aksi pemberantasan bank bawah tanah di seluruh negeri, untuk mencegah dana mengalir ke luar negeri.

Para pengamat moneter luar negeri pernah menjabarkan, jika tidak ada kedaulatan rakyat, maka tidak akan ada kedaulatan negara, dan tidak akan ada kepercayaan akan kedaulatan dalam arti sesungguhnya. Selama lebih dari setengah abad mata uang USD mampu menjadi mata uang global, adalah berkat pemisahan 3 kekuasaan, dan kepercayaan terhadap pemerintah yang mampu saling mengawasi. Sementara RMB bukan mata uang yang memiliki ciri-ciri kedaulatan, RMB memuat pengkultusan terhadap para pemimpin diktator PKT dan ketergantungan pada rezim partai tunggal yang otokratis. Saat ini RMB telah terjerumus menjadi alat bagi para oknum berkepentingan PKT untuk meraup kekayaan pribadi.

Pada saat Uni Soviet tercerai berai beberapa waktu lalu, Tiongkok telah kehilangan momentum berharga untuk melakukan reformasi pemerintahan, reformasi telah diubah menjadi perampokan. Jika pemerintahan ketua Xi dan PM Li ingin melalui badai krisis moneter yang dipicu oleh RMB ini, selain terus melakukan pemberantasan korupsi pada institusi moneter dan menghabisi antek kubu Jiang yang tersisa, Xi Jinping juga harus membabat tuntas dan membedah sistem kediktatoran komunis secara total. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular