Keterangan foto: Jiajia dengan keluarga barunya.

Oleh : Gao Tianyun

Suatu hari pada Agustus 2015, reporter CNN Will Ripley mengunjungi“Alenah’s Home”, panti asuhan di Beijing dan melakukan peliputan berita tentang anak terlantar di RRT. Panti asuhan tersebut membesarkan 23 anak terlantar cacat bawaan. Jiajia (dibaca: Cia Cia) adalah bocah lelaki yang usianya paling besar. Setelah menunggu selama 9 tahun, akhirnya Jiajia tahu ada sepasang warga Amerika Serikat yang berbaik hati akan mengadopsi dan bakal menjadi orangtua asuhnya.

Jiajia yang berkulit putih bersih menderita tulang punggung retak bawaan, mengalami kelumpuhan dari daerah pinggang kebawah. Ia teguh dan bersifat optimis, mampu mengganti sendiri diaper (popok)nya, juga bisa berenang. Di hari itu, Jiajia duduk di lantai sedang berbincang dengan reporter Will Ripley. Will mengatakan, di AS nanti ia akan mempunyai ayah, ibu beserta 3 kakak perempuan, juga mempunyai kakek dan nenek. Wah! Luar biasa.

”Jika saya memiliki ayah dan ibu, saya akan menjalani kehidupan, kehidupan saya sendiri,” kata Jiajia.

Bicara sampai disini, tak kuasa ia meneteskan air mata dan menangis tersedu. Will dengan iba menatapnya dan menghiburnya lirih, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

Sambil menepuk pundaknya, kepala Will disandarkan ke kepala Jiajia. Seluruh anggota kru perekam juga meneteskan air mata.

Bersamaan itu, suami-isteri Brian Wilson dan Jeri Wilson yang berada di kota Kansas AS, berjarak sejauh 10 ribu KM, sedang sibuk mempersiapkan pengadopsian Jiajia. Mereka berdua sebagai umat Kristiani yang taat, percaya adanya panggilan Tuhan sehingga mereka memutuskan untuk mengadopsinya. Jiajia memang adalah anak mereka.

“Tubuh anak itu yang memerlukan perawatan khusus bukan menjadi alasan untuk menolak memeliharanya. Kami tidak peduli kelumpuhan pada kedua kakinya,” kata Jeri.

Akan tetapi, biaya adopsi sebesar 36 ribu US$ (Rp 498 juta) melampaui kemampuan mereka. Mereka baru mampu mengumpulkan 10 ribu US$. Maka mereka menyerukan dukungan dari masyarakat. Jeri mendirikan halaman khusus di facebook dan mencatat perkembangan kondisi adopsi. Hal yang menakjubkan adalah Will Ripley yang sedang berada di RRT berhasil menemukan mereka dan memberitahu bahwa ia baru saja bertemu Jiajia di Beijing serta bertanya apakah mereka setuju mengungkap masalah adopsi di acara penyiaran berita nanti.

Keterangan foto: Jiajia dengan kedua orang tua asuh sebelum meninggalkan Beijing.

Pada 12 Agustus tahun lalu, CNN telah menyiarkan laporan tentang anak buangan di RRT yang digarap oleh Ripley, diantaranya menyampaikan usaha keras keluarga Wilson dalam mengadopsi Jiajia. Berita itu segera mendapat respon dari berbagai kalangan dan sumbangan dana dengan cepat mengalir masuk. Pemberian subsidi yang antusias berdatangan dari orang-orang yang tidak pernah dikenal, ini membuat suami-isteri Wilson sangat terharu. Dengan cepat sekali uang telah terkumpul, mereka berencana sisa uang dan donasi selanjutnya akan digunakan untuk membantu lebih banyak lagi anak buangan di RRT.

Bayi buangan merupakan sebuah masalah yang sangat serius di masyarakat RRT sekarang ini. Menurut data laporan resmi, pada 2014 di seluruh RRT terdapat 525.000 anak yatim piatu, juga ada organisasi yang memperkirakan, angka sesungguhnya mungkin lebih dari sejuta anak. Walaupun pada 1 dekade terakhir, anak buangan telah turun secara dratis, namun angkanya masih saja mengejutkan, lagipula, hampir seluruh anak buangan itu mampunyai cacat fisik bahkan cacat berat.

Menurut Laporan Pencegahan dan Penyembuhan Anak Terlahir Cacat di RRT (2012), di RRT, setiap tahun terlahir bayi cacat lebih-kurang 900 ribu bayi. Ini berhubungan langsung dengan pemeriksaan sebelum lahir yang tidak sempurna. Beberapa tahun belakangan ini, “Tempat pungut bayi buangan” yang menjalin hubungan dengan lembaga sosial di berbagai tempat telah menerima sangat banyak bayi cacat, ada yang telah melebihi kapasitas sehingga terpaksa ditutup.

Puluhan ribu anak cacat buangan merupakan sekelompok manusia yang paling lemah dalam masyarakat. Mereka memerlukan pengobatan, perawatan dan perhatian. Ahli kepentingan umum mengatakan, RRT tidak memiliki jaringan jaminan keamanan masyarakat yang sempurna, peraturan tentang HAM juga terdapat banyak kebocoran, fenomena tersebut jelas sekali tidak sesuai dengan predikat badan ekonomi terbesar ke-2 dunia. Hal itu membuat orang bertanya, “Di balik peningkatan ekonomi yang sangat cepat serta memiliki kekayaan amat besar yang terlihat dari permukaan, masih kekurangan apakah yang lebih penting lagi?”

Pertama, masyarakat telah kehilangan penghormatan terhadap kehidupan. Seluruh kehidupan, manusialah yang paling berharga. Namun, setiap tahun, beberapa puluh ribu kehidupan kecil yang berharga begitu terlahir segera dibuang, bahkan dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Bukankah darah lebih kental daripada air?

Prinsip tersebut di hadapan beberapa puluh ribu anak buangan RRT terlihat sangat sulit ditegakkan. “Perikemanusiaan (仁 / Ren)”, yaitu “Mencintai manusia”, merupakan salah satu unsur utama dari system nilai Tiongkok. Jelas sekali fenomena anak buangan yang kejam ini telah menunjukkan, “Perikemanusiaan” telah ditinggalkan semakin jauh oleh seluruh masyarakat. Mengapa banyak orang dapat meloloskan kasih dari tengah celah jari? Mengapa moralitas menjadi sangat tidak berharga? Cinta yang merupakan hal yang paling fundamental telah tidak eksis lagi, manusia akan menuju kemanakah?

Kedua, masyarakat ini telah kehilangan keseimbangan. Perkembangan pesat nan abnormal ekonomi RRT telah mempercuram kesenjangan kaya dan miskin, pembagian income menuju kedua arah berlawanan, kaum berkuasa menindas rakyat jelata, pendapatan negara telah meningkat, namun sistem perlindungan terhadap masyarakat bahkan hampir lenyap. Jutaan penduduk RRT ditekan hingga sulit bernapas oleh empat buah gunung raksasa yang berupa biaya-biaya: pengobatan, pendidikan, pensiun dan tempat tinggal. Orang miskin RRT bukan lagi “relatif” miskin, melainkan adalah “mutlak” miskin. Miskin telah menjadi penyebab sebagian orang tua mereka membuang bayi cacatnya. Mereka tidak berdaya membiayai sejumlah besar pengobatan yang hampir sebesar beberapa tahun gajinya, dan serentetan biaya keperluan dikemudian hari. Mungkin juga mereka tidak ingin dibebani secara jangka panjang oleh anaknya yang memiliki kekurangan dari bawaannya. Setiap hari telah berjuang demi menghidupi dirinya sendiri, sehingga telah melenyapkan cinta kasih orang tua terhadap anaknya, akhirnya mereka memilih melepas.

Namun apakah mereka pernah memikirkan, pertumbuhan anak buangan kemudian hari, mereka tidak hanya akan menerima berbagai gangguan dari penyakit tubuhnya, masih akan menerima trauma psikologis atas pencampakan oleh orang tuanya. Dalam perjalanan hidup anak-anak tersebut akan mengalami seberapa besar kesulitan! Pertumbuhan ekonomi yang abnormal, kesenjangan pendapatan yang abnormal, psikologis dan pilihan yang abnormal.

Air mata Jiajia adalah kesedihan hati seluruh anak buangan. Seorang relawan dari Kanada yang bekerja di panti asuhan mengatakan, “Mereka seharusnya tidak hidup sedemikian rupa. Dari sorotan mata mereka saya telah menyaksikan satu per satu kisahnya, telah menyaksikan penderitan hati mereka.”

Pada Januari 2016, melalui penerbangan selama 17 jam, dengan hati gembira Brian Wilson dan Jeri Wilson telah tiba di Beijing, untuk kali pertama menemui Jiajia. Tanpa banyak bicara, dalam saling menatap dan sentuhan halusnya mereka telah menyalurkan perasaan kekeluargaan. Tangan Jiajia digenggam, kepalanya dielus, kursi roda Jiajia didorong, membawanya keliling kemana-mana. Mereka menyatakan pasti akan menyayanginya, dengan sepenuh hati merawat anaknya yang telah menunggu selama 9 tahun. Mereka telah mendaftarkan Jiajia pada dokter di AS, dan telah siap dilakukan serentetan operasi, untuk sebisa mungkin memperbaiki kondisi tubuhnya.

Dalam berita video, ketika saya menyaksikan reporter Will menghibur Jiajia dengan linangan air mata, ketika saya menyaksikan Brian menggendong Jiajia naik turun mobil, serta sorotan mata Jeri yang selalu dipenuhi rasa cinta-kasih, saya tidak dapat menahan lagi air mata. Seorang wartawan AS mengalihkan kameranya menyoroti sekelompok anak-anak Tiongkok yang memerlukan kasih sayang. Ia menggunakan penanya telah menceritakan keinginan anak-anak itu, dan kisah mereka telah disebarkan kepada orang-orang baik hati yang lebih banyak lagi. Sepasang suami-istri biasa dari negara Barat, mencari calon anaknya sejauh ribuan kilometer, dengan lapang dada tanpa keraguan menerima seorang anak cacat dari negara asing, dan menjanjikan keindahan hidupnya dikemudian hari. Cinta kasih seperti ini, begitu mendalam dan mulia, telah melampaui etnis dan batas negara. Tindakan mereka telah menjelaskan dengan sempurna cinta-kasih yang tanpa ego!

Will Ripley sekali lagi menyiarkan kisah Jiajia. Kali ini, tayangan mengikuti jejak perjalanan suami-isteri Wilson, telah merekam gambaran hangat pertemuan mereka dengan anak adopsi dari RRT, bersamaan itu juga ditayangkan pertemuan perpisahan di Beijing. Air mata begitu pahit , tapi juga begitu manis. Jiajia didampingi oleh orang-tuanya, dengan gembira naik ke pesawat, terbang menuju sebuah rumah yang baru. Di tepi samudra sana, 3 kakak perempuannya, tetangga , kerabat serta banyak sekali cinta-kasih telah menjemput kedatangan Jiajia. Di kampung halamannya, teman-teman Jiajia masih menantikan masa depan mereka. (tys/whs/rmat)

Share

Video Popular