Lukisan Ibu Suri Mingde dari Dinasti Han sedang membimbing para pangeran muda dalam mempelajari literatur klasik Konfusianisme. (WIKIMEDIA)

Oleh: Cindy Chan

Disaat orangtua dan anak-anak menikmati hidup bersama sambil belajar juga meningkatkan keterampilan, hal tersebut juga akan menciptakan suatu kondisi yang sempurna untuk memperkuat hubungan antar anggota keluarga dan membentuk suatu pembelajaran sepanjang hidup.

Berbagi kekaguman Anda

Para orangtua juga harus merasa yakin bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pendidikan dan pembelajaran anak-anak mereka dengan pesat, hanya dengan membagikan kekaguman diri mereka sendiri terhadap dunia.

Amati sekeliling Anda dan tunjukkan bahwa adalah alami untuk timbul pertanyaan, dan adalah penting untuk bertanya ketika tidak mengerti akan sesuatu. Ambil peran utama dalam menunjukkan betapa bermanfaatnya bagi semua orang untuk mendiskusikan ide dan menemukan jawaban dan solusi bersama-sama.

Berbicara tentang nilai keingintahuan dan kekuatan dari rasa penasaran, ada sebuah idiom Tiongkok lain yang dengan bermacam cara diterjemahkan menjadi “menjadi penasaran pada apa yang tidak biasa”, “menjadi tertarik pada apa yang berbeda”, atau “memberi perhatian khusus pada apa yang tidak umum”.

Idiom ini mungkin akan muncul dalam pikiran ketika Anda atau anak-anak bertanya mengapa, mengapa tidak, atau bagaimana jika. Anda mungkin akan mendapat pengalaman pribadi tentang rasa ingin tahu anak-anak membuat Anda menemukan dan mempelajari sesuatu yang baru dan berharga.

Sikap menghormati

Sebuah sikap yang penuh rasa hormat adalah kunci utama yang memengaruhi motivasi dan hasil dari pembelajaran. Ada cerita tentang bagaimana sejarawan dan Perdana Menteri Song Utara yang agung, Sima Guang (1019 – 1086) mengajari putranya tentang menghormati dan kualitas penting lainnya yang harus dimiliki orang ataupun siswa yang baik.

Suatu hari Sima Guang melihat putranya memperlakukan buku dengan kurang tepat saat membaca, jadi dia menggunakan kesempatan ini untuk menasehati putranya.

“Seorang yang terhormat gemar mempelajari tulisan klasik dari orang-orang suci. Mula-mula dia harus menghargai dan merawat dengan baik buku-buku yang dibacanya,” kata Sima Guang pada putranya.

“Sebelum belajar, dia mencuci tangannya, membersihkan permukaan mejanya, dan menaruh sebuah kain tatakan di atas meja. Ketika membaca buku, dia duduk tegak, mempertahankan sikap yang penuh hormat, dan fokus pada apa yang dipelajari, tidak membiarkan pikirannya kesana kemari. Dia bertingkah laku sebagai seorang yang sederhana, membumi dan teguh dalam hal yang dilakukannya.

Hanya dengan memenuhi persyaratan ini seseorang baru bisa mengultivasi moralitasnya sendiri dengan baik, membina keluarganya, dan mampu melangkah lebih jauh bahkan sampai memerintah negara dan membawa kedamaian pada negeri.

Dibawah bimbingan ayahnya, Sima Kang mengabdikan dirinya pada belajar dan peningkatan diri. Dia tumbuh menjadi sama seperti ayahnya dalam hal baik moral maupun pencapaian dalam pendidikan. Contoh yang mereka berikan menjadi asal dari sebuah ujaran, “Mereka yang layak dijadikan teladan sebagai abdi negara, mereka adalah ayah dan putra Sima”.

Memuji moralitas leluhur serta pengasuhnya

Diantara para teladan yang dihormati dari Tiongkok kuno, yaitu adalah Permaisuri Mingde (Permaisuri Kebajikan Jernih) dari Dinasti Han Timur (25 – 225 Masehi).

Mingde adalah seorang wanita yang baik dan rendah hati yang juga cerdas dan terpelajar. Dia tidak mempunyai anak kandung tapi berperan sebagai ibu dari satu orang putra dari suaminya.

Ketika anak itu kemudian menaiki singgasana, Mingde menjadi Ibu Suri. Dalam perannya ini, dia mengabdikan dirinya untuk merawat cucunya serta mengajari mereka tentang literatur klasik orang-orang suci di masa lalu.

Dalam pujian akan karakternya yang luhur, dia dideskripsikan sebagai “seorang teladan untuk semua wanita dalam hal urusan rumah tangga, dan teladan bagi semua permaisuri dalam hal urusan kenegaraan”. (Epochtimes/Jls/Yant)

Share

Video Popular