Keterangan foto: Franz Kafka ketika menulis bukunya “The Great Wall of China” tidak pernah benar-benar memahami mengapa tembok itu dibangun? Sesungguhnya maknanya bagi orang Tiongkok sangat sederhana yakni guna menghadang bahaya/musuh luar di luar tembok tersebut. Undang-undang pengawasan bursa valas RRT identik dengan hal itu. (internet)

Oleh: He Qinglian

Mengawali tahun baru 2016, penanganan pemerintah RRT terhadap bursa saham dan bursa mata uang telah memicu berbagai kritik. Di bursa efek, Badan Pengawas Bursa RRT telah mengumumkan penerapan “mekanisme peleburan”; tapi penanganan terhadap bursa mata uang bukan saja tak ada kelonggaran, sebaliknya bahkan semakin ketat. Penyebabnya adalah karena bursa saham berpengaruh pada kepercayaan kalangan luar terhadap ekonomi RRT, namun nilai tukar RMB merupakan penentu hidup mati perekonomian RRT (penentu bangkrut tidaknya Bank Sentral), karena yang dipertahankan bukanlah nilai tukar, melainkan ambang batas bawah cadangan devisa asing sebesar USD 3 trilyun (Rupiah 41.660 triliun).

Kalangan Investor Internasional Tak Pahami Kesulitan Bursa Mata Uang RRT

Jumlah cadangan devisa asing Tiongkok saat ini berada di posisi tertinggi pada Juni 2014 yakni sebesar USD 3,99 trilyun, yang kemudian merosot hingga USD 3,33 trilyun pada Desember 2015, atau merosot lebih dari USD 500 milyar.

Kalangan investor internasional mengkritik dua hal pada bursa mata uang Tiongkok. Pertama, pemerintah RRT dianggap mengawal ketat nilai tukar RMB telah melanggar janji RRT ketika menjadi salah satu mata uang dalam keranjang IMF (SDR), yang akan membuat IMF merasa sangat kikuk. Kedua, pemerintah RRT dianggap terlalu ketat mengintervensi bursa luar negeri, Biro Administratif Valuta Asing (SAFE) baru-baru ini mengaudit bank yang membantu nasabahnya mencari keuntungan dari selisih nilai tukar RMB di dalam dan luar negeri, hal ini menyebabkan selisih nilai tukar di luar negeri dengan dalam negeri kian lama kian besar, pada minggu pertama pembukaan tahun ini nilai tukar dalam negeri USD 1 adalah RMB 6,59 sementara nilai tukar di luar negeri USD 1 adalah RMB 6,68.

Kritikus mengamati bursa mata uang RRT bertitik-tolak dari kepentingan pribadi, sebuah pasar Tiongkok yang terbuka dan membiarkan nilai tukar mata uang berfluktuasi bebas adalah sebuah lahan baru untuk meraup keuntungan. Alasan penggunaannya sepertinya tidak salah. Namun dilihat dari fakta, baik IMF maupun pemerintah Tiongkok sangat memahami janji apa yang telah disepakati pada saat RMB dimasukkan ke dalam keranjang SDR.

Terlebih dulu perlu ditinjau kembali “janji” pemerintah RRT kepada IMF. November 2015 lalu, saat IMF merevisi kriteria agar RMB bisa masuk ke dalam keranjang SDR, pemerintah RRT telah berjanji akan membiarkan RMB “bergerak bersih” (clean floating) di masa mendatang, yang berarti fluktuasi bebas tanpa intervensi pemerintah. Tapi berapa lama “masa mendatang” ini, pemerintah RRT tidak menyatakannya dengan jelas. Ditambah lagi, Gubernur Bank Sentral Zhou Xiaochuan sempat mennyatakan secara terbuka di surat kabar “People’s Daily” sebelum masuk keranjang SDR, bahwa untuk mengatasi “serangan moneter” dari luar pemerintah tetap harus mengintervensi bursa mata uang, dan menerapkan pergerakan nilai tukar dengan pengawasan pemerintah, pernyataan sikap secara terbuka ini telah dipahami betul oleh perwakilan IMF di Beijing.

Jika tekanan melemahnya RMB tidak begitu besar, maka sistem moneter RRT tidak akan terjadi risiko yang besar seperti kredit macet dalam jumlah besar atau hutang berlebihan, bagi Beijing membiarkan nilai tukar berfluktuasi mungkin tidak besar risikonya. Tapi sejak Juni 2015, faktor risiko di atas kian menonjol, diantara dilemma memenuhi janji kepada IMF dengan menjaga keamanan moneter RRT, pemerintah RRT tentu memilih untuk menjaga keamanan moneternya.

Selanjutnya mari kita analisa mengapa pemerintah RRT mengintervensi bursa mata uang terutama terhadap nilai tukar di luar negeri. Salah satu alasannya adalah karena di dalam negeri RMB mengalami tekanan inflasi teramat besar.

Sebelum 2015, RMB senantiasa terjepit diantara tekanan melemahnya nilai tukar dalam negeri dan menguatnya nilai tukar di luar negeri. Alasan melemahnya nilai tukar di dalam negeri sangat jelas, adalah karena RRT telah menjadi mesin pencetak uang terbesar di dunia sejak tahun 2009, begitu banyak uang yang diedarkan di pasar, pasti akan mengakibatkan tekanan inflasi, melemahnya RMB sebenarnya merupakan proses penyesuaian nilai tukarnya yang sebenarnya, yang hanya bisa dicapai secara perlahan.

Alasan kedua adalah RRT menghadapi tekanan besar mengalirnya dana ke luar negeri. Setelah 2012, pemberantasan anti-korupsi pemerintah RRT semakin kuat, risiko politik dalam negeri semakin besar, setiap satu orang pejabat dilengserkan pasti akan menyeret jatuh beberapa konglomerat. Tidak sedikit konglomerat hengkang ke luar negeri karenanya, menyebabkan cadangan devisa merosot drastis.

Berapa Cadangan Devisa Asing RRT Yang Tersisa?

Sejak Agustus 2015, pemerintah RRT terpaksa harus menjual Surat Utang Negara (SUN) AS untuk ditukarkan dengan USD. Sepanjang Desember RRT menghabiskan SUN AS dengan kecepatan memecahkan rekor, total cadangan devisa asing sebesar USD 108 milyar diselesaikan untuk mengatasi permintaan di bursa mata uang di dalam negeri. Hal ini pun membuat investor asing melihat satu hal: cadangan devisa asing milik RRT yang besarnya mencapai trilyunan dolar AS itu hanya aset di atas kertas yang telah dihabiskan oleh pemerintah RRT di berbagai sektor. Pada 8 Januari lalu, kantor berita Bloomberg merilis berita utama berjudul “China Finds $3 Trillion Just Doesn’t Pack the Punch It Used To”.

Berita Bloomberg tersebut cukup mengganti kata China dengan “investor asing”, Departemen Pengawas Devisa Asing RRT sendiri tentunya tahu kemana uang itu dihabiskan. Cadangan devisa asing RRT sejak dulu telah digunakan untuk beberapa keperluan.

Pertama, surat utang negara AS. Trilyunan dolar AS di bawah pengawasan Bank Sentral RRT sejak dulu telah diinvestasikan pada surat hutang yang aman dan likuid seperti SUN Amerika. Menurut Departeman Keuangan AS, berdasarkan kalkulasi pihak AS surat hutang yang dimiliki oleh RRT hingga Oktober 2015 adalah sekitar USD 1,25 trilyun. Tapi Departemen Keuangan AS menambahkan, bahwa angka tersebut mungkin belum benar-benar merefleksikan surat hutang AS lainnya yang dimiliki oleh RRT melalui rekening negara ketiga.

Kedua, investasi luar negeri. Pada 2015, meskipun jumlah investasi luar negeri RRT belum dirilis secara resmi, tapi Reuters telah memperkirakan untuk pertama kalinya akan menembus USD 1 trilyun, dan jumlah sebesar ini sebagian besar merupakan investasi pemerintah dan BUMN di luar negeri. Seperti proyek Silk Road Fund yang merupakan proyek investasi luar negeri yang didukung penuh oleh pemerintah pusat RRT, cadangan devisa asing yang disuntikkan pada China Development Bank (CBD) dan China Export Import Bank mencapai USD 93 milyar atau sekitar RMB 600 milyar. Pada saat membuat perkiraan proyek, telah diperhitungkan “aspek politik” dan “aspek ekonomi”, dimana kepentingan politik senantiasa bertentangan dengan kepentingan ekonomi, yang didapatkan hanya kepentingan politik semata, dan mengabaikan kepentingan ekonomi.

Ketiga, bantuan pada asing. RRT cukup royal soal memberikan bantuan pada asing, acap kali menghapus hutang negara berkembang yang telah jatuh tempo, dan mengumumkan memberikan bantuan baru. Uang tersebut tentu diperoleh dengan merogoh kocek cadangan devisa.

Cadangan Devisa Adalah Hutang Bank Sentral, Hutang Lampaui Aset = Bangkrut

Terakhir, kembali pada satu kesalahan pemahaman yang acap kali dilakukan pemerintahan maupun rakyat Tiongkok, kesalahan itu adalah: cadangan devisa asing adalah harta kekayaan milik pemerintahan RRT (atau milik rakyat RRT). Sebenarnya jawaban yang tepat adalah bahwa cadangan devisa asing memang merupakan aset bagi Bank Sentral RRT, tapi setiap sen dari aset tersebut adalah sebentuk hutang. Karena cadangan devisa asing terbentuk dengan cara berikut: perusahaan atau orang yang melakukan transaksi dagang dengan luar negeri menerima mata uang AS yang ditransfer ke RRT. Menurut kebijakan pengawasan devisa asing yang ditetapkan Bank Sentral, mata uang AS tersebut harus dikonversikan lewat bank, setelah Bank Sentral menerima mata uang USD tersebut, perusahaan akan diberikan uang dalam bentuk mata uang RMB dengan nilai yang setara, sementara mata uang USD itu tetap tinggal di Bank Sentral. Uang dalam bentuk USD (atau Euro, JPY, dan lain-lain) yang tersimpan di Bank Sentral ini akan menjadi cadangan devisa asing bagi Bank Sentral. Dalam proses ini, Bank Sentral bertambah satu aset yakni cadangan devisa asing; disaat yang sama, juga bertambah satu lagi hutang, yakni RMB yang harus dibayarkan.

Sederhananya, cadangan devisa asing RRT adalah uang hasil “pinjaman” dari penukaran mata uang asing perusahaan dagang ekspor, atau dari perusahaan bermodal asing di RRT, atau dari kepemilikan aset USD orang pribadi, yang setiap sen merupakan hutang yang harus dibayar. Kini pemerintah RRT menggunakan cadangan devisa tersebut untuk membeli SUN Amerika, untuk berinvestasi di luar negeri, untuk memberikan bantuan pada negara asing, sama saja artinya dengan meminjam uang untuk dihamburkan seolah uang sendiri. Menjual SUN Amerika untuk memenuhi kebutuhan USD yang dibutuhkan di bursa dalam negeri menandakan ketersediaan uang tunai dalam USD pada Bank Sentral tidak mencukupi; jika pemerintah tidak menerapkan pembatasan pembelian valuta asing di dalam negeri dan membiarkan warga bebas menukar, maka Bank Sentral mungkin akan bangkrut.

Perang Bursa Mata Uang yang Harus Dimenangkan Pemerintah RRT

Meskipun tak sedikit pakar menganalisa, jatuhnya nilai tukar akan mendatangkan keuntungan ekspor, tapi dampaknya akan lambat terealisasi. Sementara aliran dana ke luar negeri akibat anjloknya nilai tukar telah mendesak di depan mata. Bagi pemerintah, kelemahan yang mematikan (tumit Achilles) akibat telah dihabiskannya devisa sebesar USD 3 trilyun, bagaimana pun juga tidak boleh sampai terungkap.

Saat ini pemerintah RRT sedang memperketat kebijakan penjualan valuta asing. Menurut berita Reuters pada 8 Januari lalu, sebagian kantor cabang SAFE telah mengarahkan bank di wilayah otoritasnya agar terus memperketat pengawasan terhadap layanan penjualan dan penukaran valuta asing nasabahnya pada Januari, agar efektif mengatur arus pembelian valuta asing oleh perusahaan dan instansi. Bank ilegal banyak yang ditindak, di wilayah seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen telah ditetapkan penukaran sebanyak USD 2000 harus ada pemesanan 3 hari sebelumnya. Sebagian bank bahkan membatasi penukaran sebanyak USD 1000 wajib ada pemesanan sebelumnya. Pejabat SAFE membantah pernyataan ini, dikatakan SAFE belum pernah mengeluarkan kebijakan seperti ini, “Tidak tertutup kemungkinan sejumlah bank tertentu menerapkan kebijakan khusus terkait keterbatasan persediaan mata uang USD-nya.”

Klarifikasi ini membuat masyarakat berpikir, pada saat dibutuhkan, perbankan di setiap daerah dapat menentukan “kebijakan sendiri.”

Kesimpulannya, bagi kalangan investor asing, bursa valuta asing RRT adalah lahan baru mencari untung. Oleh sebab itu akan selalu mengeluhkan banyaknya pembatasan, dan menuntut agar RRT memenuhi kriteria IMF. Namun di mata pemerintah RRT, bursa valuta asing sangat menentukan nasib keamanan moneter RRT. Nilai tukar yang melemah merupakan ancaman terjadinya aliran dana ke luar negeri yang tidak hanya akan berdampak pada bursa efek dan harga aset di bursa properti sehingga menyulitkan tercapainya target dari kebijakan pemerintah pada bursa efek dan properti, melainkan juga akan mengakibatkan tekanan luar biasa besar pada perekonomian negara.

Bahkan ada yang memprediksi, bursa valas akan menjadi titik pemicu krisis moneter yang akan melanda RRT dan akan mengakibatkan rontoknya rezim Partai Komunis Tiongkok/ PKT. Pemikiran ini terlalu kekanakan, pemerintah RRT jauh lebih memahami letak kelemahannya dibandingkan siapa pun, dan berbagai kebijakan sedang ditempuh untuk mencegah berbagai risiko yang mungkin terjadi. Oleh karenanya, prediksi ini berlandaskan atas dasar bahwa rezim PKT seketika ini gagal memerintah, jika percaya rezim Beijing kehilangan kendali, maka prediksi ini bisa dipercaya.

Ketika menulis bukunya yang berjudul “The Great Wall of China (judul asli dalam bahasa Jerman: Beim Bau der Chinesischen Mauer),” Franz Kafka (1883-1924) mencoba menjelaskan tujuan dan alasan dibangunnya tembok raksasa pada jaman dulu kala, tapi ia tidak pernah bisa memahami dengan sunguh-sungguh mengapa orang Tiongkok ingin membangun tembok raksasa. Bagi orang Tiongkok, makna tembok raksasa sangat sederhana, yakni membendung musuh, seluruh bahaya dari luar dihadang di luar tembok tersebut. Jika ideologi tembok raksasa ini digunakan untuk memahami undang-undang pengawasan bursa valas, maka akan mudah dimengerti mengapa pemerintah RRT ingin mengendalikan bursa valas.(sud/whs/rmat)

Share

Video Popular