Amerika Serikat meluncurkan suatu aplikasi terbaru untuk iPhone, yang dapat mendeteksi apakah seseorang memiliki kecenderungan autis atau tidak hanya melihat dari ekspresi wajahnya. Aplikasi ini dapat didownload secara cuma-cuma bagi mereka yang membutuhkannya. Diharapkan aplikasi ini dapat membantu orang tua atau dokter agar bisa sedini mungkin mengidentifikasi anak-anak yang memiliki gangguan komunikasi dan bisa segera mengobatinya.

Para ilmuwan di Duke University, North Carolina dan perangkat lunak yang dikembangkan peneliti itu dapat membaca ekspresi dan emosi seseorang melalui aktivitas otot dari wajahnya dengan rumus matematika.  Kemudian dianalisis untuk menentukan apakah subjek bersangkutan punya kecenderungan autisme dan gangguan komunikasi. Aplikasi yang dinamakan “Autism & Beyond” ini, akan disediakan bagi keluarga akademik yang tertarik untuk ikut serta mendownload secara cuma-cuma di Apple APP Store yang akan berlangsung selama 6 bulan.

Menurut peneliti terkait, bahwa melalui kamera ponsel Apple yang telah mendownload perangkat Autism & Beyond” ini akan menganalisis gejala autis anak-anak, program gambar dalam perangkat lunak tersebut dapat mengkalkulasi reaksi emosional dan ketrampilan sosial mereka.

Profesor teknik listrik dan komputer di Duke University, Guillermo Sapiro mengatakan : “Unsur inti dari aplikasi ini adalah menganalisis emosi, perasaan atau suasana hati seseorang.” Dan prinsip kerja dari aplikasi ini bisa secara otomatis mendeteksi ekspresi wajah melalui emosional yang telah diklasifikasi dan dari kepala bersangkutan.”

Program deteksi autisme ini diperuntukkan bagi keluarga yang kemungkinan memiliki anak-anak autis agar bisa menyaringnya sendiri atas gejala terkait, namun, perlu saya tekankan, jangan melihat benda itu sebagai suatu alat yang dapat mendiagnosis sendiri atas gejala autisme, kata Sapiro menambahkan.

Menurut The American Autism Association, bahwa situasi hambatan komunikasi penderita autis kerap muncul semasa kanak-kanak, karakteristik dari gejala ini adalah tidak bisa kontak mata secara langsung (berhadapan) dengan orang lain, tidak bisa merespon panggilan orang lain, memainkan mainan dengan cara yang tidak lazim atau selalu mengulangi mainannya. (Epochtimes/jhon/asr)

Share

Video Popular