Keterangan foto: PKT yang selama ini mengandalkan Front Persatuan, penyuapan kalangan elit dan bekerjasama dengan DPP sudah tidak mempan lagi. Karena Taiwan sudah menjadi milik rakyat, sudah bukan milik pribadi seseorang atau parpol manapun. Nampak pemilih muda Taiwan pada 16/01 di pos pencoblosan ketika berduyun-duyun memberikan suara mereka sendiri yang berakhir dengan kemenangan besar DPP. (Chen Baizhou / Epoch Times)

Oleh: Ye Guanxing

Mempersatukan Taiwan dengan mengandalkan kekuatan militer untuk membebaskan Taiwan sudah bukan jamannya lagi. Mengandalkan tulisan artikel menipu orang seperti Front Persatuan dan Kerjasama KMT (KuoMinTang, partai nasionalis) dan Partai Komunis Tiongkok/ PKT juga sejak awal tidak cocok lagi. Lebih penting dari semua itu adalah, kemenangan besar DPP (Democratic Progressive Party, 民進黨) kali ini dan kekalahan mengenaskan KMT yang kehilangan posisi presiden dan Badan Legislatif serta kehilangan enam kota yang semuanya diperintah langsung oleh Pemerintah Pusat dalam Pemilu Taiwan. Hal ini telah memberitahukan PKT dengan gamblang bahwa mengandalkan Front Persatuan, mengandalkan penyuapan kalangan elit, mengandalkan bekerjasama dengan DPP juga sudah tidak mempan lagi. Taiwan sudah menjadi milik rakyat, sudah bukan milik pribadi seseorang atau parpol manapun.

Setelah “Melawan Amerika Membantu Korut,” Mao Zedong (dibaca: Mao Ce Tung) sudah tahu dengan kekuatan militer membebaskan Taiwan sudah tidak mujarab lagi. Pada era 1950-an, Mao Zedong, PM Zhou Enlai mengusulkan persatuan damai dan bekerjasama untuk ketiga kalinya antara KMT dengan PKT, usulan tersebut terputus oleh gerakan “anti sayap kanan.” Pada era 1960-an diusulkan lagi namun terhenti karena “Revolusi Kebudayaan.” Mao Zedong dan Zhou Enlai menawarkan kondisi persyaratan yang sangat menguntungkan namun selalu diabaikan oleh Chiang Kai-shek, sedangkan Chiang Ching-kuo (putera Chiang Kai-shek) malahan menunjukkan surat dari PKT yang ditujukan kepadanya, kepada pejabat Amerika Serikat serta menyatakan tekad lebih baik mati terhormat daripada hidup terhina dan tidak akan bernegosiasi dengan PKT untuk selamanya.

Dengan kata lain sejak era 1950 hingga 1960-an kebohongan yang menyebutkan persatuan damai dan kerjasama ketiga kali antara KMT – PKT sudah tidak berlaku lagi. PKT mulai membombadir pulau Kinmen sejak Agustus 1958, kemudian diganti dengan setiap tanggal ganjil mengebom dan tanggal genap libur. Situasi seperti itu berlanjut hingga akhir 1978. Pengeboman tersebut tidak mengandung makna strategis perang maupun siasat perang. Menurut penulis, makna satu-satunya adalah pelampiasan rasa dongkol dan ketidak-berdayaan karena tidak mampu membebaskan Taiwan dengan kekuatan militer juga tidak bisa ditipu dengan persatuan damai.

Pada 1978, Chiang Ching-kuo terpilih menjadi presiden ROC (Republik of China) dan Deng Xiaoping come back di panggung politik. Kedua tokoh tersebut merupakan teman sekelas semasa kuliah di Universitas Sun Yat-sen di Uni Soviet pada 1926-1927. Deng Xiaoping adalah kepala regu Liga Pemuda tim Chiang Ching-kuo, mereka memiliki asal sejarah yang sangat mendalam. Tahun Baru 1979, RRT-AS menjalin hubungan diplomatic. Kongres Rakyat Nasional PKT menyiarkan “Pesan kepada rekan sebangsa di Taiwan”, pejabat senior PKT Liao Chengzhi menerbitkan artikel “Sepucuk surat kepada Chiang Ching-kuo”, berisi usulan kerjasama ketiga kali antara Partai Kuamintang- Partai Komunis Tiongkok serta menyatakan ingin berkunjung ke Taiwan namun ditolak oleh Chiang Ching-kuo. Deng Xiaoping menginstruksikan Xikou di provinsi Zhejiang memperbaiki makam ibu dan nenek Chiang Ching-kuo, foto dikirim ke ‘istana presiden’ Taiwan secara rahasia, Chiang Ching-kuo menyatakan ‘rasa berterima kasih.’

Deng Xiaoping mengusulkan “satu Negara dua system.” Ia mengatakan kepada Lee Kuan Yew sebagai perantara hubungan lintas-selat, Beijing pasti tidak akan mengutus pejabat atau militer ke Taiwan, tidak ikut campur urusan politik atau masalah personil di Taiwan. Situasi setelah persatuan bisa dipertahankan selama 100 tahun. Menegaskan “selain prinsip satu Negara Tiongkok, pihak daratan tidak ada syarat mutlak yang harus dipenuhi. Semua persyaratan yang lain dan metodenya bisa dinegosiasikan dan disesuaikan.”

Tidak ditanggapi oleh Chiang Ching-kuo. Chiang Ching-kuo mewarisi sepenuhnya wasiat Chiang Kai-shek yang pernah menyatakan secara terbuka, “Tidak peduli ROC dalam situasi apapun mutlak tidak akan berurusan dengan otoritas PKT serta mutlak tidak akan melepaskan tugas mulia untuk menguasai daratan Tiongkok dan menolong rekan sebangsa, pendirian ini mutlak tidak akan berubah.”

Selanjutnya dalam rapat biasa KMT diringkas menjadi tiga kebijakan tidak yakni “tidak kontak, tidak negosiasi, tidak kompromi.” Kemudian berkembang menjadi tiga kebijakan tidak Ma Ying-jeou yakni “tidak unifikasi, tidak merdeka, tidak menggunakan kekuatan”.

Chiang Ching-kuo meninggal dunia pada Januari 1988. Deng Xiaoping pernah mengatakan bahwa jikalau Chiang Ching-kuo masih hidup, persatuan Tiongkok tidak akan sulit dan rumit seperti sekarang.

“Dulu KMT dan PKT pernah dua kali bekerjasama, saya tidak percaya tidak akan ada kerjasama ketiga kali antara KMT dan PKT. Sayang Ching-kuo meninggal dunia terlalu dini!” katanya.

Tampaknya benak Deng Xiaoping yang dipenuhi oleh budaya partai masih saja tidak bisa memahami Chiang Ching-kuo yang tatkala bergabung dengan Partai Komunis Uni Soviet, secara terbuka mencela Chiang Kai-shek ayahnya sendiri, ketika pulang masih mengemban tugas dari Komunis Uni Soviet. Namun begitu kembali ke pangkuan kebudayaan Tiongkok, ia sejak itu secara mutlak mencampakkan Partai Komunis secara tuntas.

Menilik sejarah, sudah sangat jelas bahwa apa yang disebut “pengertian bersama 92, satu Tiongkok dinyatakan masing-masing” itu, dalam sudut pandang PKT adalah menunjuk pada RRT. Tetapi dari sudut pandang KMT menunjuk pada ROC. Serangan “perdamaian” PKT kelihatannya sangat dasyat namun sudah meninggalkan target menggunakan komunisme untuk membebaskan Taiwan. Sedangkan sepertinya Partai Kuomintang tidak bertaring lagi untuk membalas namun tidak melepaskan Trias Politika untuk menguasai kembali daratan Tiongkok dan tugas yang mulia menyelamatkan rekan sebangsa.

Taiwan sudah mengijinkan PKT mengajukan registrasi dan berkembang di Taiwan, namun PKT tidak berani berkembang di Taiwan atau tidak berani berkembang secara terbuka, melakukan aksi bawah tanah dan sembunyi-sembunyi. Sedangkan di daratan Tiongkok, PKT masih tetap tidak mengijinkan Partai Kuomintang untuk registrasi. Apa yang disebut ‘percaya diri’ sebenarnya adalah kurang yakin (tidak percaya diri) dan terus menerus membutuhkan penyemangat pada diri sendiri. (lin/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular