Keterangan gambar: Pertempuran Midway merupakan pertempuran yang menentukan dalam Perang Pasifik semasa Perang Dunia II, sekaligus merupakan perang antara kapal induk paling terkenal kala itu, yang membalikkan situasi sekutu sejak peristiwa Pearl Harbor, sebagai dasar serangan balik berikutnya.

Oleh: Xiao Ming

Pada 4 Juni 1942 silam, armada gabungan Jepang yang memiliki 8 kapal induk, 11 kapal perang, dan 23 kapal penjelajah, mulai bertempur dengan armada Amerika di Pasifik. Armada itu hanya memiliki 3 kapal induk dan 8 kapal penjelajah, bermaksud menghancurkan kekuatan militer Amerika di samudera Pasifik.

Ketika itu, Angkatan Laut Jepang memiliki keunggulan absolute. Ada empat kapal induk yang terjun langsung dalam pertempuran. Sementara Amerika Serikat hanya memiliki 3 unit kapal induk (salah satu kapal yang masih dalam tahap perbaikan juga ikut diterjunkan). Di sisi lain, pilot Jepang juga sangat berpengalaman dalam perang, dibandingkan dengan pilot Amerika, kerap tidak menemukan target di laut. Jepang memiliki jet tempur berkecepatan tinggi, sementara torpedo yang diluncurkan bomber Amerika Serikat selalu meleset dari target. Komandan Jepang adalah sekelompok komandan yang sukses memimpin dalam serangan mendadak di Pearl Harbor, dan kapasitas para komandan mereka jelas tidak diragukan.

Pada 4 Juni 1942 pukul 04:30, kapal induk Jepang terdiri dari, Akagi, Kaga, Hiryū, Sōryū mengirim armada serangan gelombang pertama. Armada yang dilengkapi dengan bom berdaya ledak tinggi, untuk menyerang Midway. Setelah armada serangan gelombang pertama diterjunkan, Jepang segera memerintahkan armada gelombang kedua memasang torpedo, dan mengirim tujuh pesawat patroli maritim, untuk melacak keberadaan kapal induk AS, dengan maksud untuk menghancurkan kapal induk AS dengan torpedo.

Pukul 04:30, 4 Juni 1942, Laksamana Madya Chuichi Nagumo, memerintahkan kapal induk Jepang, untuk meluncurkan 108 pesawat tempur menyerang Midway Island, beserta 7 pesawat intai untuk melacak keberadaan armada AS. Menyapu dari sisi pulau itu dengan kekuatan kecil sejumlah pesawat Jepang menggempur instalasi-instalasi di Midway. Saat kembali ke kapal induk, pemimpin serangan itu merekomendasikan serangan kedua. Sebagai tanggapan, Nagumo memerintahkan pesawat cadangan yang telah dipersenjatai dengan torpedo untuk dipersenjatai kembali dengan bom. Dalam proses mempersenjatai ulang, sebuah pesawat pengintai telah melaporkan posisi armada AS.

Armada AS, yang dipimpin Laksamana Chester Nimitz, memiliki jumlah kapal dan pesawat yang lebih sedikit dari Jepang. Pilot-pilot Angkatan Laut AS juga kalah pengalaman dibandingkan para penerbang Kaigun Jepang. Namun, mereka berhasil menenggelamkan empat kapal induk Jepang pada pertempuran hari pertama dalam perang yang berlangsung tiga hari

Tidak ada yang sanggup melawan kehendak Tuhan, jika Tuhan sudah berkehendak, maka di tengah kekacauan memasang bom atau torpedo, pasukan Jepang hanya bisa kocar-kacir dibombardir oleh pesawat AS yang sangat buruk keakuratan tembakannya.

Satu lagi kebetulan yang menarik dalam pertempuran Midway. Setelah perang berakhir siang hari pada 4 Juni 1942, pada malam itu, armada utama dari pasukan Jepang yang dipimpin oleh Yamamoto, masih memiliki beberapa kapal perang yang kuat dan empat kapal induk (yang luput dari kehancuran karena belum diterjunkan dalam pertempuran). Di malam hari, pesawat berbasis kapal induk tidak bisa lepas landas, dan itu sama dengan kehilangan daya tempur. Sementara armada kapal perang yang dilengkapi dengan artileri berat bisa dengan mudah menenggelamkan kapal induk. Karena itu, pasukan Jepang yang mahir dalam perang malam terus berusaha mencari pesawat, dengan maksud membombardir kapal induk Amerika, berusaha untuk membalikkan situasi dari kekalahan mereka menjadi kemenangan.

Namun, kapal induk AS yang awalnya di bawah komando William Halsey, Jr, digantikan oleh Raymond A. Spruance, karena sang komandan William Halsey, Jr, jatuh sakit. Spruance adalah sosok orang yang teliti dan seksama dalam setiap tindakan. Pada 4 Juni 1942 kala itu, ia memerintahkan armada tempur AS menjauhi radius tempur dengan kapal Jepang, sehingga rencana pasukan Jepang untuk pertempuran malam itu menjadi sia-sia. Seandainya William Halsey, Jr tidak sakit ketika itu, dan jika dipimpim olehnya yang radikal, maka sulit dibayangkan apakah pasukan AS akan masuk dalam perangkap pasukan Jepang.

Sementara itu, Amerika juga merasa bahwa kemenangan tempur di Pasifik karena keberuntungan, dan pada kenyataannya, takdirnya memang begitu. (Zheng Jian/ntdtv.com/joni/rmat)

 

Share

Video Popular