Pengobatan fibrosis paru idiopatik, meliputi pengobatan dengan obat-obatan, terapi rehabilitasi paru-paru, terapi oksigen, transplantasi paru-paru dan sebagainya.(Istock)

Cukup banyak cara dalam hal pengobatan fibrosis paru idiopatik, selain N-acetylcysteine-NAC (N-Asetil-Sistein), azathioprine, prednison dan obat-obatan tradisional lainnya.

Pada tahun 2014 lalu, US Food and Drug Administration (BPO nya -AS) telah menyetujui dua jenis obat untuk fibrosis paru idiopatik yakni “Pirfenidone” dan “Nintedanib”. Perlu diketahui, Pirfenidone adalah obat-obat spesifik pertama yang disetujui untuk mengobati fibrosis paru idiopatik, ia dapat memperlambat pembentukan fibrosis paru, memperlambat laju penurunan fungsi paru-paru penderita fibrosis paru, dan meningkatkan rasio hidup penderita. Sedangkan Nintedanib adalah jenis obat kedua yang disetujui untuk mengobati fibrosis paru, obat ini dapat menon-aktifkan molekul sinyal yang aktif secara ekstrim dalam penyakit fibrosis paru idiopatik, dan dapat memperlambat laju penurunan fungsi paru-paru.

Terapi oksigen

Seiring dengan perkembangan penyakit, jaringan paru-paru normal dari penderita fibrosis paru idiopatik secara bertahap akan digantikan oleh jaringan parut (bekas luka), fungsi pertukaran gas terganggu (cedera), dan dapat mempengaruhi fungsi organ vital dalam tubuh. Sementara itu, oksigen bisa secara efektif meningkatkan gejala sesak napas/kesulitan bernapas penderita, mengurangi tekanan atau beban pada setiap organ tubuh dalam kondisi hipoksia, meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia hidup penderita.

Melalui analisa gas darah arteri atau secara oximeter / pulse oximeter, dapat menentukan apakah penderita fibrosis paru idiopatik itu membutuhkan terapi oksigen atau tidak. Saat dalam keadaan istirahat, beraktivitas atau tidur, dimana jika tekanan oksigen arteriol penderita dibawah 55 mm HG atau saturasi oksigen kurang dari 88%, maka terapi oksigen ini perlu dijalani. Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan memasang nasal atau masker ke saluran pernapasan pasien lalu menghubungkan dengan tabung oksigen. Prosedur pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai naso faring. Persentase oksigen yang mencapai paru-paru beragam sesuai dengan kedalaman dan frekuensi pernafasan, terutama jika mukosa nasal membengkak atau pada pasien yang bernafas melalui mulut. Sekadar catatan, saat bepergian sebaiknya membawa tabung oksigen portabel. Selain itu, pasien sebaiknya dijauhkan dari lilin atau sumber api minimal 10 kaki atau lebih dan orang-orang sekitar juga sebaiknya tidak merokok saat pasien menghirup oksigen.

Rehabilitasi paru

Rehabilitasi paru-paru merupakan sebuah program latihan perencanaan yang ketat, yang bertujuan meningkatkan daya tahan latihan dan kekuatan otot pasien, sekaligus mendidik pasien belajar teknik pernapasan dan cara penggunaan oksigen. Divisi klinik di rumah sakit biasanya tidak memiliki area khusus untuk proses terapi rehabilitasi paru-paru. Pasien menjalani latihan di bawah bimbingan terapis pernapasan atau ahli fisiologi, proses latihan berlangsung selama beberapa jam dua sampai tiga kali seminggu. Dan dari pelatihan tersebut, hasil tes berjalan kaki selama enam menit dari pasien yang gigih menjalani rehabilitasi paru-paru itu berlangsung dengan lebih baik, dan kualitas hidup pasien juga meningkat. Bagi pasien yang berencana menjalani program transplantasi paru-paru sebaiknya ikut serta dalam terapi rehabilitasi paru-paru, agar pasien memiliki kekuatan otot yang memadai untuk terapi fisik yang dapat membantu pemulihan pasca operasi

Transplantasi paru-paru

Jika terjadi kerusakan permanent pada fungsi paru-paru penderita fibrosis paru idiopatik stadium akhir, maka diperkirakan harapan hidupnya tidak lebih dari satu tahun atau bagi penderita yang fungsi paru-parunya mengalami kerusakan serius itu bisa mempertimbangkan transplantasi paru-paru. Sebagai catatan, usia penderita yang ingin menjalani transplantasi itu disyaratkan berusia di bawah 65 tahun, dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung, ginjal, hati dan penyakit kronis lainnya, tidak memiliki kebiasan minum minuman keras, merokok atau terkait narkoba, juga tidak punya gejala hepatitis atau AIDS, dan kondisi mental juga normal.Setelah selesai operasi transplantasi dan keluar dari rumah sakit, pasien akan diatur untuk ikut serta dalam program latihan rehabilitasi paru-paru untuk membantu pemulihan pasca operasi. Setelah semua proses itu dijalani, pasien transplantasi paru-paru perlu minum obat penekan kekebalan seumur hidup.(Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular