Lukisan Ibu Suri Mingde dari Dinasti Han sedang membimbing para pangeran muda dalam mempelajari literatur klasik Konfusianisme. (WIKIMEDIA)

Oleh: Cindy Chan

Disaat orangtua dan anak-anak menikmati hidup bersama sambil belajar juga meningkatkan keterampilan, hal tersebut juga akan menciptakan suatu kondisi yang sempurna untuk memperkuat hubungan antar anggota keluarga dan membentuk suatu pembelajaran sepanjang hidup.

Berikut adalah beberapa sasaran dari pembelajaran dalam keluarga, yaitu yang berfokus pada interaksi antar generasi yang berbeda di dalam keluarga dan masyarakat, yang membantu perkembangan sebuah kebudayaan tentang pembelajaran dan pengembangan kemampuan mempelajari sesuatu serta keterampilan hidup lainnya.

Mungkin bidang ini adalah suatu hal yang khusus dan relatif baru dalam budaya modern. Tradisi pengajaran dan pembelajaran antar generasi sesungguhnya telah berakar dan berlangsung sangat lama di banyak kebudayaan. Di masa modern, beberapa negara telah menetapkan waktu-waktu tertentu dalam setahun untuk merayakan pembelajaran dalam keluarga, seperti pada bulan Januari di Kanada dan pada bulan November di Amerika Serikat.

Epoch Times kesempatan ini untuk menuliskan beberapa kisah dan ujaran inspiratif dari Tiongkok kuno.

Mengajar dan belajar saling menguntungkan kedua belah pihak

Jika Anda adalah orangtua, Anda mungkin telah menyadari bahwa ketika mengajari anak, pembelajaran akan terjadi pada kalian berdua, baik itu pengajaran keterampilan atau pengetahuan, sebuah prinsip yang baik, atau sebuah pelajaran yang berhasil dipetik.

Sebuah kutipan dari Kitab Kesusilaan atau Li Jing, salah satu dari teks utama Konfusianisme, yang mengacu pada dua ungkapan yang menunjukkan pengalaman berikut: “mengajar dan belajar adalah menguntungkan bagi kedua belah pihak”, dan “mengajar adalah bagian setengah lain dari belajar”.

“Hanya setelah seseorang belajar seseorang akan tahu kekurangan diri sendiri, dan hanya setelah mengajar seseorang akan tahu kesulitan dari belajar”, kata kutipan tersebut.

“Hanya setelah mengetahui kekurangan diri sendiri seseorang baru bisa melihat dan memeriksa diri sendiri, dan hanya setelah mengetahui tantangan yang dihadapi seseorang baru bisa mempunyai motivasi dan memperkuat dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik”.

Dengan cara ini, mengajar dan belajar saling melengkapi sekaligus saling meningkatkan satu sama lain, membantu baik pengajar dan yang belajar untuk tumbuh berkembang.

Mengatasi kesulitan

Walaupun istilah “belajar” mengandung hal yang lebih luas daripada hanya menulis dan membaca, kedua keterampilan ini, bersama dengan aritmatika, adalah sesuatu yang sering kita anggap sebagai dasar dari pendidikan.

Ada sebuah cerita yang terkenal tentang orangtua yang berdedikasi dari masa Dinasti Song Utara (960 – 1127 Masehi) yang menggunakan kebijakan serta tekadnya untuk mengatasi kesulitan dan mengajari putranya bagaimana untuk membaca dan menulis.

Putranya itu adalah penulis terkenal dan sejarawan Ouyang Xiu (1007 – 1072 Masehi), yang kehilangan ayahnya ketika masih berusia 4 tahun. Keluarganya hidup miskin, ibu dan anak ini sering¬kali tidak punya apa-apa untuk dimakan, apalagi punya uang untuk membeli pena dan kertas ataupun mengirim Ouyang Xiu ke sekolah.

Namun, Ibu Ouyang Xiu tidak menyerah untuk terus mengusahakan pendidikan putranya karena hal ini, dia menemukan sebuah solusi – menggunakan sebuah ilalang untuk mengajari putranya mem¬baca dan menulis di tanah halaman rumahnya. Inilah asal-usul dari idiom “menulis dengan ilalang untuk mengajari seorang anak”.

Seiring Ouyang semakin tumbuh dewasa, ibunya membawanya ke rumah tetangga untuk meminjam buku bacaan bagi putranya, dan terkadang ia menyalin kembali isi dari buku-buku tersebut.

Dibimbing juga disemangati oleh ibunya, Ouyang belajar dengan rajin, dan pada usia 23 dia lulus dalam ujian kerajaan sebagai sarjana lulusan terbaik. Dan selanjutnya dia terus menjabat pada posisi penting dalam karier politiknya selama 40 tahun.

Sebagai seorang pejabat pemerintah, dia tidak pernah lupa akan ajaran ibunya – untuk mencontoh dari almarhum ayahnya dan melayani masyarakat dengan jujur, lurus, dengan tata krama, bukan mengejar kemakmuran dan kepentingan pribadi tapi justru membantu orang-orang yang membutuhkan.

Mengajar dengan contoh

Cerita mereka bisa dikatakan mirip dengan perjalanan dalam mengatasi kemiskinan dari banyak pengungsi dan keluarga imigran yang bertahan hidup di negara lain. Hal ini juga menggambarkan pengalaman banyak orangtua dan pengasuh anak, dimana mereka sendiri menghadapi tantangan dalam kehidupan namun tetap melakukan apa saja untuk mendukung pendidikan anak-anaknya.

Bagi orang dewasa, juga menjadi contoh yang baik untuk diteladani, seperti kerja kerasnya, ketekunan, akal, ketahanan, menghargai belajar, dan balas budinya.

Ada sebuah idiom Tiongkok yang menjelaskan “menggunakan kata-kata untuk mengajar dan tindakan pribadi sebagai teladan”. Idiom lain mengatakan bahwa kita bisa “mendidik tanpa menggunakan metode pengajaran langsung/ standar”.

Idiom-idiom ini mengingatkan kita bahwa sangat mungkin dan sangat alami untuk memberi pengaruh dan mengajar, melalui kegiatan dan interaksi sehari-hari.

Bisa juga melalui bermain suatu permainan, memasak atau memanggang, membuat perencanaan anggaran, menanam di kebun, ataupun melihat bintang-bintang. Anak-anak juga bisa belajar ketika mereka melihat bagaimana Anda memperlakukan orang lain, mengatasi masalah, menyelesaikan konflik, dan mengoreksi kesalahan. Tidak terbatas pada kegiatan belajar yang biasa seperti membaca, menulis, dan melakukan pekerjaan rumah. (Epochtimes/Jls/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular