Seorang dewa bernama Zhang Guolao yang melihat akhlak manusia kian merosot, turun ke dunia manusia. Ia selalu menunggang keledai dalam posisi yang terbalik untuk mengingatkan manusia akan kekeliruannya.

Zhang Guolao adalah nama salah satu dari delapan dewa yang dipercaya masyarakat China pada zaman dahulu. Begitu mengetahui akhlak manusia yang kian merosot, di mana orang-orang di dunia tenggelam dalam mengejar nama, jabatan, keberuntungan, serta prestasi, dan mereka masih juga menyangka bahwa hidupnya semakin senang maka semakin bagus pula keadaannya, lalu ia menunggang seekor keledai dalam posisi yang terbalik dan bermain-main ke alam manusia. Dia menemukan bahwa dengan berjalan ke depan berarti mundur ke belakang, itulah alasan dia menunggang keledai secara terbalik. Ia pun meninggalkan banyak legenda yang tersebar secara turun-temurun di sepanjang masa.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui, dari mana asal-usulnya. Menurut catatan buku sejarah, sebenarnya memang ada seseorang yang bernama Zhang Guolao. Ia hidup pada Dinasti Tang, bertempat tinggal di Gunung Thiausan, negara bagian Hengzhou, dan menyebut dirinya telah berusia ratusan tahun. Orang pada zamannya mengatakan bahwa, dia mempunyai obat awet muda. Ia juga tergolong bukan manusia biasa, atau semacam dewa. Sebagai orang biasa, para kaisar, perdana menteri, menteri dan jenderal pun sangat sulit sekali kalau ingin bertemu dengan Zhang Guolao. Tang Thai Zhong (kaisar ke-2 pada Dinasti Tang) telah beberapa kali memanggilnya untuk menghadap, dia pun menolak, tak mau menemuinya. Permaisuri Wu Ze Tian juga berusaha untuk bertemu dengan Guolao, tapi ia pura-pura mati di depan kuil Luni. Pada saat itu udara panas sekali, dalam sekejap saja badannya mulai membusuk dan berbelatung, Wu pun menyangka bahwa Guolao sudah mati, ia pasrah. Akan tetapi di kemudian hari, pernah ada orang yang bertemu Guolao di sebuah gunung di Hengzhou.

Konon, Zhang Guolao selalu menunggang keledai putihnya dalam keadaan terbalik, dalam satu hari berjalan sampai dua puluhan ribu kilometer jauhnya. Sewaktu istirahat, cukup melipat keledainya yang sama tipisnya dengan sehelai kertas, dan menyimpannya ke dalam kotak sapu tangan; dan hanya disembur saja pakai air, bila ingin menunggangnya, dan berubah lagi menjadi seekor keledai.

Setelah 23 tahun mendirikan kekaisaran, Tang Xuan Zhong (kaisar pada zaman kebangkitan nasional pada Dinasti Tang) mengutus lagi seorang utusan ke Zhangzhou untuk mengundang Zhang Guolao ke istana, lagi-lagi dia seolah-olah mati dan tergeletak di depannya. Tentu saja utusan tersebut terperanjat serta buru-buru membakar dupa dan berdoa, dalam doanya mengatakan bahwa kaisar berkeinginan untuk meminta doktrin (ajaran) darinya, lalu Zhang Guolao baru hidup kembali. Sang utusan itu tidak lagi berani mendesak atau memaksa, kemudian dengan tergesa-gesalah kembali ke ibukota dan melaporkannya kejadian tersebut kepada sang Kaisar. Setelah Kaisar Tang Xuan Zhong mengutus seorang panitera menengah dari kalangan istana untuk membawa surat yang bersetempelkan kaisar untuk mengundangnya, Zhang Guolao baru menerimanya. Ia mengikutinya pergi ke ibukota bagian timur, Kaisar Tang menempatkannya di pelataran terhormat istana, dan naik kereta masuk ke dalam istana, dengan upacara terhormat pula.

Kaisar Tang melihat tampang Guolao yang begitu tua renta, lantas berkata: “Tuan adalah seorang yang mendapat ajaran Tao Buddha yang mendalam, tapi mengapa kelihatan gigi ompong, serta rambut Anda rontok, kelihatannya begitu tua sekali dan pikun?” Dengan enteng Zhang menjawab, “Hidup sudah tua renta, apalagi tidak ada ilmu apa yang bisa diandalkan untuk awet muda, makanya baru menjadi rupa yang demikian, sungguh memalukan. Jikalau dibuang atau dicabut saja semua ini, bukankah lebih bagus dan mending?” Kemudian langsung dicabut rambutnya dan merontokkan gigi-giginya di depan sang Kaisar, seketika itu juga, darah bercucuran dari dalam mulut. Sang Kaisar kaget bukan kepalang, dan buru-buru berkata, “Sebaiknya tuan istirahat sebentar, baru kita bicara nanti.” Hanya sekejap mata saja, begitu Zhang Guolao menghadap kepada kaisar maka mukanya sudah berubah menjadi berseri-seri lagi, gigi yang putih bersih, rambut yang hitam pekat, berubah menjadi seorang pemuda yang berumur tiga puluhan tahun.

Pada suatu hari, datanglah dua orang menteri besar untuk mengunjungi Zhang Guolao, tiba-tiba Guolao berkata kepada mereka, “Jika menikahi seorang putri sebagai istri, maka itu adalah hal yang sangat mengerikan”. Kedua orang tersebut saling berpandangan dan ketakutan, apa sih maksud omongan dia yang sebenarnya. Tidak lama kemudian, utusan Kaisar Tang datang, dan berkata kepada Zhang Guolao, “Putri Yu Zhen sejak kecil, gemar sekali akan memupuk ilmu agama Dharma Tao, oleh karena itu, sang Kaisar bermaksud menikahkan putrinya dengan Anda.” Guolao pun tertawa terbahak-bahak, dan bersikeras tidak ingin menikahinya. Saat itulah kedua menteri baru mengerti apa maksud sebenarnya dari perkataan Guolao tadi. Akhirnya, para pejabat tinggi serta menteri saat itu saling berebutan untuk bisa menghadap Guolao, berkonsultasi tentang masalah dewa, tapi ia tidak mau.

Tidak ada yang tahu persis, kapan Guolao dilahirkan. Guolao pernah mengatakan bahwa dia pernah menjadi seorang ajudan istana pada kerajaan Yao, dapat bertahan lapar beberapa hari, jikalau makan pun hanya cukup minum sedikit anggur bagus, serta makan tiga bola-bola (until) kuning saja. Kaisar Tang pernah memintanya minum anggur di balairung dalam, dan ditolak dengan alasan kemampuan minumnya tidak banyak, hanya sanggup minum dua liter saja. Akan tetapi, dia mempunyai seorang murid yang kemampuan minumnya banyak, sekali minum bisa mencapai sepuluh liter. Kaisar Tang sangatlah senang dan mempersilakan muridnya datang.

Dengan sekejap mata saja, seorang pendeta Tao, loncat dari tepi atap balairung, kelihatannya baru berumur sekitar enam belasan tahun, paras mukanya cakap dan tampan, serta gagah, dengan tutur bahasanya yang jelas ketika menghadap Kaisar Tang, serta baik budi pekertinya, sopan dan santun. Kaisar Tang membiarkan pendeta cilik itu duduk, dan Guolao berkata, “Sebagai seorang murid, seharusnya berdiri di samping dan meladeni, jangan dikasih duduk.” Tapi semakin dipandang Kaisar semakin senang, lalu menganugerahkannya minuman anggur, sebentar saja telah diteguk habis satu Dou (10 liter). Kemudian Guolao menghentikan dengan berkata; “Jangan minum lagi, kalau diteruskan pasti timbul masalah, dan akan membuat kesalahan serta lelucon di depan Kaisar. Tapi, Kaisar memaksanya untuk minum lagi, dan anggur tersebut menyembur dari kepala si pendeta kecil itu, topi pendeta kecil pun jatuh ke lantai, berubah menjadi sebuah bejana arak kuno dengan ukiran yang indah. Kaisar Tang dan juga para selir, maupun dayang terperanjat dan tertawa, tapi begitu menoleh, astaga, hilang sudah sang pendeta kecil itu. Bejana tadi cukup pas untuk berisi satu Dou (10 liter) anggur, eh, rupanya bejana tersebut berasal dari balairung agung tadi. (Sumber:Zhengjian.net)

Share

Video Popular