Genekam, sebuah perusahaan bioteknologi Jerman berhasil mengembangkan suatu metode skrining pada virus Zika. Gambar atas adalah bayi yang menderita mikrosefali (cacad pertmbuhan otak)(Mario Tama/Getty Images)

Infeksi virus Zika kini telah menjadi peristiwa darurat kesehatan masyarakat internasional. Pusat pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Taiwan mengatakan, bahwa di masa lalu, virus Zika hanya menyebabkan gejala infeksi ringan dan akan pulih dalam waktu 1 minggu, namun, epidemi yang terjadi di Brasil sekarang di luar pengetahuan kita, dan perlu diteliti lebih lanjut apakah virus ini sekarang bermutasi.

Virus Zika yang menyebabkan gejala infeksi ringan telah ada sejak bertahun-tahun, namun, gejala epidemi yang terjadi sekarang tampaknya agak berbeda, dan diduga berhubungan dengan mikrosefali dan kelainan sistem saraf Guillain – Barre Syndrome (GBS), kata Zhou Zhihao, Wakil Dirjen Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit(CDC), Taiwan.

Ketika ditanya oleh media lokal Taiwam terkait apakah perubahan wabah virus Zika berhubungan dengan “nyamuk hasil rekayasa genetika” yang di sebarkan di lokasi setempat Brasil. Tidak dapat dikonfirmasi, jawab Zhou Zhihao singkat, tapi sekarang banyak ahli internasional sedang meneliti hal terkait, dan kita akan terus mengumpulkan dokumen yang relevan.

Hanya ada satu kasus penularan virus Zika di Taiwan, sementara situasi epidemi secara global, telah ada 26 negara atau wilayah melaporkan kasus penularan virus Zika local. Di Brasil terdapat lebih dari 4000 kasus mikrosefali atau penyakit yang diduga sebagai kelainan dari sistem saraf yang tidak diketahui sebabnya.

Kasus Guillain-Barre Syndrome (GBS) meningkat signifikan di negara Amerika Tengah-Selatan diantaranya Brasil, Kolombia, Honduras, El Salvador, dan masih perlu diklarifikasi lebih lanjut apakah terkait dengan virus Zika.

Sejak terjadinya wabah pertama di Cape Verde, Afrika pada September 2015 lalu, sekarang telah lebih dari 7000 kasus serupa, namun, tidak ditemukan gejala mikrosefalus (cacat pertumbuhan otak) atau kelainan neurologis dan komplikasi lainnya.

Para ahli memperingatkan, tiga hingga empat juta orang dapat terinfeksi Zika di Amerika tahun ini.

Beberapa ahli khawatir bahwa nyamuk lain, Aedes albopictus, kemungkinan dapat menyebarkan virus Zika, namun spesies tersebut tidak hidup di Eropa selatan.

Amerika Serikat menambah daftar negara dan wilayah yang terlarang bagi warga AS untuk bepergian. Larangan bepergian untuk mencegah terjangkit Virus Zika ini diberlakukan untuk Samoa, Kosta Rika, Curacao, dan Nikaragua. CDC, seperti diberitakan Reuters, Senin, 1 Februari 2016, menganggap empat negara itu berbahaya karena Virus Zika bisa menyebar dengan cepat.

CDC menegaskan, larangan berkunjung terutama ditujukan kepada perempuan hamil.

Virus zika ditularkan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini pulalah yang membawa virus dengue, chikungunya. Belum ada vaksin untuk mengatasi Virus Zika. Dan 80 persen orang yang terinfeksi Virus Zika tidak merasakan gejala tertentu.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Kategori: KESEHATAN

Video Popular